
Bu Meli mengiyakan permintaan menantu kesayangannya yang kini tengah hamil cucunya. Mereka berempat menuju rumah sakit dimana Bibi pelayan di rawat.
Setelah menempuh jarak sekitar 15 menit mereka sampai rumah sakit XX yang merawat Bibi pelayan. Di sana Rega sudah menunggu kedatangan kami untuk melihat jenazahnya Bibi pelayan. Terlihat Dion berada di ruangan tersebut, diraut wajahnya terlihat menyesal membuat Gio gatal ingin bertanya bagaimana yang sebenarnya terjadi. Padahal waktu itu Dion bilang perkembangan kesehatan Bibi mulai membaik.
"Dion" Gio menepuk pundak Dion sang pemilik nama sedikit terkejut yang tadinya tak mengetahui kedatangan kami.
"Gio. Kau sudah datang rupanya." Tersenyum getir melihat kedatangan temannya, di raut wajahnya sama sekali tak bisa menyembunyikan perasaan gelisah nya yang hanya bisa di lihat oleh Gio.
"Katakan pada ku, bagaimana bisa Bibi pelayan ku itu sampai meninggal dengan kondisi pendarahan hebat di bekas lukanya, padahal kamu bilang kondisinya mulai membaik?" Tanya Gio pada sahabat nya itu.
"Aku juga bingung, Gio. Saat aku memeriksanya semalam dia baik-baik saja. Tapi tadi pagi saat aku akan memeriksa nya kembali tubuhnya kejang-kejang dan darah mengalir dari bekas lukanya." Dion menjelaskan kondisi pasien sebelum meninggal.
"Apa ada orang lain yang masuk sebelum kamu memeriksa nya?" Tanya Gio lagi.
Dion mengingat-ingat kejadian tadi pagi yang sekarang menjelang siang.
"Sepertinya ada, Gio. Tapi seorang pria, dan aku tak mengenal nya. Atau mungkinkah.... " Dion menghentikan ucapannya karena takut salah mengira.
"Di rumah sakit ini 'kan ada CCTV-nya coba kita periksa apakah pria itu yang sudah menyebabkan Bibi meninggal." Ajak Gio pada temannya.
Sementara itu di ruang jenazah Niken menangis tersedu, Ia ditemani kedua mertuanya untuk melihat jenazah Bibi pelayan nya.
Niken membuka pelan kain putih yang menutupi muka dan tubuh Bibi itu. setelah penutup itu terbuka ia melihat wajah yang pucat bibir yang kering dan juga mata yang terpejam.
"Bi... Maafkan aku yang selama ini selalu merepotkan mu, kau orang yang baik. Semoga surga menanti mu." Ucap Niken diiringi dengan air mata yang menetes. Bu Meli dan Pak Handoko saling berpandangan setelah melihat perlakuan Niken pada orang yang jelas-jelas orang lain. Adakah yang seperti Niken, menganggap pelayan adalah orang terdekat nya.
Gio dan Dion menuju ruang CCTV berada di rt mah sakit itu. Pengawas memperlihatkan ruangan yang di tempati Bibi pelayan sebelumya.
Saat itu kamera menyoroti seorang pria memasuki ruangan itu memakai masker di mulutnya. Namun ternyata Gio masih bisa mengenali nya.
"Coba zoom kameranya kearah pria itu." Titah Gio pada Pengawas itu dan melakukanya. Dion ikut antusias melihat nya.
Setelah kamera itu di zoom baru lah Gio yakin bahwa pria itu adalah Anton mantan kekasih Adelia.
"Sudah ku duga" Ucap Gio setelah melihat nya lebih dekat.
__ADS_1
"Kau mengenalnya Gio? " Tanya Dion menoleh dan pada Gio.
"Iya, aku mengenalnya. Dia adalah kekasih Adelia" jawab Gio.
"Adelia... Adelia yang menghianati kamu itu, atau ada Adelia yang lain?" Gio mendengarkan pertanyaan Dion menjadi sebal.
"Menurut mu ada orang bodoh yang mau meninggalkan aku demi pria sepertinya selain Adelia yang menghianati ku?" Gio menjawab pertanyaan Dion dengan pertanyaan yang absurd membuat orang yang mendengar nya jadi gelay.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang pada CCTV ini?" Tanya Dion pada Gio.
