Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Sikap dingin


__ADS_3

bip


bip


bip....


Suara mesin detak jantung.


Terbaring lemah tubuh itu dengan di pasangi segala alat di tubuhnya. Belum sadarkan diri, ada gerakan bibir yang tak begitu jelas.


"Air..." Begitu ia merintih suster di sana lalu meneteskan air pada bibirnya.


"Kasihan sekali wanita tua ini, di tinggalkan di rumah sakit sendirian oleh anak nya."


"Iya, benar. Jika di ingat-ingat saat mengantarkannya kemari sangat khawatir, tapi kenapa dia tega pada ibunya sendiri?"


"Aku juga tak tau. Yang penting dia sudah mau membayar nya sampai seminggu untuk perawatan wanita ini."


"Iya juga."


Perbincangan ketiga suster rumah sakit itu terdengar saat Gio dan Niken sudah sampai dan berpapasan di Koridor rumah sakit yang sedang mencari keberadaan wanita tua yang di tolong Niken beberapa hari yang lalu.


"Loh mbak ini bukannya orang yang membawa wanita tua itu, ya?" Tegur salah satu suster mengenali Niken.


"E... Iya , Sus. Em... Bagaimana keadaan dia sekarang?" Sedikit ada rasa canggung, apa lagi Gio menatap tajam dirinya.


"Keadaan Ibu anda sekarang mulai membaik, tapi mbak kenapa buru-buru pergi meninggalkan ibu anda sendirian di sini?" Tanya nya


"Maaf, Sus. Sebenarnya dia bukan ibu saya, kemaren saya buru-buru pergi untuk pulang karena anak saya menangis dan butuh Asi saya. " Niken beralasan


"Oh... Jadi begitu." Ucapnya manggut-manggut.


"Dimana wanita itu di rawat?" Gio bertanya dengan nada dingin.


"Di ruang anggrek nomor 2, Pak." Jawabnya


"Jangan panggil saya, Pak. Panggil saya tuan! Mengerti." tegasnya.


"Baik, Tuan." Suster bergidik dengan sikap Gio.


"Bagus! Ingat juga panggil dia, 'Nyonya' bukan mbak-mbak." Berlalu meninggalkan ketiga perawat itu dan diikuti oleh Niken.


Niken memasang dua jari ✌dan nyengir,


'Sikap nya benar-benar keterlaluan, tapi sekarang dia dalam mode kulkas, kalo aku menyinggung nya akan menjadi masalah besar, lagi pula ini juga kesalahan ku yang selalu membangkangnya.'


Ketika Gio dan Niken sudah jauh, suara perawat itu membicarakan sikap Gio yang terlalu.


"Ganteng sih! Tapi galak. "


"Iya, lebay juga."


"Pasti anak Sultan tuh. Suka seenaknya sendiri."


Skip...


Mereka berdua sampai di sebuah ruangan yang di maksud suster Anggrek nomor 2 .


Membuka pelan pintu kaca ruangan dan memasuki nya.


tap

__ADS_1


tap


tap


Suara langkah pelan mendekati bangsal rumah sakit,


"Apakah ini wanita tua yang kau tolong?" Gio


"I... Iya, Mas." Jawab Niken.


Gio lalu menghubungi seseorang lewat ponselnya dan menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit.


"Halo! Iya... Datang ke rumah sakit sekarang! Di ruang Anggrek nomor 2. Cepat aku tunggu!" Mematikan ponselnya.


Ternyata yang di hubungi adalah Rega yang sedang berada di kantor.


"Bos Gio ini kenapa, tiba-tiba menyuruh ku kerumah sakit, Siapa yang sakit? dan suaranya seperti sedang marah. Pasti ada masalah." Gumaman nya.


Berjalan menghampiri Sisi yang tengah berpacu pada komputer di depan nya.


"Sisi!" Panggil Rega.


"Iya , Pak!" Jawabannya lalu berdiri


"Aku akan ke rumah sakit, untuk meeting nanti siang kita reschedule saja Sampai minggu depan. Ada masalah yang harus tuan Gio dan saya selesaikan." Titah Rega.


"Baik, Pak. Tapi bagaimana jika client protes?"


"Kita batalkan kontrak nya." Singkat nya


"Baiklah, Pak. Saya mengerti." menundukkan kepala.


"Benar-benar Bos yang sulit di pahami, padahal ini proyek besar. Masalah apa yang terjadi pada Tuan Gio?" Gumam Sisi dalam hati.


