
"Mas." Niken memecah keheningan, karena suaminya hanya fokus pada ponsel yang ia genggam.
"Ada apa? " Gio melirik sekilas istrinya lalu melihat ponselnya kembali.
Niken berniat untuk memberi tahu keadaan kakaknya pada Gio.
"Aku ingin bicara. Kamu letakan dulu ponsel mu, aku serius ini." Nella memegang lengan suaminya. Gio yang melihat tatapan Niken yang serius lalu meletakkan ponselnya diatas nakas samping ranjang tidurnya.
Menatap mata Niken.
"kamu mau bicara apa? katakan."
"Em... Mas jika orang yang kamu benci meminta bantuan pada mu, apakah kamu akan membantu nya dengan sepenuh hati?" Berbelit-belit
"Kenapa kamu menanyakan hal itu pada ku, itu tergantung orang yang ku benci siapa dulu."
"Lalu jika itu kak Adelia, apakah kau akan membantu nya?"
Gio baru mengerti arah pembicaraan Niken.
Sebenarnya kabar tentang Adelia sudah ia ketahui, meskipun Niken tak mengatakan nya.
Gio mengerutkan dahinya.
"Kenapa akau harus membantu nya, memangnya dia butuh bantuan ku untuk apa? Jika dia benar mau melakukan nya, berarti urat malunya udah putus."
Niken tak habis pikir, suaminya masih menyimpan rasa dendam pada Adelia.
"Apa kau tak ada sedikit pun rasa iba pada Kak Adelia, dia sekarang kondisinya sangat memprihatinkan mas." Niken menundukkan wajah sedih nya.
Gio tak suka jika Niken terlalu perduli pada Adelia.
"Itu urusannya, bukan urusan ku. Jika sekarang kondisi dia memprihatinkan, mungkin itu balasan untuk nya yang sudah mencampakkan aku sebelum nya."
Niken terdiam melihat sorot mata Gio mulai memerah, ia tak mau melanjutkan perbincangan nya membahas tentang Adelia lagi.
"Maafkan aku bu, bukan aku tak ingin membantu kak Adelia, tapi mas Gio juga tak mau melakukan nya." Gumam hati Niken, ia merasa bersalah tak bisa membujuk suaminya untuk membantu Adelia.
Diam-diam Niken mengirim pesan pada bu Mia, memberitahu jika Gio tak mau membantu masalah Adelia.
...----------------...
Di rumah sakit Adelia dirawat, ibu Mia yang mendapat pesan dari anak bungsu nya.
Setelah melihat pesan itu, kakinya terasa lemas tak berdaya, padahal ia sudah berharap banyak jika Adelia bisa dibantu oleh Gio, maka masalah ini akan cepat selesai.
__ADS_1
Belum selesai ibu Mia meratapi nasibnya, Adelia tiba-tiba mengalami kejang-kejang.
Pihak rumah sakit sudah berusaha semaksimal mungkin, namun tubuh Adelia seperti tak menerima pengobatan itu.
Pukul 23.00 Adelia dinyatakan meninggal dunia.
Ibu Mia terperosot lemas mendengar pernyataan dokter, pak Joko terpukul sekali, Anton terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
Jenazah Adelia dimakamkan di Indonesia.
Pengantar jenazah mengiringi pemakaman Adelia. Niken beserta Gio ikut dalam pemakaman itu.
"Kak. Jika aku tak mengingat kejadian yang menimpa ku sekarang, mungkin aku akan merasa kasihan pada mu, belum sempat kau meminta maaf pada mas Gio, namun kamu meninggalkan dunia ini begitu tragis, aku sangat prihatin padamu." Batin Niken.
Bagaimana pun juga dia adalah kakak satu-satunya yang ia punya. Kini telah menyatu dengan bumi. Meninggalkan sejuta emosi dan kenangan.
Pak Handoko dan Bu Meli juga berbelasungkawa atas kematian Adelia.
Ucapan demi ucapan kesedihan dan bunga berjejer di kediaman pak Joko, tanda kepedulian kolega bisnisnya.
...----------------...
Setelah pemakaman itu pak Joko duduk di teras memikirkan kematian anaknya yang begitu menyedihkan. Cairan bening itu terus mengalir membasahi pipinya.
"Nak. Nasib mu malang sekali. Secepat ini kau meninggalkan kami." Pak Joko meratapi nasib anak kesayangan nya kini telah tiada.
