Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Tidak akan melupakannya


__ADS_3

Wajah Hana kian memerah. "Benarkah seperti itu? Agh kalau begitu aku ingin kau tidak lupa setiap hari dengan absen pagimu." Seloroh Hana.


Dika tersenyum. Sebelah tangannya pun terangkat mengelus rambut Hana. "Kau tenang saja. Aku tidak akan melupakannya." Balasnya.


"Kau semakin manis saja." Ucap Hana lalu memeluk erat tubuh Dika barang sejenak.


Dika tersenyum lalu membalas pelukan Hana. "Aku keluar dulu. Pastikan kau bekerja tidak terlalu lelah." Pesan Dika.


Hana mengangguk mengiyakan. Setelah Dika berlalu dari dalam ruangan kerjanya, Hana pun berjalan ke arah kursi kerjanya. Senyuman di wajahnya tak pernah luntur saat mengingat betapa manisnya sikap Dika akhir-akhir ini.


"Terimakasih Tuhan karena engkau telah mengembalikan Dika yang hangat seperti sebelumnya." Ucap Hana penuh rasa syukur.


*


Saat jam istirahat tiba, Hana memutuskan untuk ikut dengan Fitri dan Arka makan siang di kantin rumah sakit setelah mendapatkan izin dari Dika yang tengah sibuk bekerja di perusahaan saat ini.


"Saya masih saja tidak menyangka jika Dokter Hana adalah istri dari Dokter Dika. Terlebih saat ini Dokter Hana tengah mengandung anak Dokter Dika. Ucap Fitri setelah mereka memesan makanan makan siang pada penjual kantin.


Hana tersenyum mendengarnya. "Aku pun tidak menyangka. Namun itulah takdir, sejauh apa pun kita melangkah kita akan tetap kembali pada yang menjadi takdir kita." Balas Hana.

__ADS_1


Fitri tersenyum mendengarnya. Pandangannya pun turun pada perut Hana yang terlihat sedikit membuncit. "Karena hamil anak kembar perut Dokter sudah terlihat berisi." Ucap Fitri.


Hana mengangguk membenarkan. "Kau benar. Jika pada ibu hamil pada umumnya di usia kandungan sepertiku biasanya bentuk perut mereka belum terlihat." Balas Hana.


Fitri dan Arka pun mengangguk membenarkan.


"Apa Dokter Dika jadi menjemputmu pulang siang ini, Hana?" Tanya Arka.


"Seharusnya begitu. Namun sepertinya saat ini Dika masih sibuk di perusahaan dan mungkin telat menjemputku." Balas Hana.


Arka mengangguk paham. "Apa yang dilakukan Dokter Dika benar dengan melarangmu bekerja terlalu lelah. Karena saat ini kondisi tubuhmu mudah lemah dan akan berbahaya jika terlalu dipaksakan bekerja."


"Ya... namun entah mengapa setelah kedatangan Dika menemuiku beberapa hari yang lalu membuat aku merasakan tubuhku lebih bertenaga. Bahkan gejala mualku di pagi hari sudah mulai berkurang." Terang Hana.


"Sepertinya begitu." Hana pun tersenyum lebar mengingat kembali hadirnya Dika yang seolah menjadi obat di tubuhnya.


Mereka pun mulai menyantap makan siang masing-masing setelah penjual kantin menghidangkan makanan di atas meja. Di tengah nikmatnya Hana menyantap makan siangnya, Hana menghentikan sendokannya saat mendengar bisik-bisik pegawai rumah sakit kini tengah menceritakan kedekatannya dengan Dika.


"Aku yakin jika Hana yang berusaha mendekati Dokter Dika." Ucap salah satu Dokter senior yang berada tidak jauh dari tempat duduk mereka.

__ADS_1


Hana menahan kepalanya agar tetap diam dan tak menoleh pada orang-orang yang tengah membicarakannya.


"Dokter benar. Tidak mungkin Dokter Dika yang mengejarnya. Dia pasti telah melakukan hal yang tidak-tidak sampai akhirnya membuat Dokter Dika terjebak dengannya." Tambah yang lainnya.


Mendengar ucapan tak bermanfaat dari beberapa orang di belakangnya membuat Fitri memutar kepalanya hingga melihat dengan jelas siapakah sosok yang tengah menceritakan Hana.


"Sudahlah... tidak perlu memperdulikan mereka." Ucap Hana melihat Fitri yang sudah begitu geram pada orang-orang di belakang mereka.


***


Lanjut?


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2