Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Alasan meninggalkannya


__ADS_3

"Dengan..." ucapan Dika terhenti saat mendengar suara rengekan Arfan.


"Mommy... ayo kita ke kamar..." Arfan menarik ujung baju yang Amel kenakan.


"Arfan... tunggu sebentar." Amel berusaha menenangkan putranya yang terus merengek.


"Mommy..." Arfan semakin merengek sambil mengucek kedua matanya.


"Sayang... lebih baik kau bawa Arfan ke kamar sebelum dia menangis." Tutur Zaki.


Amel menghela nafas lalu mengangguk. Niatnya yang ingin mencecar Dika dengan banyak pertanyaan akhirnya sirna begitu saja. Amel pun berpamitan pada Gerry, Dika dan William untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Tuan Zaki, kalau begitu kami pamit dulu." Ucap Gerry setelah kepergian Amel.


Zaki mengangguk lalu mengantarkan mereka ke depan rumah.


*

__ADS_1


"Dika, apa Amel tidak tahu jika Hana sudah menikah?" Tanya Gerry yang sejak tadi merasa penasaran dengan pertanyaan Amel.


Dika mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu." Balasnya singkat. Ia pun cukup terkejut karena Amel belum mengetahui tentang pernikahannya dan Hana.


"Sungguh aneh. Bukankah mereka bersahabat, tapi bagaimana bisa Hana tidak memberitahu tentang pernikahannya pada sahabatnya?" Di kursi belakang Gerry dan William saling menggelengkan kepala tak percaya.


"Jika kau merasa penasaran, kau tanyakan saja langsung kepadanya." Ucap Dika.


Gerry mendengus. "Tidak ada jawaban yang bisa aku dapatkan jika bertanya pada Hana." Cetusnya. Gerry pun tak lagi mempertanyakan tentang kebingungannya pada Dika dan lebih memilih membahas tentang istrinya dan kedua bayinya pada William.


*


"Aku heran bagaimana bisa wanita pengkhianat sepertimu bisa diterima kembali oleh Dika bahkan Dika mau menikahimu." Ucap Liza yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Hana.


Hana membalikkan tubuhnya. Menatap malas pada Liza yang kini tengah menatapnya dengan tatapan menyebalkan di matanya. "Aku juga heran dengan wanita sepertimu yang terlalu ikut campur dengan urusan orang lain." Cetus Hana.


Liza tersenyum sinis. "Aku akan selalu ikut campur jika itu tentang Dika."

__ADS_1


"Harusnya kau sadar jika sejak dulu Dika tidak pernah melirikmu sama sekali. Kau sudah seperti wanita yang tidak laku saja hingga selalu mengejarnya." Cibir Hana.


"Jaga ucapanmu!" Suara Liza terdengar meninggi. "Kau yang harusnya sadar siapa dirimu dan apakah pantas wanita dari keluarga berantakan seperti dirimu pantas bersanding dengan Dika yang statusnya dari keluarga terpandang!" Liza menatap nyalang pada Hana.


Hana dibuat tertegun. Lagi, ia harus mendengarkan ucapan menyakitkan itu dari Liza. "Jika aku tidak pantas bersanding dengan Dika, jadi siapa yang pantas untuk Dika, kau?" Hana mendorong bahu Liza dengan jari telunjuknya.


"Tentu saja!" Liza menghempaskan jari Hana yang masih berada di bahunya. "Keluargaku lebih sebanding dengan keluarga Dika dibandingkan dirimu! Apa kau tahu sejak kecil aku dan Dika itu sudah ingin dijodohkan namun karena kehadiran dirimu membuat Dika menolak perjodohan kami setelah ia dewasa!" Geram Liza.


Hana tersenyum sinis. "Kau harusnya sadar jika Dika itu bukanlah jodohmu! Buktinya sampai saat ini dia tidak pernah melirikmu bahkan saat ini dia sudah sah menjadi suamiku." Balas Hana.


"Diam kau ja-lang!" Liza yang tersulut emosi mendengar ucapan Hana mendorong kasar kedua bahu Hana. "Sadarlah dengan status keluargamu dan tinggalkan Dika!" Amuknya.


"Kau..." Hana yang ikut tersulut emosi pun membalas perlakuan Liza. "Mungkin dulu kau bisa memprovokasi aku untuk meninggalkan Dika dengan membawa status keluargaku. Namun tidak untuk saat ini. Sampai kapan pun aku akan tetap mempertahankan pernikahan kami." Ucap Hana dengan tegas walau dalam hatinya ia tidak yakin.


"Apa? Jadi Hana meninggalkan Dika karena Liza?" seseorang yang sejak tadi mendengar percakapan Hana dan Liza dibuat terkejut mendengar ucapan Hana baru saja.


***

__ADS_1


Buat teman-teman online semua SHy ucapkan mohon maaf lahir dan bathin. Selamat merayakan hari raya idul fitri bagi yang merayakannya🌹


__ADS_2