Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Tertangkap


__ADS_3

"Diam!!! Jika kau terus berteriak akan ku todongkan pistol ke kepala mu!" Ucap pria tegap berjaket hitam dan membawa pistol ditangannya. Ia adalah petugas kepolisian yang bertugas untuk menangkap penjahat dalam persembunyian namun dalam penyamaran seperti preman biasa dinamakan buser.


Bu Mia dan Anton telah tertangkap di gedung tua tempat mereka bersembunyi sebelum nya. Anak buah Gio termasuk Rega juga ikut menyergap markas mereka berada.


Ibu Mia terus meronta ingin di lepaskan, Namun karena kepalanya di todongkan pistol oleh salah satu pria tegap itu sontak mulut keriput nya kini terdiam, begitu juga Anton yang sedari tadi meringis merasakan sakit lengannya yang diikat dengan tali kebelakang.


Mereka berdua di bawa ke polres untuk dimintai keterangan setelah itu di serahkan ke pengadilan untuk di adili. Namun untuk sementara sebelum keputusan pengadilan turun,mereka di tahan di kepolisian tersebut.


Di kantor polisi saat interogasi, bu Mia terus berkelit tak mau mengakui kesalahannya, sedangkan Anton hanya diam bak bungkam seribu bahasa ia sama sekali tak menampik tuduhan dan hanya menunduk jika ditanya oleh petugas.


Pak Joko beberapa waktu lalu sudah di hubungi oleh pihak kepolisian, Ia juga sangat terkejut dan terpukul oleh perbuatan istrinya selama ini terhadap keluarga pak Handoko. Terutama pada Niken, kenapa bisa ia setega itu pada anaknya juga.


Di ruang besuk tahanan pak Joko menemui bu Mia.


"Bu. Kenapa bisa kamu melakukan hal bodoh ini. Apa kamu tak memikirkan akibatnya nanti pada dirimu sendiri?" Ucap Pak Joko pada Bu Mia yang masih menundukkan kepalanya kearah meja didepannya.


"Aku tak peduli, Yah. Aku sangat benci pada Gio. ini semua salahnya... semua salahnya!!" Bu Mia berteriak dan menjambak sendiri rambutnya, ia merasa pusing dan kesal mengamuk tak jelas dan membuat keributan.


Pak Joko memegang lengan Bu Mia agar tenang.


"Jangan membuat keributan, jika kau begini polisi akan memborgol mu!" Bisik pak Joko pada Bu Mia agar diam dan tak memberontak.


Di rumah sakit Bu Meli dirawat kini ia mulai siuman.


"Bu." Niken dan Gio memanggilnya bersamaan.


"Kalian." Lirih Bu Meli

__ADS_1


Niken mengusap lembut lengan mertuanya yang salah satunya ditusuk oleh jarum suntik yang berujung pada infus. Mata Niken sembab dan pipinya sedikit merah karena menangis membuat Bu Meli gatal ingin bertanya.


"Kau habis menangis ya, Nak?" Tanya Bu Meli lalu mengelus jemari lentik Niken yang berada di punggung tangannya.


Niken tak bisa membendung air matanya lagi. Bukannya menjawab pertanyaan mertuanya, ia malah menumpahkan air matanya yang mulai mengalir ke pipi.


Gio melirik istrinya menangis lalu merangkul pundak Niken dengan tubuh yang terduduk di sebelah bangsal milik ibunya. Ia tau apa yang sedang dipikirkan Niken, Pasti tentang Ibu Mia.


"Niken. Ibu sudah siuman, kenapa kamu masih menangis?" Tanya Bu Meli lagi memastikan yang kini mengusap lembut pipi Menantu nya yang basah. Bu Meli masih belum mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.


"Bu... Aku ingin mengatakan sesuatu pada mu, hal yang membuat Niken menangis sampai begini." Ucap Gio membuat Niken menoleh pada suaminya Niken sejenak berhenti terisak.


"Katakan, Jangan buat ibu penasaran. Hal apa yang membuat menantu ibu yang cantik menangis hingga seperti ini?" Ucap Bu Meli kini pandangan nya tertuju pada anak semata wayangnya. Dan Ibu Mia menyuruh Gio membantunya untuk duduk.


"Ini tentang pelaku yang selama ini meneror keluarga kita Bu." Ucap Gio lalu menceritakan kronologi kejadian yang sudah terekam CCTV selama ini sudah terungkap. Belum sampai pada nama pelaku itu Bu Meli memotong cerita Gio.


