
Mendengar penjelasan Hana, Amel pun mengangguk paham. "Tapi mungkin saja mereka terlihat dekat karena membahas pertemanan masa kecil mereka dan mereka ingin melanjutkan perteman mereka yang pernah terpisah." Ucap Amel mencoba mempositifkan pemikiran Hana.
Hana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah percaya perteman antara wanita dan pria itu ada." Balas Hana.
Amel pun terdiam dan tak dapat lagi membalas ucapan Hana yang memang benar adanya.
"Sudahlah. Mulai saat ini aku harus menjaga hatiku agar tidak terluka. Hanya karena Dika perhatian kepadaku bukan berarti dia menyukaiku. Bisa saja dia memang begitu ke semua orang. Aku saja yang terlalu dalam menyimpulkan rasa perhatiannya." Hana tersenyum sinis.
Amel menepuk pundah Hana dua kali. "Untuk saat ini aku tidak bisa lagi banyak memberikan saran kepadamu. Hanya saja jangan sampai kau menyesal atas keputusanmu."
"Aku tidak akan pernah menyesal. Aku hanya ingin menjaga hatiku agar baik-baik saja. Lagi pula jika dia memang jodohku, dia akan tahu kemana dia harus pulang." Ucap Hana menutup percakapan mereka di taman siang itu.
*
Dua minggu berlalu, Hana benar-benar menunjukkan rasa tidak keperduliannya pada Dika. Hana bahkan tak menanggapi lagi godaan-godaan teman-temanya tentang hubungan palsunya dengan Dika. Tekad Hana untuk tidak memperdulikan Dika pun semakin kuat saat ia mendengarkan percakapan Dika dan Liza untuk kebeberapa kalinya siang itu di kelasnya.
"Papa dan Mamaku dulu sangat berharap jika kita berjodoh. Bahkan Mamaku dan Tante Dina sempat merencanakan perjodohan kita sejak kecil. Namun sayangnya niat mereka sepertinya harus terkubur karena kau sudah memiliki seorang kekasih." Ucap Liza tanpa rasa malu pada Dika. Dan seperti biasa Liza pun mengeraskan suaranya agar Hana mendengarnya.
__ADS_1
Hana memasang headset di telinganya. Berpura-pura mendengarkan musik dan tidak mendengarkan percakapan mereka padahal kenyataannya tidak demikian.
Dari tempat duduknya, Hana dapat melihat dengan jelas jika kini Liza nampak memperhatikan gerak-geriknya. Hana berusaha untuk acuh namun tetap mencuri dengar percakapan mereka.
"Walau pun aku belum memiliki seorang kekasih, aku tidak akan mau dijodohkan. Karena aku tidak ingin pendamping hidupku kelak diatur oleh siapa pun meski pun itu kedua orang tuaku." Balas Dika dengan wajahnya yang berubah dingin.
"Maaf. Tapi aku hanya mengungkapkan keinginan kedua orang tua kita." Ucap Liza yang merasa salah bicara.
Dika diam dan tak lagi bersuara. Pria itu kini sudah nampak sibuk dengan ponsel yang ada digenggamannya.
Tak lama kehebohan di kelas pun mulai terdengar saat Dika mengirim informasi di grup kelas mereka jika perkuliahan mereka siang ini ditiadakan karena dosen mereka sedang sakit dan sebagai gantinya mereka pun diminta untuk meringkas materi yang sudah dikirimkan Dika ke dalam grup.
Hana menganggukkan kepalanya. "Bagaimana aku tidak dengar jika suaranya itu keras sekali." Dengus Hana.
"Sepertinya dia sengaja agar kau mendengarkan ucapannya." Ucap Amel.
"Aku tahu itu. Tapi aku tidak perduli." Balas Hana mendustai hatinya. Hana pun bangkit dari duduknya merasa malas mendengar pertanyaan Amel yang membuat suasana hatinya memburuk.
__ADS_1
Di kursi paling depan, Liza yang belum juga pergi dari sisi Dika menatap pada Hana yang kini melewati kursinya.
"Hana." Panggil Liza hingga langkah Hana terhenti.
Hana menolehkan kepalanya ke belakang.
"Ya? Apa kau memanggilku?" Tanya Hana dengan wajah tidak ramah.
Liza menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." Ucapnya.
Sebelah alis Hana nampak tertarik. "Kau ingin menanyakan apa?" tanya Hana yang merasa ada maksud tidak baik dari tatapan Liza saat ini.
***
Lanjut?
Mohon berikan dukungan untuk karya shy dengan cara like, komen dan votenya. Teman-teman juga bisa memberi gift dalam bentuk poin🥰
__ADS_1
Semakin banyak dukungannya, shy semakin semangat melanjutkan ceritanya. Hehe☺️