
"Makanlah. Melihatnya saja tidak akan membuatmu kenyang." Ucap Dika.
Hana menatap Dika yang kini tengah menatapnya. "Kau tidak memasukkan racun ke dalam mie ini bukan?" Tuduh Hana.
"Jika kau takut tidak usah memakannya. Lagi pula kau masih memiliki banyak pekerjaan selain meracuni wanita sepertimu." Balas Dika.
Wajah Hana berubah masam. Kini ia menatap Dika dengan sengit. "Jika tidak lapar aku tidak akan memakannya." Cetusnya.
Dika tak lagi membalas ucapan Hana yang menurutnya tidak penting. Ia lebih memilih kembali melanjutkan memakan mienya yang belum habis setengahnya.
Wajah Hana masih masam. Namun tidak membuatnya tak menyantap semangkok Mie yang terlihat sangat menggoda di depannya saat ini.
Enak sekali. Maknyus! Batin Hana merasakan nikmatnya bumbu kaldu dari mie rebus yang kini sedang ia makan.
Merasakan mie rebus buatan Dika semakin terasa nikmat di dalam mulutnya, tanpa sadar Hana memakannya begitu cepat hingga ia lebih dulu menghabiskan mienya dari pada Dika.
"Mienya enak sekali!" Puji Hana tanpa sadar.
Dika menarik sebelah bibirnya ke kuping mendengar pujian Hana. "Jika kau masih ingin, kau bisa memakan mieku." Tawar Dika dengan nada mengejek.
Hana terbelalak. Ia tersadar jika baru saja memuji nikmatnya mie buatan Dika. Pandangan Hana jatuh pada mangkok Dika yang masih berisi mie.
"Kau sangat lamban sekali hanya memakan mie." Cibir Hana.
__ADS_1
"Aku tidak terlalu cepat. Kau saja yang seperti kesetanan memakannya." Balas Dika.
Wajah Hana memerah. Menyadari jika tadi ia menghabiskan mienya dengan kesetanan.
Agh, malu sekali! Rutuk Hana karena Dika justru membalas cibirannya.
Dika kembali melanjutkan menghabiskan mie di dalam mangkuk di tangannya. Setelah siap, Dika pun bangkit lalu mengambil mangkuk mie Hana.
"Eh, kau ingin membawanya kemana?" Tanya Hana menahan pergelangan Dika yang hendak berlalu dari hadapannya.
Dika memperhatikan tangan Hana yang kini memegang erat tangannya. Menyadari pandangan Dika, Hana segera melepaskan cekalan tangannya.
"Aku ingin membawanya ke dapur untuk dicuci." Jelas Dika.
*
Malam semakin larut, Hana dan Dika pun masuk ke dalam kamar masing-masing setelah menghabiskan waktu di ruang tamu dengan hanya memainkan ponsel masing-masing.
Hana menjatuhkan kasar tubuhnya di atas ranjang. Jarinya pun memegang bibirnya. Kenikmatan sapuan hangat bibir Dika masih teringat jelas di benaknya.
"Ini benar-benar gila! Kenapa ciumannya seperti narkoba? Membuatku candu saja!" Amuk Hana. Kemudian menepuk kepalanya karena terus berpikiran kotor.
"Dika..." bibir Hana tiba-tiba tersenyum. Ia pun kembali menepuk bibirnya karena telah menyebut nama Dika dengan senyumana.
__ADS_1
Hana bangkit dari pembaringan. Menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang tertuju pada wajah Dika.
"Jika begini terus aku bisa gila!" Hana menggelengkan kepalanya. Mengusap-usah kepalanya agar bayangan wajah Dika hilang dari benaknya.
Tak ingin larut dalam bayangannya tentang Dika, Hana kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang lalu menutup wajahnya dengan bantal.
"Kulkas menyebalkan! Bisa-bisanya kau berani masuk ke dalam pemikiranku!" Rutuk Hana sambil menepuk kakinya di atas ranjang.
Tak berbeda jauh dengan Hana, di dalam kamarnya Dika pun turut membayangkan wajah Hana. Wajah wanita yang akhir-akhir ini mengacaukan pemikirannya akibat kebohongan yang wanita itu ciptakan.
"Wanita gila!" Lirih Dika mengingat bagaimana tadi Hana menantangnya.
***
Hayo... seberapa banyak dukungan teman-teman untuk lanjut ke bab berikutnya?
Like
Komen
Vote
Gift dalam bentuk poin, yuk🌹🤍
__ADS_1