Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Pria sibuk


__ADS_3

"Kau benar. Dia adaah Tuan Rangga calon pemimpin perusahaan Dharma." Balas Gerry.


Gerry dan William terdiam sesaat lalu melangkah mendekat pada Rangga yang kini duduk membelakangi mereka.


"Tuan Rangga..." ucap Gerry setelah berada di hadapan Rangga dan Rey.


"Tuan Gerry?" Balas Rangga merasa terkejut melihat Gerry yang kini berada tepat di depannya.


"Papah..." ucap Rey dengan wajah datarnya.


"Papah?" Ulang Rangga. Perhatian Rangga pun kini terisi penuh dengan wajah Rey. "Apakah Rey adalah putramu Tuan Gerry?" Tebak Rangga setelah menyadari sesuatu.


Gerry mengangguk sebagai jawaban.


"Pantas saja saya tidak merasa asing dengan wajahnya." Ucap Rangga.


Gerry tersenyum mendengarnya. "Wajah Rey adalah duplikat saya." Balasnya merasa bangga.


Rangga pun mengangguk membenarkan. Perhatiannya teralihkan pada William yang berada di belakang Gerry. "Tuan William?" Ucap Rangga.


Gerry menggeser tubuhnya hingga Rangga dapat melihat jelas wajah William. "Ya, Tuan Rangga." Balas William.


Rangga mengulurkan tangannya yang dengan cepat disambut oleh William.


"Bukankah seharusnya anda berada di Amerika saat ini?" Tanya William yang cukup mengetahui kehidupan Rangga saat ini.


Rangga mengangguk. "Saya pulang karena ada hal penting yang harus saya kerjakan." Balas Rangga.


"Apa anda masih lama berada di sini?" Tanya Gerry.

__ADS_1


Rangga menggeleng. "Besok saya sudah kembali ke Amerika." Balasnya.


Gerry mengangguk paham dan tak lagi bertanya seputar kehidupan Rangga. Pandangannya pun beralih pada Rey yang nampak diam tanpa memperdulikan interaksi di antara mereka.


"Rey, kenapa pergi tidak bilang-bilang? Apa kau tahu Mama mencemaskanmu?" Tanya Gerry.


Rey menatap datar pada Gerry. "Maaf, Papa." Balasnya singkat.


Gerry menghela nafasnya. Berbicara dengan putranya ini harus memiliki kesabaran yang cukup besar.


"Putramu sungguh tampan dan jenius." Puji Rangga.


Gerry tersenyum mendengarnya. "Dia adalah cerminan saya." Ucapnya merasa bangga.


Rangga tersenyum tipis. Sangat tipis hingga Gerry tak dapat melihatnya.


"Kenapa buru-buru sekali? Kita bahkan belum sempat berbicara panjang lebar." Ucap Gerry.


"Ada seseorang yang harus saya temui sebentar lagi. Lain waktu kita bisa berbicara panjang lebar jika bertemu lagi." Ucap Rangga.


Gerry mengangguk saja. Ia tahu betul bagaimana sibuknya Rangga saat ini. Di usianya yang masih muda Rangga sudah memimpin perusahaan cabang keluarganya di negara A dan sekaligus melanjutkan pendidikannya di sana.


Pertemuan mereka siang itu pun berakhir setelah Rangga berpamitan untuk pulang beserta asistennya— Jo.


"Ayo kita kembali ke dalam." Ajak Gerry pada Rey.


"Jalan saja." Ucap Rey singkat.


Gerry mengangguk dan membiarkan putranya berjalan.

__ADS_1


"Kau tidak ingin menggendongnya?" Cibir William.


Gerry menggeleng. "Biarkan saja. Dia merasa sudah besar dan tak pantas lagi digendong." Ucap Gerry lalu tertawa kecil di akhir ucapannya.


"Aku seperti melihat Dika ke-dua di dalam diri putramu." Seloroh William.


Gerry menaikkan sebelah alis matanya. "Aku rasa kita sepemikiran." Ucapnya lalu melangkah mengikuti langkah Rey.


"Mamah..." panggil Rey pada Kyara yang nampak cemas sambil menepuk bokong Baby Rachel.


"Rey..." ucap Kyara pelan. Hembusan nafas Kyara terdengar lega melihat putranya telah kembali. "Kau dari mana saja? Apa kau tahu Mama sangat mencemaskanmu?" Tanya Kyara.


"Rey baru saja bertemu dengan Tuan Rangga, Sayang." Jawab Gerry tampa diminta.


"Tuan Rangga?" Tanya Kyara merasa bingung.


***


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.

__ADS_1


__ADS_2