Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Tidak bisa mengalihkan


__ADS_3

Selama perjalanan pulang menuju hotel tempat mereka menginap Hana tak henti melebarkan senyumannya karena mengingat perlakuan manis Dika padanya. Entah setan apa yang merasuki Dika tadi hingga bersikap semanis itu padanya. Hana merasa bersyukur karena Tuhan masih berbaik hati padanya untuk memberikan sosok Dika yang dulu untuknya walau Hana tidak bisa menjamin sikap Dika akan tetap seperti itu kedepannya.


Dika mulai menambah kecepatan motor saat melewati jalanan yang cukup sepi. Secara bersamaan Hana turut memeluk erat pinggang Dika seolah takut tubuhnya terbang dibawa angin.


Dika, terimakasih untuk kemanisanmu hari ini. Ucap Hana dalam hati.


*


"Dika, bolehkah aku meminjam ponselmu?" Tanya Hana saat mereka tentah duduk terdiam di atas ranjang.


Dika mengalihkan tatapan matanya dari ponselnya. Menatap Hana dengan kening mengkerut. "Kau ingin meminjam untuk apa?" Tanyanya.


"Aku ingin mengirim foto-fotoku tadi saat berada di tepi sawah." Jawab Hana.

__ADS_1


"Tunggu sebentar." Ucapnya lalu kembali fokus pada ponselnya.


Hana mengangguk mengerti. Mungkin saja saat ini Dika sedang sibuk membalas pesan dari rekan bisnisnya melihat betapa seriusnya tatapan Dika pada layar ponselnya.


Cukup lama Hana menunggu ponsel Dika jatuh ke tangannya. Hingga dua puluh menit kemudian Dika pun menyerahkan ponselnya pada Hana. "Jangan membuka pesan dari Gerry karena aku ingin ke kamar mandi lebih dulu." Ucap Dika.


Hana mengangguk paham. Suara notifikasi pesan masuk yang terdengar bertubi-tubi dari Gerry membuat Hana menebak jika ada hal penting yang dibahas Dika dengan Gerry.


Setelah menyerahkan ponselnya pada Hana, Dika pun berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Hana menghela nafas lega. Dengan bersemangat ia pun membuka galery Dika untuk memilih foto yang akan dikirimkan ke ponselnya.


"Dika, Dika, kenapa wajahmu tegang sekali di foto ini? Sedangkan wajahku sangat ceria." Hana tertawa-tawa melihat salah satu foto yang baru masuk ke dalam ponselnya. "Jika saja kita sedang berada di masa lalu, aku tidak segan mengajarimu cara berfoto yang baik."


Setelah cukup memakai ponsel Dika, Hana pun meletakkan ponsel Dika di atas nakas. Selama dirinya mengirim foto tadi memang banyak pesan masuk dari Gerry yang membahas masalah bisnis mereka.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau merangkap dua profesi seperti ini? Kau bekerja di rumah sakit dan kau juga bekerja di perusahaan?" Hana menggelengkan kepalanya melihat betapa sibuknya suaminya itu.


"Aku tahu kau pintar, cerdas dan bisa membagi waktu. Namun aku tidak yakin dengan kesehatanmu jika kau terlalu sibuk seperti ini." Gumam Hana kemudian.


Ceklek


Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat perhatian Hana teralihkan ke sumber suara. Kedua mata Hana dibuat membola saat melihat Dika keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk melilit pinggangnya.


Kemana bajunya? Bukankah tadi dia sudah mandi? Dan kenapa dia berpenampilan seperti itu? Membuatku tergoda saja. Hana berusaha mengalihkan tatapannya dari tubuh Dika namun pemikirannya berkata lain. Tatapannya terus tertuju pada dada bidang Dika hingga tanpa sadar jika Dika kini telah berada tepat di depannya.


***


Lanjut? berikan votenya dulu yuk☺️

__ADS_1


Jangan lupa follow IG SHy ya : @shy1210_ karena SHy akan memberitahu jadwal updete di sana☺️


__ADS_2