
Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mobil Dika pun sampai di depan rumah. Dengan terburu-buru Dika keluar dari dalam mobilnya lalu berjalan dengan langkah lebar masuk ke dalam rumah. Melihat tidak ada tanda-tanda Hana berada di lantai satu rumahnya, Dika pun segera menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Ceklek
Suara pintu yang terbuka dari luar membuat Hana yang sedang fokus memainkan ponselnya menatap ke sumber suara. "Dika? Kau sudah pulang?" Hana tersenyum lebar lalu turun dari ranjang.
Dika melangkah lebar ke arah Hana yang baru turun dari ranjang lalu menatap Hana dari atas sampai bawah. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Dika. Wajah dingin dan kakunya nampak camas menatap Hana.
Kening Hana mengkerut bingung lalu ia pun mengangguk. "Aku baik-baik saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Hana.
"Tentu saja aku bertanya seperti itu karena kau membuatku khawatir." Balas Dika lalu mengecup kening Hana.
"Aku membuatmu khawatir?" tanya Hana semakin bingung.
Dika mengangguk. "Tentu saja aku khawatir bahkan sangat khawatir saat kau memintaku untuk pulang namun tidak menyebutkan alasannya. Di sepanjang jalan aku selalu mencemaskanmu yang kini sendirian di rumah." Jelas Dika.
Kebingungan di wajah Hana luntur seketika. "Agh, Sayang. Maafkan aku." Hana menunduk menyesali permintaannya yang tidak jelas hingga membuat Dika khawatir.
__ADS_1
"Sekarang katakan ada apa kau memintaku untuk pulang?" Tanya Dika tanpa memperdulikan permintaan maaf Hana.
"Itu karena aku..." wajah Hana nampak memerah dan malu-malu sambil menatap pada Dika.
"Karena apa, Sayang?" Tanya Dika tak sabar.
"Karena aku merindukanmu." Ucap Hana lalu dengan cepat memeluk erat tubuh Dika.
Dika tertegun sesaat mendengar ucapan Hana. Kekhawatiran di wajahnya luntur seketika saat mengetahui alasan istrinya memintanya untuk pulang hanya karena merindukannya. Tidak tahukah Hana saat di perjalanan tadi ia sampai tidak memperdulikan keselamatannya karena terlalu mengkhawatirkannya? Pikir Dika.
Wajah Dika seketika berubah gemas menatap wajah Hana yang nampak malu-malu karena menginginkan sesuatu.
Dika menjauhkan tubuh Hana dari tubuhnya hingga kini ia dapat melihat dengan jelas wajah malu-malu mau Hana. "Kau merindukanku atau juga merindukan yang lainnya, hem?" Goda Dika.
"Yang lainnya juga. Entah mengapa sejak pulang dari rumah sakit tadi aku sangat menginginkan dirimu." Balas Hana sambil menunduk.
Dika hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan polos istrinya. "Kau merindukan sentuhanku?" Tanya Dika memperjelas ucapan Hana.
__ADS_1
Dengan malu-malu Hana pun mengangguk. "Sangat menginginkanmu." Balas Hana lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena sangking malunya dengan permintaan mesumnya.
Dika menarik tubuh Hana hingga kembali berada di dalam dekapannya. "Kenapa kau tidak berkata jujur saja hingga aku tidak perlu cemas seperti tadi?" Ucap Dika lalu mengecup kening Hana.
"Bisakah kau tidak lagi membahasnya dan melakukan apa yang aku inginkan?" Tanya Hana yang sudah tidak sabar.
Dika tersenyum lalu mengangguk. "Tapi aku tidak bisa lama." Ucapnya.
"Kenapa?" Wajah Hana seketika murung.
"Usia mereka masih sangat muda di dalam perutmu dan aku sangat takut menyakiti mereka." Ucap Dika yang masih mengkhawatirkan kondisi kandungan Hana saat ini.
"Mereka sudah baik-baik saja. Ayo cepat lakukan." Ucap Hana lalu dengan cepat membungkam bibir Dika dengan bibir mungilnya.
***
Lanjut?
__ADS_1