
Kondisi hati dan tubuhnya yang sedang tidak baik-baik saja setelah mendengarkan ucapan Dika membuat Hana mengerjakan pekerjaannya hingga sore hari dengan tidak bersemangat. Untung saja ia masih memiliki senyuman manis yang menebar pada orang-orang hingga tidak ada satu pun orang yang tahu jika kondisi hatinya saat ini tengah terluka.
Sore itu Hana pulang ke apartemennya dengan langkah tak semangat. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Ucapan Dika beberapa jam yang lalu selalu terngiang di telinganya. Walau pun terkesan menyakitkan, namun Hana sadar atas dasar apa Dika mengatakannya.
Kesadaran Hana pun timbul pada saat membuka pintu apartemen dan mendapatkan lampu di apartemennya dalam kondisi hidup.
"Kenapa bisa hidup? Bukankah tadi aku sudah mematikannya?" Kening Hana mengkerut. Langkahnya pun terasa awas saat memikirkan hal buruk.
Hana meletakkan jas kerjanya di atas sofa lalu semakin melangkah masuk ke dalam apartemennya. Kebingungan Hana semakin bertambah saat mencium aroma masakan dari arah dapur. Tak ingin membuang waktu, Hana segera berjalan cepat ke arah dapur untuk melihat ada apa di sana.
"Mama!" Pekik Hana saat melihat sosok wanita yang sangat dicintainya tengah mengaduk masakan di kuali.
"Hana Sayang... kau sudah pulang." Mama Rita mengecilkan api kompor lalu berjalan mendekat pada Hana.
"Mama..." Hana segera memeluk erat tubuh mamanya saat sudah berada di dekatnya. "Mama... kenapa datang tidak bilang-bilang." Hana mulai menangis di dalam dekapan Mama Rita.
__ADS_1
Mama Rita dibuat bingung. Bukan karena pertanyaan Hana, tapi dengan kondisi putrinya yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Hana... ada apa?" Mama Rita melerai pelukannya hingga kini ia dapat melihat wajah putrinya yang sudah basa oleh air mata. "Hana sayang... kenapa menangis?" Mama Rita menangkup kedua pipi Hana.
"Hana senang Mama datang ke sini." Kilah Hana lalu kembali memeluk erat tubuh Mama Rita seolah menjadi tempat menyalurkan kesedihannya sejak tadi.
Mama Rita menggeleng. Ia tahu pasti putrinya saat ini sedang tidak baik. "Katakan ada apa?" Mama Rita berusaha kembali melerai pelukannya namun Hana menahannya.
"Mama kenapa tidak bilang mau datang ke sini? Hana kan bisa menjemput Mama jika Mama ingin main di sini." Ucap Hana.
Hana seketika melepas pelukannya. "Mama... bagaimana Mama bisa tahu?" Tanya Hana dengan wajah terkejutnya.
Mama Rita mengelus kepala putrinya. "Mama tahu karena Gerry dan William yang memberitahu Mama."
"Apa?" Hana semakin dibuat terkejut.
__ADS_1
"Nak Gerry dan Williamlah yang menjemput Mama ke sini dan memberitahu tentang rencana pernikahanmu dan Dika." Ucap Mama Rita dengan lembut.
"Mama... apa Mama sudah mengetahui alasan Hana untuk menikah?" Wajah Hana semakin sendu.
"Mama sudah mengetahui semuanya, Hana. Dan Mama tidak akan menyalahkanmu dalam masalah ini. Mungkin ini sudah takdirmu menuju jalan untuk menikah." Mama Rita mengelus lembut rambut Hana guna menenangkan pemikiran putrinya.
"Mama..." bibir Hana bergetar menahan isak tangisnya.
"Mama tahu kau mau menikah dengan Dika mantan kekasihmu dulu. Maafkan Mama Hana, karena kesalahan Mama dan Papa kau sampai kehilangan pria yang sangat kau cintai." Ucap Mama Rita menahan sesak di dadanya.
Hana menggeleng cepat. "Tidak. Mama tidak bersalah. Perpisahan Hana dan Dika adalah takdir. Tidak ada yang bersalah dalam hal ini." Ucap Hana tak ingin Mamanya menyalahkan dirinya sendiri.
***
Jangan lupa berikan vote dan giftnya di hari senin ya🌹
__ADS_1