Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Sebenarnya


__ADS_3

"Mas... Lalu bagaimana dengan keadaan anak kita sekarang? Kenapa kau seperti tak mengkhawatirkan dia sama sekali!" Ucap Niken yang melihat suaminya itu santai-santai saja anaknya belum ketemu sepertinya ia belum mengetahui jika Junior sudah berada di tempat yang aman, Ya jelaslah 'kan Gio itu belum memberi tahu siapapun jika anaknya sudah ketemu, Kecuali orang tuanya.


"Iya, Bos. Kok anda sepertinya gak khawatir." Ucap Rega ikut berbicara.


"Bener tuh... !" Tambah Sila.


Sebelum perbincangan itu Sisi sudah keluar dari ruangan Gio bersama dengan Rendra yang angkat kaki dari sana. Sisi memperhatikan Rendra dari tadi, namun pria itu sama sekali tak meliriknya. Mungkin yang di pikiran Rendra sekarang hanya Niken.


Sisi mengejar Rendra.


"Mas! Eh... Maksudnya , Pak!" Panggil Sisi pada Rendra yang berjalan didepan nya.


Rendra menghentikan langkah kakinya dan menoleh pada Sisi.


"Kau memanggilku?" Tanya Rendra.


"Iya, Mas... Eh... Maksudnya.... " Ucap Sisi bingung harusnya memanggil apa pada Rendra.


"Panggil saja aku Rendra. Ada apa?" Tanya Rendra pada wanita di hadapan nya itu.


"Aku mau berbicara padamu, Rendra. Em... Kenalkan namaku Sisi." Ucap Sisi memperkenalkan diri hendak menjabat tangan Rendra namun diabaikan.


Sisi kembali menarik lengannya yang terulur. 'Sombong sekali pria ini. Lihat saja aku akan buat kamu jatuh cinta padaku.' Batin Sisi.


"Iya, Sisi. Bicaralah kau mau membicarakan apa padaku?" Tanya Rendra dengan menatap malas mata Sisi.


"Aku... Ingin tanya, apakah kau menyukai nyonya Niken?" Tanya Sisi pada Rendra.


"Kenapa kau bertanya begitu padaku?" Rendra balik bertanya.


"Karena sepertinya kau menunjukkan kesukaan mu padanya tadi." Ucap Sisi


"Jika kau sudah tau jawabannya mengapa kau bertanya lagi, membuang-buang waktuku saja." Ucap Rendra jengah


"Tapi nyonya Niken 'kan sudah memiliki suami, kenapa kau menyukai nya?" Ucap Sisi bertanya lagi.


"Sepertinya aku tak perlu memberitahu mu hal itu, gak ada hubungannya juga dengan mu." Ucap Rendra akan meninggalkan Sisi dari tempat nya berdiri.


"Tunggu!" Cegat Sisi didepan Rendra


Rendra memutar bola matanya malas menanggapi Sisi lagi.


"Apa lagi sih?!" Rendra semakin kesal.


"Jelas ini urusan ku! Jika bosku marah seperti tadi karena ulah mu itu. Kita yang di kantor ini akan menerima dampaknya juga!" Ucap Sisi melotot pada Rendra.


'Perempuan ini benar-benar mengganggu!' Batin Rendra.

__ADS_1


"Lalu... Mau kamu apa sekarang, Ha!?" Ucap Rendra gantian melotot pada Sisi.


"Minta nomer HP mu,Sekarang!" Ucap Sisi mengulurkan tangannya meminta nomer HP Rendra.


Rendra mengernyit kan dahi mendengar permintaan Sisi yang menurutnya aneh, Apakah itu metode baru mendekati seorang pria jaman sekarang, Kenapa Sisi begitu murahan😫.


"Mana ponselmu?" Tanya Sisi.


Karena Rendra tak ingin berdebat lagi, Ia lalu memberikan ponselnya pada Sisi, untuk mencatat nomor wanita itu, dan Missed call nomor Sisi.


"Sudah... Aku memberi nama 'Sisi cantik' pada Kontak nomor ku di ponselmu."


Setelah nya Sisi melenggang pergi dengan langkah ceria meninggalkan Rendra yang masih ternganga tak percaya ada wanita yang berani melakukan hal begitu padanya.


"Wanita sekarang kadang-kadang." Ucap Rendra lalu pergi meninggalkan kantor SB.


Kembali pada ruangan Gio.


"Kalian belum tau,ya. Junior itu sudah ketemu beberapa jam yang lalu." Ucap Gio.


Mereka bertiga melotot pada Gio.


"Kok kamu gak bilang dari tadi sih, Mas!!! Lalu dimana Junior sekarang??" Ucap Niken terkejut


"Untuk apa mengatakan nya padamu, yang ada di pikiran mu bukannya hanya Rendra?!" Ucap Gio membuat Niken kesal menghampiri dan mencubit suami nya.


