Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Sungguh mencintaimu


__ADS_3

"Apa?" Ucap Hana dengan pelan.


Mama Rita pun menaruh jari telunjuknya di atas bibir agar Hana tak lagi bersuara.


Dika... kenapa kau bisa ada di sini? Tanya Hana dalam hati. Matanya pun menatap intens wajah Dika yang terlihat jelas guratan lelah di sana. Kenapa kau datang menyusulku? Ucap Hana lagi dalam hati bertanya-tanya.


"Hana, Mama pamit keluar sebentar." Ucap Mama Rita sambil berbisik di telinga Hana.


Hana menganggukkan kepalanya seraya tersenyum sebagai jawaban. Setelah kepergian Mama Rita, Hana kembali menatap wajah Dika yang begitu lelap dalam tidurnya. Cukup lama Hana menatap wajah tampan Dika dengan bertanya-tanya dalam hati tentang alasan Dika datang menyusulnya dan mengetahui keadaannya saat ini. Merasa tangannya sudah begitu keram akibat tertimpa kepala Dika, Hana pun dengan perlahan menarik tangannya.


Tanpa Hana duga, pergerakannya itu membuat tidur Dika terganggu hingga akhirnya Dika perlahan membuka kedua kelopak matanya.


"Di-dika... Maaf aku telah mengganggu tidurmu." Sesal Hana menatap wajah Dika dengan gugup.


Bukannya menjawab, Dika justru menegakkan tubuhnya lalu menatap wajah Hana dengan intens. "Maafkan aku Hana..." Ucap Dika seraya menggenggam lembut tangan Hana. Ucapan yang sejak tadi malam sangat ingin ia ucapkan akhirnya terucap sudah.


"Maaf? Untuk apa?" Tanya Hana.


"Maaf karena aku telah menyakitimu. Tidak mengerti isi hatimu selama ini dan aku juga telah mengabaikanmu." Tutur Dika.

__ADS_1


"Dika..." lirih Hana. Pemikirannya saat ini menangkap jika Dika sudah mengetahui keadaanya yang sebenarnya.


"Ku mohon jangan lagi bertingkah bodoh." Ucap Dika lalu memberikan ciuman singkat di bibir Hana yang terbuka. "Mulai saat ini belajarlah untuk mempercayai cintaku saja tanpa memperdulikan ucapan orang lain yang belum pasti kebenarannya." Lanjut Dika lalu beralih mencium kening Hana. Tangan Dika pun terulur mengusap rambut Hana dengan sayang.


"Maafkan aku..." Ucap Hana setelah Dika menjauhkan wajahnya.


"Kau tahu bukan hanya kau saja yang terluka dengan kejadian waktu itu. Aku pun turut terluka." Ucap Dika.


Hana mengangguk pelan. Sedikit banyaknya ia telah mengetahui bagaimana hancurnya Dika setelah hari itu dari informasi yang Gerry berikan.


"Apa benar dia sudah hadir di dalam sini?" Tangan Dika pun beralih mengusap perut Hana.


Hana tertegun saat merasakan sentuhan tangan Dika di perutnya. "Kau mengetahuinya?" Tanya Hana.


Kedua mata Hana mulai mengembun. "Mereka ada dua di sini." Hana menimpali tangan Dika dengan tangannya yang tertancap jarum infus. Tanpa terasa air mata pun mengalir di sudut matanya.


"Sayang..." Dika pun tak dapat menahan rasa harunya. "Aku sangat bahagia. Sungguh bahagia." Ucapnya dengan tersenyum tipis.


"Kau serius?" Senyuman di wajah Hana pun terkembang mendengar ucapan bahagia dari mulut Dika.

__ADS_1


"Tentu saja. Mulai saat ini aku akan menjagamu dan anak-anak kita sekuat dan semampuku. Tidak akan lagi aku biarkan kesedihan memenuhi hati dan pemikiranmu. Karena aku sangat mencintaimu dulu, esok dan selamanya."


"Aku juga mencintaimu, Dika. Sungguh mencintaimu." Balas Hana.


Dika tersenyum lalu membungkuk untuk memeluk tubuh Hana.


Di ambang pintu, Mama Rita nampak tak dapat membendung air matanya melihat kesalahpahaman anak dan menantunya akhirnya selesai sudah. Mama Rita sungguh bersyukur putrinya kini mendapatkan pria pengganti Papanya yang begitu mencintainya.


"Berbahagialah anak Mama..." gumam Mama Rita sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.


***


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.


__ADS_2