
Di gedung tua pinggiran kota, Seseorang sedang merencanakan rencana jahatnya.
"Anton... Kamu yakin perbuatan mu tak ada yang melihat 'kan?" Tanya Bu Mia dengan wajah cemasnya, Ia takut bila Anton ketahuan yang telah menyebabkan kematian Bibi pelayan rumah Gio adalah dia, dan otomatis Ibu Mia ikut terseret masalah itu karena dia lah dalangnya.
"Tante tenang saja, aku melakukannya dengan rapi. Jangan khawatir tante."
"Bagus... " Bu Mia manggut-manggut dan merasa puas dengan jawaban Anton yang meyakinkan, lalu melancarkan rencana selanjutnya yang sudah disusun setelah membunuh pelayan Gio, ia juga ingin melenyapkan Gio.
"Kita lanjutkan rencana kita Anton, kau ada ide untuk melenyapkan Gio dari muka bumi ini?" Tanya Bu Mia pada Anton yang tengah duduk di kursi plastik yang berada di gedung itu sedangkan bu Mia duduk di sofa dekat jendela gedung tua yang kusam.
Anton beranjak dari kursi nya dan membisikkan rencana nya ke telinga Bu Mia.
"Apa rencana mu ini akan berhasil?" Tanya Bu Mia pada Anton dan dibalas acungan jempol oleh Anton.
Mereka berdua mengeluarkan senyuman smirks nya.
Bu Meli mengajak Niken membeli pakaian bayi, yang kandungan Niken kini menginjak umur tiga bulan. Di dalam mall mereka mencari-cari tempat yang bagus untuk membeli baju bayi.
"Bu... Sepertinya itu tempat yang bagus untuk membeli baju bayi" Niken menunjuk salah satu toko penjual baju bayi di mall tersebut. Mereka memasuki toko itu dan memilih-milih pakaian yang cocok untuk calon anak di dalam kandungan Niken.
"Bu. Kita kan belum tau anak ku ini cewek atau cowok, Bagaimana kita memilih baju untuk calon dede bayi?" tanya Niken pada mertuanya yang sedang asyik memilih dan memilah baju bayi itu.
"Sudah... Tenang saja ibu yakin cucu ibu itu perempuan, Jadi ibu memilih baju pink untuk cucu ibu ini." Bu Meli dengan semangat mengatakannya. Ia yakin bahwa cucu nya itu perempuan, maka itu ia mengambil semua perlengkapan bayi berwarna pink.
"Tapi, Bu. Kalau nanti yang keluar laki-laki gimana, kasian 'kan dede bayinya masak cowok pakai pink, Bu." Niken membuat Bu Meli ikut kasian jika cucunya itu yang keluar cowok dan memakai perlengkapan cewek.
"Aduh, Nak. Ibu malah kepikiran cucu perempuan terus. Ya sudah kita beli perlengkapan untuk keduanya saja, 'kan biar impas jika nanti lahir laki-laki atau perempuan kita sudah mempersiapkan semuanya." Ucap Bu Meli memberi saran pada Niken. Niken pun setuju dengan saran mertuanya itu.
Dan mereka berdua membeli perlengkapan bayi untuk laki-laki dan perempuan, maklum lah Sultan mah bebas.
Setelah membayar semua yang dibeli, Niken membutuhkan mobil truk untuk mengangkut semua barang belanja nya.
"Di kirim ke rumah Gio atau rumah ibu , Nak?" Tanya Bu Meli pada Niken.
"Ke rumah mas Gio saja, Bu." Jawab Niken
__ADS_1
Sebelum mereka pulang, mereka pergi untuk makan di salah satu restoran yang berada di mall tersebut, Karena Niken sudah merasa lapar setelah hampir seharian berbelanja.
Niken memanggil pelayan restoran untuk meminta menu. Ia memilih makanan begitupun Bu meli.
10 menit kemudian pesanannya datang.
Niken melahap makanannya, begitu pula Ibu Meli.
Setelah memakan habis makanannya Ibu Meli merasakan perutnya sakit.
"Niken, perut ibu kok sakit, ya. Dan kepala ibu pusing." Bu Meli menekan perutnya yang terasa sakit, wajahnya pun berubah pucat dan keringat dingin bercucuran.
Niken panik melihat mertuanya kesakitan, Ia bingung harus berbuat apa, akhirnya Ia meminta tolong pelayan yang ada di restoran itu.
