Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Kecewa


__ADS_3

.


.


.


Siang itu,


Gio dan Niken usai melayat ke pemakaman client nya, ia lalu mengajak Niken ke rumah orang tua Niken seperti janjinya kemarin.


Niken tak pernah berhenti berfikir, apa sebenarnya niat Gio membawa nya kemana pun ia pergi. Semula Gio selalu berkata dingin pada Niken, namun setelah peristiwa itu Gio mulai berubah sikap nya menjadi sedikit lembut.


Di dalam mobil mereka berbincang


"Mas , boleh aku bertanya? " Niken memberanikan diri untuk bertanya apa maksud Gio yang mulai berubah sikap terhadap nya


"Hem.. katakan saja apa yang ingin kau tanyakan? . " Ucap Gio sambil menyetir


"E... Aku penasaran, kenapa kau mulai berubah mas ? " Niken yang gugup bertanya


Gio menaikkan satu alis nya,


"Berubah bagaimana maksud mu? " ucap Gio pura-pura tak mengerti.


"A_aku merasa mas Gio mulai baik dan lembut pada ku. " Ucap Niken menahan rasa malu


Gio hanya tersenyum mendengar ucapan Niken. Ia tak memberi jawaban membuat Niken kesal hingga akhirnya pun sampai di rumah Pak Joko.


Geek..


Niken membanting pintu mobil saat menutup nya. Ia kesal pertanyaan nya tak mendapatkan jawaban dari Gio.


Melihat sikap Niken yang kekanak-kanakan membuat Gio tersenyum simpul.


Niken setengah berlari menuju rumah ayah nya.


tok


tok


tok


Niken mengetuk pintu rumah Pak Joko.


Ceklek.


Pintu terbuka. Muncul ibu Mia terbelalak melihat kedatangan anak dan menantunya.


"Niken, Nak Gio." panggil ibu Mia dengan suara bergetar.


Niken prihatin melihat ibu nya memiliki kantung mata, bengkak seperti habis menangis. Ia merengkuh ibu nya.

__ADS_1


Tangis ibu pecah.


hiks hiks hiks...


Ibu menangis di pelukan Niken, mengelus punggung ibu lembut.


"Ibu ada apa mengapa menangis seperti ini?" Pertanyaan Niken memang seharusnya tak di lontarkan nya, Bukan kah seharusnya ia tau apa yang menimpa orang tuanya.


"Niken, ayo duduk masuk rumah dulu, mari nak Gio. " Ajak Ibu Mia masuk ke dalam rumah.


Mereka duduk di sofa.


Gio menatap dingin ibu Mia, Ia merasa ada hal yang di sembunyikan oleh ibu mertua nya itu.


Niken mengawali pembicaraan.


"Ibu sepertinya kurang tidur? Dan ayah di mana mengapa tak ada di rumah, ini kan weekend apa masih bekerja. " Niken memberikan banyak pertanyaan pada ibunya.


Ibu Mia menyeka air mata yang masih menetes.


"Ayah mu tak pulang sudah 2 hari tak tidur di rumah. " Ibu Mia berhenti sejenak, lalu melanjutkan ucapannya. " Ini semua memang salah ibu, Niken. "


Niken tak mengerti maksud ibu nya, sementara Gio hanya terdiam mendengar ucapan Ibu Mia. Gio semakin yakin jika ibu Mia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Memang nya ibu membuat kesalahan apa, hingga ayah tak pulang, bu? " Tanya Niken,


'Dua hari sebelum ini, ayah menelpon ku, dan dari suaranya pun seperti orang menahan amarah dan tangis, apa mereka habis bertengkar, atau karena masalah kak Adelia, tapi kan mereka sudah tau kalau kak Adelia memang salah dan Mas Gio yang melakukan siksaan itu terhadap kakak.' Batin Niken.


"Bukannya anak kesayangan ibu sudah berhasil kabur dari siksaan ku, untuk apa memohon begitu, percuma! " Ucap tegas Gio pada mertuanya.


"Tapi jika nak Gio memaafkan Adelia dan tak menyiksa nya lagi, ia bisa kembali ke negara ini lagi tanpa ketakutan." Ucap Bu Mia.


"Oh... Jadi ibu sudah tau keberadaan Adelia?"Tanya Gio datar


" I_Iya nak Gio. " Jawab Ibu Mia gugup.


