Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Dia masih memperhatikanku


__ADS_3

Siang harinya, Hana terbangun dari tidurnya saat perutnya terasa lapar. "Astaga, bagaimana aku bisa tertidur hampir dua jam seperti ini?" Hana menatap jam dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Niat hatinya yang hanya ingin istirahat sejenak justru kebablasan hingga dua jam lamanya.


Hana segera turun dari sofa empuk yang ditidurinya. Menatap ke sekeliling kamar namun tak mendapatkan keberadaan Dika selain kopernya dan Dika yang sudah terletak di dekat lemari kamar.


"Apa dia melihatku tidur?" Gumam Hana. Kakinya pun melangkah ke arah lemari guna memasukkan baju-bajunya lebih dulu. Untuk baju Dika, Hana tak berani menyentuhnya. Lagi pula koper Dika nampak terkunci.


Cukup lama Hana habiskan waktu untuk memasukkan baju ke dalam lemari karena ukuran lemarinya yang terlalu tinggi untuk ia gapai. Merasakan perutnya semakin memberontak meminta diisi, Hana segera meletakkan kopernya di dalam lemari bagian bawah lalu mengunci lemar. Ia melangkah keluar dari dalam kamar dengan langkah lebar agar cepat sampai di lantai bawah.


Langkah Hana mulai memelan saat menuju sofa dimana Dika tengah sibuk berkutat dengan laptopnya.


"Jika kau ingin makan di dapur ada makanan yang bisa untuk kau makan." Ucap Dika tanpa mengalihkan pandangan dari Hana.

__ADS_1


Hana menghentikan langkahnya. Dari pada berbasa-basi dengan Dika, lebih baik ia segera ke dapur untuk mengisi perutnya yang kosong.


"Terimakasih." Ucap Hana lalu membalikkan tubuhnya ke arah dapur. Hana kembali melangkah dengan lebar ke arah dapur agar cepat sampai. "Rumahnya besar sekali. Menuju ke dapur saja aku harus mengeluarkan tenaga yang cukup banyak." Gumam Hana saat sudah berada di dalam dapur.


Hana menjatuhkan pandangan pada bungkus makanan yang ada di atas meja makan. "Apa Dika memesan makanan?" Tanyanya sambil mendekat ke arah meja makan. "Makanannya terlihat enak." Puji Hana. Hana segera mengambil piring yang sepertinya sudah tersedia di atas meja lalu menuangkan makanan dalam bungkusan ke dalam piringnya. Tanpa banyak pikir, Hana langsung memakan makanan yang terlihat sangat menggoda di matanya itu hingga habis tak tersisa.


"Uh, perutku terasa penuh." Hana mengusap-usap perutnya yang terlihat sedikit membuncit akibat makanan yang masuk ke dalam perutnya. Setelahnya Hana bangkit dari duduknya untuk membuang sampah bekas manakannya dan mencuci piring.


*


Dua minggu kemudian.

__ADS_1


Pagi itu di rumah sakit tempat Hana bekerja dihebohkan oleh kedatangan Rania yang ingin melahirkan. Hana nampak berjalan terburu-buru mengejar langkah perawat yang mendorong brankar Rania menuju ruangan persalinan.


"William..." ucap Hana saat sudah berada di samping William yang tengah menahan sakit akibat gigitan Rania di tangannya.


"Hana..." William kembali meringis saat Rania semakin menggigit kuat tangannya.


"Hana... perutku sakit sekali..." ucap Rania sambil menangis keras. "Huu... perutku... aku tidak kuat..." Rania memejamkan kedua matanya saat merasa bayinya sudah tidak sabar keluar dari dalam rahimnya.


Hana memilih berdiri di sisi Rania sambil mengusap tangan Rania. "Rania tenanglah... kau harus kuat demi bayimu." Hana berusaha menenangkan Rania yang sedang kesakitan.


***

__ADS_1


Jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk vote, gift, like dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya ya🌹


__ADS_2