Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Perlakuan hangat Dika


__ADS_3

"A-aku..." Hana kesulitan untuk berbicara saat melihat tatapan mata Dika yang berubah hangat kepadanya.


"Sepertinya kau benar-benar lelah." Dika mengelus lembut rambut Hana yang tergerai hingga membuat Hana begitu tertegun.


"Dika, jika Hana lelah bawalah dia untuk istirahat di kamar. Lagi pula kalian baru pulang dari bekerja dan butuh istirahat." Tutur Mama Puspa.


Dika menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Mama Puspa. "Ayo ke kamar." Dika bangkit dari duduknya lalu mengulurkan sebelah tangannya pada Hana.


Hana dengan ragu menerima uluran tangan Dika. Genggaman lembut tangan Dika kembali mengingatkannya pada sosok Dika beberapa tahun yang lalu saat Dika masih menjadi kekasihnya.


"Mama... Papa... Om, Hana pamit ke kamar dulu." Ucap Hana dengan sedikit gugup.


Mama Puspa tersenyum saat melihat genggaman tangan Dika di tangan Hana. "Mama akan membangunkan kalian untuk makan malam nanti." Ucap Mama Puspa dengan lembut.


Hana dan Dika mengangguk sebagai jawaban. Dika pun melangkah lebih dulu menyeret koper Hana sambil memegang tangan Hana. Seolah tak ingin melepas genggaman tangannya di tangan Hana saat menaiki tangga, Dika memilih naik ke kamarnya menggunakan lift.

__ADS_1


Liza menatap kepergian Hana dan Dika dengan tatapan penuh kebencian pada Hana. Niatnya yang ingin kembali mencoba mendekati Dika pupus begitu saja saat mengetahui Dika sudah menikah bahkan Dika tak ingin disentuh oleh wanita lain selain istrinya dan Mamanya.


Kau tidak boleh menyerah Liza. Gunakan waktu satu bulan ini untuk menjerat Dika jatuh ke dalam pelukanmu. Lagi pula wanita ja-lang itu tidak akan pernah pantas mendampingi Dika walau saat ini dia sudah menjadi Dokter. Liza menggeram dalam hati. Tak ingin kebenciannya pada Hana terlalu terlihat, ia pun kembali memfokuskan pandangan pada Papa Indra dan Papanya.


*


"Dika..." Hana berucap lirih sambil menatap tangan Dika yang masih terus menggenggam tangannya setelah keluar dari dalam lift. Kaki mungilnya pun dengan susah berjalan mengikuti langkah kaki Dika yang lebar.


"Istirahatlah." Ucap Dika lalu melepaskan genggaman tangannya. Dika berjalan ke arah lemari lalu meletakkan koper Hana di sebelahnya.


Kebingungan Hana perlahan sirna berganti dengan kekaguman saat matanya mulai memperhatikan isi kamar Dika yang tersusun begitu rapi. Begitu pula dengan luas kamarnya melebihi ukuran kamar mereka di rumah baru milik Dika.


Sebelumnya aku juga pernah berteman dengan orang kaya di sekitarku. Namun aku tidak tahu jika masih ada Dika yang jauh lebih kaya dari teman-temanku dulu. Ucap Hana dalam hati.


Melihat Dika tengah berjalan ke arah ranjang setelah mengganti pakaiannya, membuat Hana segera menjatuhkan bokongnya di sisi ranjang.

__ADS_1


"Bukankah kau lelah dan ingin istirahat?" Tanya Dika dengan wajah yang sudah kembali dingin.


Hana menganggukkan kepalanya. "A-aku akan istirahat." Hana buru-buru membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan membelakangi tubuh Dika.


Ada untungnya juga aku pulang lebih awal jadi aku bisa merasakan tidur siang. Ucap Hana begitu senang dalam hati.


"Kita akan tinggal di rumah orang tuaku selama satu bulan." Ucap Dika tiba-tiba.


Rasa kantuk Hana pun sirna begitu saja. Hana membalikkan tubuhnya hingga kini ia dapat melihat dengan jelas wajah Dika yang berada tak jauh darinya.


"Kenapa kita tinggal di sini?" tanya Hana dengan wajah bingung.


***


Lanjut? Berikan dukungan Vote, like dan komennya dulu untuk hari senin ya😊

__ADS_1


__ADS_2