Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Apa sudah mau keluar?


__ADS_3

"Namun tetap saja perkiraan dokter itu bisa saja salah." Pungkas Dika.


Hana menghembuskan nafas sesaat. "Aku tahu. Namun jika prediksinya salah, aku masih memiliki Mama di sini yang bisa mengabarimu jika mereka sudah mendesak ingin lahir." Ucap Hana sambil mengelus perutnya.


"Jika bisa aku ingin membawamu kemana pun aku pergi." Ucap Dika yang turut mengelus perut buncit Hana.


Hana mengusap lengan Dika dengan tangannya yang bebas. "Percayalah jika aku dan anak kita akan baik-baik saja." Ucap Hana mencoba menenangkan Dika.


Helaan nafas Dika kian melambat. "Baiklah. Tapi ingat kabari aku di setiap aktivitasmu." Pinta Dika.


Hana mengangguk. "Aku akan selalu mengabarimu." Jawabnya.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Dika lalu memberikan ciuman singkat di kening Hana.


"Hati-hati. Kabari aku jika sudah sampai." Balas Hana.


"Pastinya, Sayang." Ucap Dika seraya tersenyum. Setelahnya Dika pun berjalan ke arah mobilnya lalu masuk ke dalam mobil.


Setelah mobil Dika melaju meninggalkan perkarang rumah, Hana pun masuk ke dalam rumah.


"Dika sudah berangkat?" Tanya Mama Rita yang baru saja keluar dari dapur.

__ADS_1


Hana mengangguk. "Baru saja berangkat, Ma. Mama habis apa dari dapur?" Tanya Hana.


"Mama hanya ingin melihat bahan-bahan masakan untuk nanti siang. Ternyata banyak yang sudah habis. Sepertinya Mana akan berangkat ke pasar pagi ini."


"Agh, Hana sampai lupa memeriksa bahan-bahan masakan. Kalau begitu ayo Hana temani Mama pergi." Ajak Hana.


Mana Rita menggeleng. "Tidak perlu. Kau di rumah saja bersama Bibi. Mama tidak ingin kau kelelahan apa lagi kandunganmu sudah semakin membesar." Tolak Mama Rita.


Bibir Hana mengerucut. Keinginannya yang ingin berbelanja di pasar sirna sudah. Namun mau tidak mau ia pun menuruti perkataan Mama Rita yang tidak mungkin ia bantah.


"Kalau begitu Mama siap-siap dulu." Pamit Mama Rita.


"Iya, Ma."


*


Dug


Sebuah tendangan dari dalam perutnya membuat Hana meringis. "Anak-anak Mommy sangat aktif pagi ini." Ucap Hana sambil mengelus perutnya. Beberapa menit berlalu tendangan dari dalam perutnya pun semakin kuat hingga membuat Hana semakin meringis kesakitan.


Hana pun memilih untuk membaringkan tubuhnya berharap rasa sakit di dalam perutnya segera berkurang. Namun baru beberapa saat berlalu tendangan dari dalam perutnya terhenti, Hana sudah kembali meringis merasakan sakit yang teramat dari dalam perutnya namun bukan akibat tendangan kedua bayinya.

__ADS_1


"Kenapa perutku rasanya sakit sekali?" Gumam Hana sambil memejamkan kedua matanya. Setelah beberapa menit berlalu rasa sakit di dalam perutnya pun semakin bertambah hingga membuat Hana mencengkram erat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


"Apa anak-anak Mama sudah ingin keluar?" Gumam Hana disela kesakitannya.


Tak ingin panik dengan keadaannya saat ini, Hana pun memilih turun dari ranjang dengan susah payah lalu berjalan dengan tertatih keluar dari dalam kamar.


"Bibi..." panggil Hana sedikit berteriak setelah keluar dari dalam kamarnya. "Bibi..." panggil Hana lagi karena tak mendapatkan sahutan dari pelayannya sedangkan perutnya sudah terasa semakin sakit.


"Nyonya Hana?" Ucap pelayan dengan wajah terkejut melihat wajah kesakitan Hana dari lantai bawah.


***


Lanjut?


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2