Bukan Sekedar Menikahi

Bukan Sekedar Menikahi
Kapan dia datang?


__ADS_3

Di atas ranjang Hana nampak termenung memikirkan ucapan kedua sahabatnya tadi siang kepadanya. Bagaimana kedua sahabatnya itu mendesaknya untuk segera memberitahu Dika tentang kebenaran perselingkuhan pura-puranya waktu itu.


"Aku akan mengatakannya namun tidak sekarang. Lagi pula apa mungkin Dika akan percaya begitu saja dengan ucapanku nantinya? Terlebih aku tidak percaya diri untuk mengungkapkan alasan yang sebenarnya. Apa Dika nantinya akan percaya pada ucapanku atau tidak. Atau bisa saja Dika merasa ilfil dengan rumah tangga kedua orang tuaku yang berantakan akibat perselingkuhan."


Hana mendesah-kan nafas kasar di udara. Setelah cukup berpikir ia tetap memutuskan memberitahu Dika pada saat ulang tahun Dika yang ke tiga puluh tahun dua minggu lagi. Ia tidak ingin terburu-buru menyampaikannya karena takut nantinya Dika tidak akan percaya begitu saja. Ia perlu menyiapkan diri untuk mengungkapkan fakta yang sebenarnya pada suaminya itu.


"Apa Dika tidak akan datang menjemputku untuk pulang malam ini?" Tanyanya saat melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam namun Dika tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan datang. "Sepertinya dia tidak akan menjemputku." Hana merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu memainkan ponselnya sambil berbaring.


"Lebih baik aku melihat foto-foto kami saat kuliah dulu sambil mengisi kekosongan waktuku saat ini." Hana melebarkan senyumannya. Tangannya mulai bergerak di atas layar ponselnya membuka aplikasi media sosialnya yang menyimpan banyak kenangan bersama Dika.

__ADS_1


"Manisnya..." puji Hana menatap sebuah foto kebersamaan mereka saat pertama kalinya jalan bersama. Hana pun mulai melihat satu persatu foto kebersamaannya dan Dika hingga tidak terasa sampai dua jam lamanya.


"Dika tidak ada menghubungiku?" Hana kembali menatap pesan beberapa jam yang lalu dikirimkan Dika padanya. "Sudahlah. Mungkin dia sudah tidur." Ucap Hana berfikiran positif.


Merasa matanya sudah lelah menatap ponsel dan sudah mengantuk, Hana pun meletakkan ponselnya di atas nakas lalu menarik selimut hingga menutupi dadanya. Tidak memakan waktu lama kedua kelopak mata Hana pun tertutup sempurna.


Pukul setengah dua belas malam, Dika nampak masuk ke dalam kamar Hana dengan wajah lelahnya. Dengan langkah pelan dan hati-hati ia mendekat ke arah ranjang untuk melihat istrinya yang sudah tertidur lelap. Karena kondisi kamar yang terang akibat lampu kamar tidak dimatikan oleh Hana membuat Dika dapat melihat dengan jelas wajah cantik istrinya itu. Cukup lama Dika menatap wajah lelap Hana hingga akhirnya Dika memutuskan masuk ke dalam kamar mandi untuk membuang hajatnya yang sejak tadi ia tahan.


"Tidurlah dengan lelap." Ucap Dika lalu mengecup singkat kening Hana. Dika pun menarik tubuh Hana hingga mengikis jarak di antara. Setelahnya ia pun menyusul Hana ke alam mimpinya dengan tidur saling berpelukan karena kini tangan Hana sudah melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


*


Pagi harinya Hana terbangun lebih dulu dengan merasakan sesak ditubuhnya. "Dika?" Kedua mata Hana membola saat melihat wajah Dika yang kini tepat berada di dadanya. "Kapan dia datang?" Gumam Hana menatap wajah Dika dengan intens.


Hana melebarkan senyumannya saat melihat wajah polos Dika yang kini tengah tertidur lelap. "Kenapa Tuhan begitu tidak adil memberikan ketampan yang berlebihan kepadamu?" Gumam Hana sambil mengusap-usap rambut Dika dengan tangannya.


***


Jangan lupa berikan vote, like dan komennya sebelum lanjut ke bab berikutnya☺️

__ADS_1


Jangan lupa follow IG SHy ya : @shy1210_ untuk mengetahui informasi update☺️


__ADS_2