"Tapi jika Ibu mengetahui siapa pelakunya, akankah Ibu juga akan membenci ku?" Ucap Niken tertunduk lesu


"Maksud kamu apa, Nak. Bagaimana mungkin Ibu akan membenci kamu. Itu tidak mungkin" Bu meli mengatakan nya lalu menggelengkan kepalanya.


"Bu... Jika pelakunya adalah Ibu ku. Apakah Ibu percaya?" Niken memberanikan diri untuk bertanya.


Ibu Meli terdiam menatap sayu wajah menantu nya dan melirik pada Gio yang masih berdiri di samping Niken.


"Apa itu benar Gio, Apakah benar pelakunya adalah Bu Meli, ibunya Niken?" Bu Meli bertanya dan melotot kearah mereka berdua. Sorot mata yang masih tak percaya dengan ucapan anak dan juga menantu nya. Seperti seorang ibu yang ingin melindungi anaknya.


Gio mengangguk sekilas mengiyakan pertanyaan ibunya, Niken merasa malu dengan perbuatan ibunya telah diketahui oleh orang lain. Ia merasa bersalah atas kejahatan yang diperbuat oleh ibunya. Padahal ia sama sekali tak ikut andil dalam kejahatan itu.

__ADS_1


Gio mendekap erat tubuh Niken yang ingin beranjak dari duduknya.


"Bu... Aku sangat mencintai Niken. Aku tak ingin dipisahkan olehnya, itu adalah kesalahan ibunya, Niken tak bersalah dalam hal ini bahkan ia juga termasuk korban." Gio yang tau sikap ibunya berubah setelah mengetahui hal itu, ia tak ingin di pisahkan dari Niken karena perbuatan ibunya yang jahat.


"Kenapa? Bukan nya kamu tadinya tak menyukai Niken, bahkan hampir membencinya. Kenapa sekarang malah tak mau dipisahkan?" Tanya Bu Meli menatap Gio yang seperti takut kehilangan miliknya.


"Itu 'kan dulu, sekarang ya sekarang!" Ucap tegas Gio. Niken masih didekapan Gio, ia tak tau harus berbuat apa. Jika ia melepas pelukan Gio ia juga tak ingin kehilangan Gio. Tapi melihat sikap Bu Meli yang berubah membuat Niken semakin takut memiliki Gio.


"Ibu tak percaya dengan ucapan mu jika sudah mencintai Niken! Dulu kamu bilang seperti itu juga pada Adelia di hadapan ibu, hingga ucapan ibu tentang Adelia yang tak baik pun tak kau anggap. Dan sekarang kamu juga bilang tak ingin dipisahkan oleh Niken. Apakah kamu mau hidup dengan anak dari seorang pembunuh? Ibu gak mau ya punya menantu anak pembunuh!" UcapnBu Meli menggebu-gebu hatinya ingin memancing amarah Gio.


"Tapi, Bu.... "


"Sudah 'lah mas... Jangan diteruskan lagi ucapan mu, membuat ku semakin sadar akan hidupku yang hancur ini. Benar ucapan Ibu mu, tak mungkin kau akan hidup bersama anak seorang pembunuh." Niken menerima nasibnya.


"Kau dengar kan Gio. Niken saja sudah menyerah untuk hidup bersamamu lalu untuk apa kau lanjutkan dengan nya." Ucap Bu Meli dengan mudahnya.


Gio mengelap kasar wajahnya, ia tak tau mengapa ibunya bisa berbicara setega itu pada Niken dan juga pada nya. Dan Niken malah meratapi nasib dengan mudah nya


"Gak!!! Aku gak mau kehilangan kamu Niken. Apalagi kamu sedang mengandung anak ku!" Ucap Gio tegas pada Niken yang masih dalam rangkulannya.


"Jika ibu tak suka pada Niken karena hal ini, ibu juga siapkan hati untuk tak menyukai aku juga Anak ibu! Dan sedetikpun aku gak akan pernah meninggalkan dan melepaskan Niken titik." Sambungnya lagi menekankan kata titik.


Ibu Meli tersenyum melihat anaknya kini bisa berubah menjadi bak anak ayam yang akan kehilangan induknya, sama sekali tak ingin melepaskan dekapannya pada Niken.


Sebenarnya tak ada niatan Bu Meli untuk memisahkan mereka berdua, hanya ingin menguji seberapa besar cinta yang tulus dalam hati Gio untuk Niken.


*Di setiap kata yang muncul itu untuk menandai bila aku masih peduli pada mu*

__ADS_1


__ADS_2