Niken hanya diam, dalam dada nya merasakan sesak, lagi lagi ibunya hanya menghawatirkan Adelia. Bila bertemu Gio hanya memintakan ampunan untuk Adelia.


"Bu. Bagaimana keadaan Kak Adelia, apakah dia baik-baik saja sekarang? . " Tanya Niken yang menahan amarah.


"Kak Adelia baik-baik saja, Niken. Sekarang dia melanjutkan sekolah nya di luar negeri. Ibu berharap bisa melihat nya berubah." Ucap ibu Mia tanpa memikirkan perasaan Niken, yang saat itu menahan rasa kesal.


'Ibu Mia memang orang tua yang salah bila mendidik anak. Anak yang berada di hadapan nya sama sekali tak di lihat nya.' Batin Gio


"Oh.. benarkah, semoga kak Adelia menjadi orang sukses ya, bu. " Kalau begitu aku permisi pulang dulu, sepertinya mas Gio ada meeting. " Ucap Niken beranjak dari sofa.


"Ah.. benarkah, kalau begitu ibu minta tolong kamu untuk bujuk ayah mu pulang ya. Ibu tak bisa menghubungi ayah mu, karena ponselnya di matikan, kamu bilang kan kemarin ayah menelpon mu. Berarti kemungkinan ayah juga hanya bisa di hubungi oleh mu. " Pinta bu Mia.


"Iya, bu. Nanti aku akan menghubungi ayah." Niken pamit dan meninggalkan rumah orang tuanya.


Di dalam mobil.

__ADS_1


'Padahal ke luar negeri adalah impian ku, Huh.. apa pun yang ku ingin kan memang selalu tak dapat ku raih. Ibu Ayah, sebenarnya aku ini anak kandung mu atau bukan. ' Batin Niken berkecamuk, Menatap pemandangan dari kaca mobil, bersender pada jendela mobil.


Niken meneteskan air mata, tak mampu membendung nya lagi.


Gio yang melihat istrinya menangis memberhentikan mobilnya di sebuah taman kota.


Niken menyeka air mata nya menyadari bahwa mobilnya berhenti.


"Kenapa menangis? " Tanya Gio dingin.


"Siapa? Aku. Aku tak menangis kok. " Ucap Niken berbohong.


"Benarkah? Lalu kenapa ada air di mata dan pipi mu. " Ucap Gio melepaskan sabuk pengaman lalu mengusap pipi Niken yang basah dengan lembut.


Niken tersipu dengan perlakuan Gio.


"A_Aku.. Hanya kecewa dengan ibu, mas." Ucapnya lirih.


"Menangis lah, jika itu membuat mu tenang. Aku akan menemani mu hingga kau selesai menangis. " Ucap Gio lalu mendekap Niken ke pelukan nya.


Niken menangis dalam pelukan Gio.


Dua sejoli itu mencurahkan isi hatinya.


" Tak pernah ada yang tau isi hati manusia, Namun dengan bercerita dengan orang yang telah kau percaya, itu akan membuat mu sedikit lebih lega. " Ucap Gio pada Niken untuk menenangkan.


"Uh.. mas. Aku tak pernah tau mengapa orang tua ku bisa memberi kan ku kasih sayang yang berbeda pada ku dan kakak. Sedari kecil aku selalu mengalah, apa pun yang aku inginkan dan aku punya, selalu di berikan pada kakak. " Niken yang terisak


Gio mengusap lembut punggung Niken, Ia tak tau harus berkata apa, karena ia tak pernah merasakan memiliki seorang kakak ataupun adik, namun sikap orang tua nya Niken memang keterlaluan,


"Hem.. aku ada sesuatu hal yang ingin ku berikan pada mu, apa kamu ingin melihat nya?" Gio yang mengalihkan pembicaraan.


"Apa? yang penting tak membahayakan hidup ku, aku mau. " Ucap Niken melepaskan pelukan


"Kau masih berpikir aku ini jahat. " Gio yang cemberut.


"Memang nya kau sebaik apa mas. Yang pertama ku lihat memang begitu. " sungut Niken


"Sebenarnya kamu mau apa tidak? Jika tidak aku buang saja hadiah itu. " Gio kesal.


"Gitu aja ngambek. Iya iya aku mau. ayo tunjukkan sekarang. " Niken mengiyakan.


Gio hanya tersenyum.


Ia mengajak Niken ke suatu tempat.


Kemana ya..


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2