Rega sudah sampai di rumah sakit. Dan mendatangi ruangan yang di maksud Gio padanya.


Rega sudah menemukan ruangan itu dan memasuki nya yang Gio dan Niken masih berada di ruangan itu.


"Permisi, Tuan. Ada apa menyuruh saya kemari?" Rega membungkuk.


"Lihat wanita itu, Aku ingin kau mencari keberadaan keluarga nya dan bawa kemari." Titah Gio


Rega memperhatikan wanita tua itu,


"Bukankah dia adalah Bu Sri, Kenapa bisa masuk rumah sakit?" Rega yang mengenali wanita itu.


"Kau mengenalnya?" Tanya Gio.


"Iya, Tuan. Dia itu Bu Sri seseorang yang mengetahui kronologi saat Nyonya Niken di tinggalkan oleh kedua orang tuanya." Jelas Rega


Niken terhenyak dan sedikit tak percaya dengan ucapan yang di dengar nya.


Ternyata wanita yang di tolong nya orang yang ada hubungannya dengan kedua orang tuanya.


"Lalu bagaimana dengan keluarga nya? Kenapa saat sakit di perbolehkan berkeliaran di pasar?" Tanya Niken.


Rega menggelengkan kepalanya.


"Dia hidup sebatang kara, tak memiliki keluarga, mungkin karena itu ia ke pasar sendirian." Ucap Rega.


"Kasihan sekali." Niken memelas pada Bu Sri.

__ADS_1


Gio menatap Niken lagi.


"Kau masih marah padaku, Mas?" Niken


Menghela nafas panjang nya.


"Rega, carikan supir untuk Niken, Biar lain kali tak melakukan hal yang membahayakan lagi." Titah nya.


Karena pak Ujang cuti pulang kampung dan ingin pensiun menjadi supir beberapa hari yang lalu.


"Baik, Bos."


Niken berniat setelah keluar dari rumah sakit nanti Bu Sri akan ia ajak ke rumah nya untuk tinggal di sana.


Ia merasa iba dengan keadaan Bu Sri yang hidup sendiri dengan kondisinya yang sakit-sakitan.


"Boleh, ya mas. Kita tampung Bu Sri di rumah kita?" Pintanya


Gio sedikit keberatan dengan permintaan Niken, Ia hanya khawatir jika Bu Sri bukan orang baik.


Namun melihat Niken bersikukuh untuk merawat Bu Sri akhirnya ia menyetujuinya.


"Baiklah,,, Terserah kau saja, Asalkan jika sedang sakit jangan sampai memperbolehkan menyentuh Junior." Peringatan Gio


"Iya, Mas. Aku paham."


Gio mengajak Rega ke kantor kembali, sedangkan Niken masih menunggui Bu Sri di rumah sakit.


Tapi bukankah rapatnya Rega sudah menyuruh Sisi reschedule. Terpaksa Ia menghubungi Sisi untuk membatalkan reschedule nya.


"Untung saja, Pak. Saya belum memberikan informasi reschedule pada client . Jika sudah bukan kah sangat merepotkan saya." Ucap Sisi.


"Iya, Bagus." Ucap Rega lega.


Kembali pada Niken yang berada di ruang rawat Bu Sri.


Dokter memeriksa keadaannya, Dan hari ini sudah di perbolehkan pulang. Niken membawa Bu Sri ke rumah nya, Tadinya beliau tak mau, namun karena paksaan dari Niken, Akhirnya ia mau.


"Ayo lah, Bu. Mau ya tinggal bersama kami." Niken memaksa.


"Baiklah, Nak. Ibu mau tinggal bersama kamu." Ibu Sri pasrah.


Sampai di rumah, Niken memberikan kamar tamu untuk Bu Sri.


Ia menyuruh Bu Sri istirahat sementara ia menyusul Junior atas perintah Gio, di antar oleh pengawalnya.


Selesai meeting Gio memutuskan untuk pulang ke rumah,


Suasana di rumah nya sedikit berbeda, Gio berjalan gontai menuju kamarnya.


Bu Sri keluar kamar mendengar suara langkah kaki di rumah itu yang menggema.


Gio melihat Bu Sri berdiri di depan pintu kamar tamu.


"Pantas saja ada sedikit berbeda, ternyata ada orang luar yang memasuki rumah ini." Ucap Gio dingin.


"Maaf, Nak. Ibu di sini atas permintaan Niken." Ucap Bu Sri.


"Iya, Nikmatilah rumah ini seperti rumah anda sendiri."


...***...

__ADS_1


__ADS_2