"Aku minta flashdisk nya dan berikan pada ku. Biar aku urus semuanya, jika hanya bukti ini tak cukup untuk menangkap nya untuk dibawa ke kantor polisi." Jawab Gio lalu meminta pengawas memberikan flashdisk pada nya.
Niken mencari keberadaan suaminya untuk memakamkan jenazah Bibi pelayan.
"Dimana mas Gio, bu?" Tanya Niken pada mertuanya.
"Tadi pergi bersama Dion, Nak. Mungkin ada urusan penting jadi belum kembali." Ucap Bu Meli.
"itu mereka datang." Pak Handoko menunjuk pada dua pria gagah yang menghampiri tempat nya berdiri. Dua pria itu Gio dan Dion, pesona mereka berdua membuat orang yang berada di rumah sakit melihatnya terpana. Hingga wanita-wanita yang melihatnya melongo dan sangat mengagumi ketampanan mereka.
"Kenapa cemberut?" Bisik Gio pada telinga Niken.
"Jangan dekat-dekat, aku malas dekat dengan mu mas. Ayo cepat kita ke pemakaman Bibi pelayan sudah akan di makamkan." Niken berjalan meninggalkan Gio yang masih bingung dengan sikap istrinya yang tak mau di dekati olehnya.
Ibu dan ayah tersenyum melihat tingkah Niken dan anaknya yang bertengkar kecil.
"Lihat 'kan Bu, Wanita itu memang aneh. bisa-bisanya marah tanpa sebab lalu meninggalkan aku begitu saja." Gio mengadu sikapnya Niken pada Ibunya.
"Dia itu sedang cemburu pada mu Gio, maklum wanita hamil mood nya selalu berubah." Ucap Bu Meli
"Hem... Benarkah? " Tanya Gio memastikan ucapan ibunya.
"Sudah ayo kita ikuti Niken, sebelum dia benar-benar marah pada mu Gio." Ucap Pak Handoko pada Gio lalu tersenyum.
Gio berjalan dengan cepat mengejar Niken yang masih cemberut.
__ADS_1
Pemakaman Bibi pelayan hanya di hadiri oleh keluarganya pak Handoko. Bibi pelayan di kota ini tak memiliki sanak saudara. Jadi kematian nya pun tak ada yang menghadiri selain keluarga pak Handoko.
Acara pemakaman itu di langsung kan dengan hikmat sampai selesai.
Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing. Gio memutuskan untuk pulang ke rumah nya bersama Niken, setelah mandi dan bersih-bersih diri.
Mereka duduk di sofa yang berada di ruang keluarga.
Gio terus membujuk Niken yang masih marah pada nya, ia mengiming-imingi beberapa hadiah pada Niken agar berhenti cemberut dan mau didekati olehnya tapi Niken tetap menolaknya.
"Sayang, katakan kesalahan ku apa, jangan menjauhi ku begini membuat ku tak nyaman " Ucap Gio memohon pada Istrinya yang merajuk.
"Bilang sayang kalau ada maunya saja." Ucap Niken membelakangi Gio yang duduk di sebelah nya.
"Aku selalu menyayangi mu, kapan pun itu." Ucap Gio lalu menarik lengan Niken lalu didekap ke pelukannya. Niken hanya terdiam, Ia sama sekali tak menolak pelukan Gio karena menurut nya nyaman.
Gio mengajak Niken untuk ke kamar. "Mau ngapain?" Sontak Niken melepas pelukan Gio.
"Tidur lah... Mau ngapain lagi, ini udah malam, atau kamu mau main itu." Ucap Gio lalu menunjuk kepemilikan Niken yang privasi itu.
Niken melotot pada Gio.
"Gak mau lah... Mas mainnya suka lama bikin aku lemes, kasian kan mas debay nya yang masih kecil udah di suruh nyanyi terus." Gio mendengar celoteh Niken tergelak tawa.
"Kamu lucu banget sih, Yang. Bikin aku gemes..." Gio mencubit pelan pipi Niken lalu menggendongnya di bawa menuju kamar.
"Eh eh... mas kenapa aku di gendong?" Ucap nya sambil melingkarkan lengan pada leher Gio.
Gio mengecup bibir Niken sekilas tanpa menjawab pertanyaan istrinya yang kini sudah tak marah lagi padanya.
Di sebuah rumah tua, seorang wanita paruh baya dan seorang pria dewasa merencanakan rencana selanjutnya untuk menghancurkan keluarga Gio.
...----------------...
...****************...
__ADS_1