
"Lalu apa yang kau cemaskan?" Tanya Dika.
"Tentu saja aku merasa cemas karena aku belum memikirkan cara agar pernikahan kita tidak diketahui oleh kedua sahabatku." Ucap Hana tanpa sadar.
"Apa?" Dika menolehkan wajahnya ke samping. Menatap Hana dengan tatapan tak bersahabat.
Menyadari kesalahannya membuat Hana menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Jika kau saat ini kesulitan untuk memikirkan cara menutupi pernikahan ini maka untuk ke depannya kau jangan lagi coba-coba untuk menutupi apa pun dari kedua sahabatmu karena itu akan menyulitkan dirimu sendiri." Tekan Dika. Pandangannya kembali lurus ke depan dengan wajah semakin dingin.
Hana menghela nafas sesaat menyadari perubahan wajah Dika. Dika memang benar jika ia akan menyulitkan dirinya sendiri jika menyembunyikan sesuatu dari kedua sahabatnya. Namun di balik itu semua, Hana memiliki alasan tersendiri kenapa sampai saat ini belum bisa mengungkapkan pernikahannya kepada Anin dan Amel.
Perjalan menuju apartemen terasa singkat saat Dika melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. "Turunlah." Ucap Dika tanpa menatap pada Hana.
"Apa kau tidak ingin turun?" Tanya Hana.
"Apa kau ingin keberadaanku nantinya akan membuatmu bertambah sulit untuk berbohong?" Sindir Dika.
__ADS_1
Hana terdiam lalu mengangguk. "Aku turun dulu." Pamitnya.
Dika hanya diam tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Bahkan ia tak sedikit pun menganggukkan kepalanya hanya sekedar untuk mengiyakan ucapan istrinya.
"Jika aku bisa, aku juga tidak ingin menutupi pernikahan kita. Aku menutupinya karena aku tidak ingin menambah pikiran kedua sahabatku tentang pernikahan dadakan kita." Wajah Hana berubah sendu menatap mobil Dika yang semakin jauh dari pandangannya.
Hana melangkah dengan tidak bersemangat memasuki apartemennya. Pemikirannya terus bertanya-tanya apakah Dika kecewa dengan keputusannya menyembunyikan status pernikahan mereka atau tidak.
Ting
Suara notifikasi pesan masuk membuat Hana tersadar dari lamunannya. Hana mengeluarkan ponsel yang masih berada di dalam tas selempangnya lalu menghidupkan layarnya. "Apa? Mereka sudah hampir dekat?" Kedua mata Hana membola membaca pesan yang dikirimkan Amel dan Anin di grup mereka bertiga.
Pandangannya mengedar memperhatikan sekitarnya. Apartemennya masih bersih dan tertata rapi hingga tidak ada yang harus ia bersihkan untuk menyambut kedatangan Amel dan Anin beserta anak-anak mereka.
Hana pun melangkah ke arah dapur. Ia berniat membuatkan makanan untuk kedua sahabatnya dengan bermodalkan ilmu masakan dari mertuanya dan bahan-bahan masakan yang ada di dalam kulkasnya.
*
__ADS_1
Bel apartemen yang terdengar berbunyi membuat Hana buru-buru melangkah ke arah pintu dengan senyuman terkembang di wajah cantiknya.
"Hana..." Amel dan Anin buru-buru memeluk Hana secara bersamaan saat pintu sudah terbuka.
"Amel... Anin..." Hana tak dapat membendung air matanya saat mendapatkan pelukan hangat dari kedua sahabatnya. Pelukan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak kedua sahabatnya memilih ikut bersama suami mereka tinggal di luar kota.
"Hana... kenapa kau menangis?" Tanya Amel.
"Kau juga menangis." Balas Hana seraya tersenyum.
"Dan Anin juga." Ucap Amel memperhatikan wajah Anin yang sudah basah.
Mereka pun saling pandang lalu tersenyum bersamaan.
"Aku sangat merindukan kalian..." lirih Hana lalu kembali memeluk tubuh Amel. Anin pun turut memeluk tubuh Hana hingga mereka bertiga kembali berpelukan.
***
__ADS_1
Lanjut? Mana ini dukungan vote, komen, hadiah dan likenya🤗
Jangan lupa follow IG SHy ya : @shy1210_ untuk mengetahui informasi update☺️