"Ini semua salah, Gio, Pak! Jika bukan karena dia, Adelia tak perlu keluar Negeri untuk kabur, dan dia juga tak akan mengalami hal ini." Emosi bu Mia meluap-luap kala ia mengingat sebelum Adelia pergi ia sempat disiksa oleh Gio.
Pak Joko mengelap wajahnya kasar, tak habis pikir dengan ucapan istri nya yang menyalahkan orang lain atas kematian anaknya.
"Jangan menyalahkan orang lain, bu. Gio melakukan itu karena anak kita memang sudah keterlaluan. Ibu mestinya berpikir jernih, kenapa ibu memperbolehkan Adelia pergi dengan pria seperti Anton itu. Jelas-jelas dia yang membuat anak kita menjadi seperti ini." Cerca pak Joko pada istrinya
Bu Mia terdiam mendengar ucapan pak Joko. Memang benar jika Adelia salah. Namun kematian nya tak bisa diterima begitu saja.
"Terserah bapak lah. Aku tetap tak bisa Terima dengan kematian Adelia."
"Lantas ibu mau melakukan apa? Jangan melakukan hal yang membuat mu menyesal bu." Pak Joko beranjak pergi meninggalkan ibu Mia.
Pak Joko merasa ucapan nya mungkin tak akan di dengar dan dicerna begitu saja oleh bu Mia.
Benar saja, bu Mia merencanakan untuk meneror Gio lewat Niken.Rencana demi rencana ia susun untuk menghancurkan Gio.
Prank...
Kaca rumah Gio pecah.
__ADS_1
Malam yang sunyi kini berubah menjadi malam yang mencekam.
Seisi rumah terkejut, terutama Niken. Mendengar pecahan kaca itu ia lalu turun menuju ruang tamu untuk mengeceknya.
Kondisi rumah saat itu Gio sedang ke luar kota untuk mengurus perusahaan cabang miliknya.
Hanya Niken dan pelayan yang berada di rumah.
"Bi... coba kau lihat, apa benda yang pecah itu?"
Niken memerintahkan salah satu pelayan.
Pelayan itu menemukan batu berbalut kan kertas di berikan nya pada Niken lalu membacanya.
🅙🅘🅚🅐 🅚🅐🅤 🅣🅐🅚 🅘🅝🅖🅘🅝 🅗🅘🅓🅤🅟 🅜🅤 🅓🅐🅝 🅘🅢🅣🅡🅘 🅜🅤 🅗🅐🅝🅒🅤🅡. 🅚🅐🅤 🅑🅤🅝🅤🅗🅛🅐🅗 🅓🅘🅡🅘🅜🅤 🅢🅔🅝🅓🅘🅡🅘.
Itulah isi surat yang terlempar bersama baru hingga membuat kaca pecah.
Niken terperanjat melihat isi kertas itu. Ia gemetar ketakutan, pelayan yang melihat majikan nya gemetaran memegang kertas itu pun ikut mendekat dan membacanya.
"Bi... Bagaimana ini, surat ini ditujukan untuk mas Gio, aku sangat takut." Niken merengkuh tubuh pelayannya mencari penopang kekhawatiran yang melanda.
"Nyonya jangan takut, tuan pasti bisa menyelesaikan masalah ini. Surat ini sebaiknya nyonya simpan dan tunjukkan pada tuan jika ia sudah kembali."
Niken mengangguk mengerti.
Ia kembali ke kamar. Perasaan kecemasan terus melandanya. Ia memikirkan keadaan Gio. Ingin menghubungi nya namun sudah larut malam, mungkin juga Gio sudah tidur di penginapan.
Niken tetap tak bisa memejamkan matanya. Ia kebingungan harus berbuat apa.
Setelah lelah berpikir akhirnya Niken memejamkan matanya perlahan.
...----------------...
Di penginapan Gio belum tidur, tanpa sepengetahuan Niken bila pelayan di rumah sudah memberi tahu tentang masalah di rumah pada Gio.
Rasanya ingin sekali cepat-cepat pulang, Ia khawatir sekali pada keadaan Niken sekarang.
Ia takut Niken kenapa-kenapa. Menggenggam ponsel memandangi wajah Niken.
"Niken, jangan khawatir aku akan kembali besok, sayang. Kau jangan khawatir kan aku. Aku baik-baik disini." Begitu isi pesan Gio untuk Niken, yang membuat nya bisa tertidur nyenyak.
Gio selalu terbayang senyuman nya Niken yang manis.
...----------------...
__ADS_1
...****************...