"Mas, mbak. Tolong mertua saya dia kesakitan, tolong bisakah kalian membantuku membawa ke mobil yang ada di depan aku tak bisa memapahnya sendirian."
Begitu sampai didepan mobil milik Gio dan supirnya pak Ujang. Pak Ujang kaget melihat majikannya itu di papah oleh kedua pelayan restoran. Mendudukkan bu Meli pada kursi mobil.
"Terimakasih atas bantuan nya, ini tip untuk kalian berdua." Niken berterima kasih pada kedua pelayan itu dan memberikan beberapa lembar uang pada mereka yang membantu Niken.
"Loh... Nyonya besar kenapa pingsan?"
"Baik, nyonya." Ucap pak Ujang lalu menginjak gas menuju rumah sakit.
Diperjalanan Niken menceritakan kenapa mertuanya bisa pingsan pada Pak Ujang.
"Begitulah pak. Setelah makan ibu tiba-tiba merasa perutnya sakit, dan wajah ibu langsung terlihat pucat. Saya takut ibu kenapa-kenapa , Pak." Ucap Niken mengutarakan kecemasan nya pada supirnya itu.
"Sebaiknya nyonya mengabari tuan Gionino tentang keadaan ibunya sekarang."
"Iya Pak. tadi saya sudah menghubungi nya dan mungkin juga dalam perjalanan sekarang."
Sepuluh menit kemudian mereka sampai di depan rumah sakit. Setelah turun dari mobil Pak Ujang membopong ibu Meli masuk kedalam rumah sakit.
Disana dokter dan suster segera membantu Pak Ujang untuk merebahkan tubuh Bu Meli ke bangsal rumah sakit.
__ADS_1
Bu meli di masukan ke ruang IGD dan ditangani secara intensif oleh dokter yang berpengalaman di bidang nya.
Salah satu suster menyuruh Niken untuk mendaftarkan nama Bu Meli ke daftar pasien rumah sakit.
"Sebaiknya nona mengisi formulir data dari pasien ke resepsionis yang berada di pintu utama." Niken mengangguk sekilas dan pergi ke pintu utama untuk mendaftar ditemani pak Ujang.
Setelah itu Niken kembali ke pintu depan ruang IGD, ia mondar mandir terlihat sangat cemas menantikan dokter keluar dan memberitahu keadaan mertuanya.
Gio tiba dirumah sakit , Pak Ujang yang menantikan kedatangan tuannya itu lalu memberitahu posisi Niken berada pad Gio.
Sampai di ruang IGD,
"Niken... Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ibu sampai masuk rumah sakit?" Gio menatap tajam mata Niken, Diantara terkejut dan panik. Dia terkejut karena ibunya tak pernah memiliki penyakit yang kronis sebelum nya kenapa bisa sampai masuk rumah sakit.
Dan panik takut terjadi sesuatu pada ibunya tercinta.
"Mas, tadi aku sedang makan bersama ibu di restoran yang ada di mall, kami memesan makanan yang sama, kami juga memakannya bersama tapi setelah menghabiskan makanan itu, Tiba-tiba ibu merasakan perutnya sakit wajah ibu juga pucat mas, aku takut sekali terjadi apa-apa pada ibu, Mas" Niken memeluk suaminya lalu menangis.
"Tapi kau tak apa-apa kan sayang? Apa perutmu juga merasakan sakit?" Gio bertanya keadaan Niken.
Niken menjawab dan menggeleng kan kepala nya.
"Aku baik-baik saja, Mas. Aku merasa bersalah sekali tak bisa menjaga ibu dengan baik, sampai ibu seperti ini." Niken meratapi nasibnya yang ceroboh.
"Ini bukan salah mu, Niken. Kau jangan menyalahkan diri mu sendiri." Gio mengusap lembut punggung Niken.
Setelah itu Dokter IGD keluar dari ruangannya dan mencari keluarga pasien yang bernama Bu meli.
Gio menghampiri dokter yang mencari nya.
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?"
"Bu meli seperti nya keracunan makanan, pak. Tapi puji syukur kami dapat mengeluarkan makanan yang mengandung racun itu dari tubuh bu Melli.
" Hah... Racun... " Gio terkejut dan berkata demikian bersama dengan Niken.
__ADS_1
...----------------...
...****************...