"Sakit tauk!!" Gio mengaduh kesakitan cubitan dari Niken kecil tapi mengena. Semakin memperdalam cubitan nya karena tak mendapatkan jawaban keberadaan Junior dimana.


"Junior sekarang bersama ibu dan ayah!! Sudah lepaskan cubitan mu ini seperti kepiting saja!" Ucap Gio, Lalu Niken melepaskan Cubitan nya dan kembali duduk di Sofa.


Rega dan Sila menahan tawa melihat kedua insan yang senang bertengkar dan berselisih itu.


"Kalau mau tertawa saja, Gak usah di tahan." Ucap Gio melirik sinis Rega yang menutupi mulutnya menahan tawa.


"Maaf Bos. Bukan maksud begitu. Oh ya bos tadi menyuruh saya kemari pasti ada hal yang ingin dibicarakan bukan?" Ucap Rega mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Aku tadi sedikit lupa. Aku ingin kamu memutuskan koneksi pada perusahaan pak Kuncoro, Sekarang juga. Dan beri alasan jika SB tak menerima kecurangan yang ia lakukan akhir-akhir ini. Kau pasti sudah melihat datanya 'kan?" Ucap Gio membuka berkas laporan bulanan, terdapat kecurangan seperti penggelapan dana pada investasi di perusahaan pak Kuncoro.


"Baik, Bos. Saya akan Segera memeriksa nya!" Rega menurut Titah Gio.


"Mas, Pak Kuncoro itu bukan nya ayahnya Rendra, ya?" Tanya Niken pada Gio.


"Iya... Lalu kenapa? Kau gak rela ayahnya bangkrut sekarang!!" Ucap Gio menyelidik.


"Bisakah Tuan tak menuduh saya tanpa bukti? Ini sudah kesekian kalinya anda menuduh saya yang bukan-bukan." Ucap Niken lalu mendudukkan pantatnya ke paha Gio.


Gio berusaha membuang muka. Tak ingin melihat Niken karena hatinya masih sebal.

__ADS_1


"Hey...! Bisakah kalian melakukan itu jika sudah tidak ada orang lain disini? Sungguh tak menghargai jomblo!" Ucap Sila.


"Loh,,, kak... Bukannya kau sudah berpacaran dengan Rega belum lama ini?" Ucap Niken bertanya hal yang membuat Sila Dan Rega terlihat malu.


"Haih... Masih belum di tembak tuh... Entah nungguin sampai kapan, kakak juga gak tauk." Ucap Sila bangkit dari duduknya.


"Ya udah... Kakak mau ke rumah pak Handoko ingin melihat Junior, Kamu mau bareng gak?." Tanya Sila pada Niken


"Gak, Kak. Nanti aja bareng mas Gio. Iya 'kan mas?" Jawab Niken dan bertanya pada Suaminya yang dijawab anggukan olehnya.


"Oke kalau gitu. Kakak duluan." Sila berpamitan.


"Iya kak."


Sila lalu melenggang pergi meninggalkan ruangan Gio, Rega melihat wanita pujaan nya itu pergi lalu ikut pamit mengikuti Sila, yang sebelumnya sudah pamit pada Bosnya.


"Bos... Saya juga pamit dulu." Ucap Rega berpamitan namun di cegat oleh ucapan Niken.


"Sebaiknya kau cepat ungkapkan perasaanmu itu pada kakak ku Rega. Keburu di gaet orang nanti." Ucap Niken dan Gio mengangguk.


"Kalian menyetujui ku untuk bersama dengan Sila?Eh maksud ku nona Sila." Ucap Rega tersenyum bahagia kedua bosnya mendukung perasaan nya pada Sila.


"Iya, tentunya... Asalkan kak Sila juga menyukai mu, apapun itu kami akan mendukung mu!" Ucap Gio menyemangati Rega.


Rega lalu membungkuk dan berpamitan dengan kedua bosnya.


Seperti sudah mendapatkan lampu hijau, ia cepat melaju dan lalu mengejar langkah Sila yang kini sudah berada di pelataran parkiran depan kantor SB.


Rega memanggil wanita itu lalu Ia menghampiri pujaan nya yang tengah mematung melihat Rega menghampiri nya.


"Sila!" Panggil Rega.


"Ada apa, Mas?" Tanya Sila.


"E... Aku antar 'kan kau ya!" Rega menawarkan untuk mengantar Sila


"Bukankah kau masih ada kerjaan ya, mas?" Ucap Sila mengingatkan Rega jika dirinya masih ada pekerjaan.


"Iya juga ya. Kalau gitu kamu mau gak besok malam kita dinner berdua?" Rega


Sila tersenyum mendapatkan ajakan Rega untuk dinner. Sila mengangguk malu-malu menjawabnya.


"Yes...!" Ucap Rega kegirangan. "Baiklah... Besok aku akan jemput kamu" Ucap Rega.


"Iya" Jawab Sila.


Sila menaiki taksi untuk menuju rumah pak Handoko dan Rega kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2