
Hana menghentikan langkahnya saat para perawat sudah masuk mendorong brankar Rania masuk ke ruangan persalinan.
"Rania, semoga persalinanmu berjalan lancar." Ucap Hana penuh harap.
Setelah menunggu beberapa saat, seorang perawat pun keluar dari ruangan persalinan. "Bagaimana? Apa Rania sudah mau melahirkan?" Tanya Hana pada perawat.
"Benar Dokter. Bayi Nyonya Rania sudah siap untuk dilahirkan karena pembukaannya sudah lengkap." Balasnya.
Hana mengangguk paham. Sejak tadi malam Rania memberi kabar jika ia sudah mengalami kontraksi ringan, ia sudah menduga jika Rania akan melahirkan pagi ini.
"Kalau begitu saya pamit dulu Dokter." Ucap perawat yang diangguki oleh Hana.
"Dokter Hana..." Fitri nampak berjalan terburu-buru ke arah Hana hingga membuat perhatian Hana teralihkan padanya.
"Fitri, ada apa?" Tanya Hana dengan kening mengkerut.
"Ada seseorang yang ingin menemui anda di ruangan anda, Dokter." Ucap Fitri dengan nafas naik turun.
"Siapa?" Hana dibuat bingung melihat ekspresi Fitri yang tiba-tiba tersenyum.
"Lebih baik anda menemuinya di ruangan anda saja, Nona." Ucap Fitri tanpa menjawab ucapan Hana.
"Baiklah. Tapi..." Hana nampak ragu. Apa lagi saat ini Rania ingin melahirkan di dalam sana.
__ADS_1
"Dia akan pergi sebentar lagi, Nona." Jelas Fitri kemudian.
"Huh, baiklah. Aku akan ke ruanganku sekarang juga." Hana segera berjalan meninggalkan ruangan persalinan. "Rania, aku akan kembali setelah urusanku selesai." Gumam Hana sambil terus berjalan.
*
"Kak Arka!" Seru Hana saat melihat sosok pria yang tengah duduk di depan kursi kerjanya.
"Hana..." sosok bernama Arka itu pun bangkit dari duduknya lalu mendekat pada Hana.
"Kak Arka... Kakak sudah kembali..." Hana tak dapat berkata-kata sangking senangnya menatap pria yang dulunya selalu membimbingnya saat menjalani masa koas.
"Bolehkah aku memelukmu?" Tanya Arka.
Hana tersenyum tipis. "Begitu pula dengan Kakak." Balasnya.
Arka tersenyum. "Setelah tiga tahun tidak bertemu, banyak perubahan dalam hidupmu." Ucap Arka.
"Perubahan apa yang Kakak maksud?" Tanya Hana.
"Kau sudah semakin sukses dalam karirmu dan kau tidak memerlukan lagi bimbingan dariku." Kelakar Arka.
Hana tertawa kecil. "Kakak bisa saja. Semua ini juga berkat bantuan Kakak selama ini."
__ADS_1
"Kau ini..." Arka tanpa sadar mengelus rambut Hana.
Hana tertegun. "Em, Kak Arka, ayo duduk dulu." Ajak Hana." Arka mengangguk lalu kembali duduk di kursi yang berhadapan dengan Hana.
"Jadi Kakak sudah menyelesaikan studi Kakak?" Tanya Hana.
"Seperti yang kau pikirkan. Akhirnya setelah empat tahun aku bisa menyelesaikan studyku dan bisa kembali ke sini." Balas Arka.
"Syukurlah, aku turut senang mendengarnya." Balas Hana.
"Terimakasih." Balas Arka.
Beberapa menit berlalu Arka dan Hana terlibat perbincangan ringan membahas bagaimana kehidupan Arka selama berada di negeri orang hingga sukses menjadi Dokter spesialis jantung.
"Hana, sepertinya aku sudah harus pulang." Ucap Arka setelah melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Hana mengangguk paham. "Apa besok Kakak sudah mulai bekerja kembali di sini?" Tanya Hana.
Arka menggeleng. "Sepertinya satu minggu lagi aku baru bisa bekerja kembali di rumah sakit ini." Terangnya.
Hana kembali mengangguk. "Baiklah, kalau begitu ayo aku antarkan Kakak ke depan." Ajak Hana yang diangguki Arka.
Selama berjalan menuju lobby rumah sakit, Hana dan Arka pun kembali terlibat perbincangan yang membuat bibir mereka nampak melengkung sempurna. Langkah Hana pun terhenti saat ia melihat Dika masuk ke dalam rumah sakit bersama Gerry dan Kyara.
__ADS_1
***