Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Pria yang membuatnya tertarik


__ADS_3

Dika menimpali tangan Hana dengan sebelah tangannya yang bebas. Pandangan mereka bertemu lalu tersenyum bersama. Hana menatap lurus ke depan diikuti oleh Dika.


"Apa kau tahu jika kau adalah pria pertama yang berhasil membuatku tertarik?" Tanya Hana tanpa menatap pada Dika.


Dika menolehkan wajah ke samping. "Dan kau adalah wanita pertama yang berhasil mengacaukan hari-hari tenangku." Timpal Dika.


Hana turut menolehkan wajah ke samping lalu mencubit pinggang Dika. "Tapi kau senang kan dikacaukan olehku?"


Dika mengacak rambut Hana. "Kau terlalu percaya diri."


Hana tertawa kecil. "Tentu saja. Percaya diriku datang sejak aku berhasil meruntuhkan pertahananmu." Ucap Hana merasa bangga.


Dika tersenyum. Mentap intens wajah cantik Hana. "Jangan terlalu lama tertawa."


Kening Hana mengkerut. "Kenapa?" Tanyanya.


"Apa kau tidak sadar jika tawamu bisa membuat pria lain jatuh cinta padamu?" Ucap Dika dengan datar.


"Uhuk." Hana hampir saja tersedak ludahnya sendiri.


"Kau mengatakan apa?" Tanya Hana.


"Aku tidak ingin mengulang ucapanku." Balas Dika dengan wajah yang sudah berubah dingin.

__ADS_1


Hana melipat bibirnya. Menahan agar senyumannya tidak semakin terkembang.


Apa dia baru saja menunjukkan sifat posesifnya? Tanya Hana dalam hati.


Dinginnya udara malam semakin membuat tubuh Hana kedinginan. Hana menegus jeruk hangatnya lalu memeluk erat tubuhnya sendiri. Melihat pergerakan Hana, Dika membuka jaketnya lalu menyelimuti tubuh Hana dengab jaketnya.


"Dika..." Hana tak dapat berkata-kata.


"Pakailah." Titah Dika saat melihat bibir Hana mulai bergerak untuk protes. "Beberapa menit lagi kita akan pulang." Lanjut Dika kemudian setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


"Tapi kita masih sebentar berada di sini." Protes Hana.


"Aku tidak ingin mengembalikanmu ke rumah terlalu malam." Ucap Dika.


"Jangan terlalu lama menatapku. Lebih baik kau segera menghabiskan minumanmu." Titah Dika.


Lamunan Hana buyar. Hana kembali meraih gelas jeruk hangatnya lalu meminumnya hingga tandas. Sesuai perkataan Dika, sepuluh menit kemudian Dika pun mengajak Hana untuk pulang.


Selama dalam perjalanan pulang Hana tak melepas pelukannya di pinggang Dika. Walau pun baru sebentar dekat dengan Dika, namun Hana dapat melihat keseriusan dan kasih sayang di wajah Dika untuknya.


"Dika... Aku sangat menyayangimu dan juga mencintaimu." Pekik Hana saat motor melewati jalan yang sepi.


Dika mengelus tangan Hana yang melingkar di pinggangnya tanpa membalas ucapan Hana.

__ADS_1


*


Beberapa bulan berlalu, hubungan Hana dan Dika pun semakin dekat dengan status baru di hubungan mereka. Di setiap kesempatan, Dika selalu menunjukkan rasa sayangnya walau pun dengan ekspresinya yang selalu datar. Walau pun begitu, Hana tak memperdulikan sikap dingin, datar dan kaku Dika karena ia sudah cukup bahagia bisa memiliki Dika.


"Hana, bukankah itu Dika?" Ucap Amel menunjuk punggung Dika yang tengah berlari tak jauh dari mereka.


Hana mengikuti arah pandangan Amel. "Kau benar, itu Dika!" Balas Hana. "Ayo kejar Dika!" Ajak Hana lalu berlari lebih dulu meninggalkan Amel.


"Dika..." Seru Hana saat sudah berada di dekat Dika.


Dika memutar tubuhnya diikuti oleh Gerry.


"Hana?" Dika nampak nampak terkejut melihat Hana berada di tempat yang sama dengannya.


"Dika... Kau juga olah raga di sini?" tanya Hana lalu mengembangkan senyumannya.


Dika mengangguk. "Bukankah aku sudah mengirimkan pesan padamu jika aku olah raga di sini pagi ini." Ucap Dika.


Hana menggaruk keningnya yang tak gatal. "Aku belum sempat menghidupkan ponselku setelah kehabisan daya." Terang Hana.


***


Lanjut lagi? Kencengin vote, gift, like dan komennya dulu yuk untuk mendukung karya SHy🥰

__ADS_1


__ADS_2