Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Mendadak sekali


__ADS_3

Tepat satu minggu Dika berada di luar kota keluarga Liza pun berpamitan untuk pulang ke rumah baru mereka. Dengan perasaan yang masih tidak rela mau tidak mau Liza pun menuruti keinginan kedua orang tuanya karena tidak ada lagi alasan ia tinggal di rumah Dika. Terlebih beberapa hari yang lalu ia dibuat malu dengan perkataan Hana yang mengatakan jika ia hanya menumpang di rumah Dika.


Berbeda dengan Liza yang diliputi rasa kesal, Hana justru bernafas lega karena ia tidak lagi melihat wajah Liza yang membuat emosinya acap naik ke ubun-ubun. Di tengah perasaan leganya, Hana juga merasakan perasaan kesepian karena Dika belum jug menunjukkan tanda-tanda akan pulang di hari ke tujuh ia pergi ke luar kota.


"Walau pun aku hanya disuguhi wajah datarnya setiap berada di kamar, namun itu cukup menyenangkan dibandingkan aku harus sendirian di kamar ini." Ucap Hana sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Hana pun membuka aplikasi pesannya berharap ada satu notifikasi dari suaminya. Namun apa yang ia harapkan sirna sudah karena Dika tak kunjung mengirimkan pesan padanya.


"Apa pekerjaannya terlalu banyak hingga dia belum pulang sampai hari ini?" Gumam Hana bertanya-tanya. Hana menghembuskan nafas kasar di udara. Rasanya sangat ingin jemarinya mengetikkan suatu pesan di aplikasi ponselnya untuk Dika. Namun niat itu tak kunjung terlaksana sebab gengsinya yang terlalu tinggi.


"Sudahlah. Lebih baik aku tidur saja." Gumamnya lalu meletakkan ponselnya begitu saja di sisi ranjang. Tak memakan waktu lama Hana pun mulai terlelap dalam tidurnya.


Tak berselang lama, tepat pukul sebelas malam seseorang nampak memasuki kamar dengan hati-hati agar tidak membangunkan sosok yang tengah terbaring di atas ranjang. Sosok itu pun memilih membersihkan tubuhnya lebih dulu sebelum bergabung dengan sosok istirnya di atas ranjang.

__ADS_1


*


"Dika..." Hana dibuat terkejut saat membuka kedua kelopak matanya melihat wajah Dika yang kini tepat berada di depan wajahnya.


Mendengar suara Hana yang cukup besar membuat Dika terjaga dari tidurnya. Ia lepaskan tangannya yang masih memeluk pinggang Hana lalu meregangkan otot-ototnya tanpa bersuara.


"Kau sudah pulang?" Tanya Hana dengan wajah yang masih terkejut.


"Seperti yang kau lihat." Balas Dika singkat.


"Pukul sebelas malam."


Hana menghela nafas sesaat lalu beranjak turun dari ranjang. Rasanya akan percuma saja memberi banyak pertanyaan pada suaminya itu.

__ADS_1


"Siapkan baju-bajumu. Siang nanti kita akan berangkat ke Bali." Ucap Dika tiba-tiba hingga membuat langkah Hana terhenti.


Hana membalikkan tubuhnya. "Kita akan pergi hari ini? Kenapa mendadak sekali? Aku bahkan belum mengajukan cuti di rumah sakit." Ucap Hana.


"Keberangkatan kita tidak mendadak karena aku sudah mengaturnya." Dika pun turut turun dari ranjang. Berjalan ke arah Hana tanpa melepaskan tatapan mata mereka yang kini beradu. "Untuk cutimu di rumah sakit kau tidak perlu memikirkannya karena aku juga sudah mengurusnya." Terang Dika.


"Apa? Tapi bagaimana bisa?" Hana kembali dibuat terkenut.


"Tidak perlu memikirkannya. Siapkan baju-bajumu segera karena waktu kita tidak banyak." Tekan Dika.


"Tapi..." ucapan Hana terputus saat melihat tatapan tajam dari Dika. "Baiklah. Aku akan melakukannya." Ucapnya kemudian tak ingin membantah ucapan Tuan suaminya itu.


Kenapa dia selalu saja bersikap seenaknya tanpa meminta pendapatku lebih dulu?

__ADS_1


***


__ADS_2