
"Oh ya kak. Kapan kalian akan menikah?" Tanya Niken pada kakaknya mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin bulan depan." Jawab Sila dengan raut wajahnya yang sedih.
"Tapi kenapa kakak terlihat sedih? Apakah ada masalah." Niken mendekati kakaknya
Buliran bening milik Sila tiba-tiba turun meluruh pada pipinya. Sesak di dada mengingat jika pernikahannya nanti takkan ada orang tua yang akan menyaksikan acara sakral sekali seumur hidup nya.
Tak seperti Niken, meskipun hanya orang tua angkat, namun setidaknya ia merasakan kasih sayang kebahagiaan sebagai seorang anak.
Sejak kepergian orang tuanya, Sila hanya hidup bersama paman dan bibi nya, tapi setelah mulai beranjak dewasa, paman dan bibinya meninggal dunia. Sungguh hari-hari ia lewati dengan penuh perjuangan.
"Katakan sesuatu, Kak. Jangan menangis." Niken ikut bersedih.
Rega menatap nanar wajah calon istrinya yang tengah menangis. Ingin menyentuh dan memeluknya agar mengurangi perasaan sedih yang menimpa hatinya. Namun tak mampu, sebab ia belum sah untuk melakukannya.
"Aku sedih sekali bila ingat, jika kita sudah tak memiliki orang tua .Pernikahan ku nanti bukankah seharusnya bisa di dampingi oleh mereka. Tapi..." Niken segera memeluk kakaknya, sebab kata yang akan terucap pasti menyakiti hatinya, Berharap pelukan itu bisa menjadi saling menguatkan.
Gio terharu melihat kedua wanita yang tengah berpelukan.
"Kakak jangan berbicara begitu, orang tua kita selalu ada di sini, di hati kita.Jadi jangan bersedih lagi, aku juga akan selalu mendampingi kakak dalam acara pernikahan kalian. Oke!" Niken tersenyum namun dengan air mata yang bergelayut di kantung matanya.
"Terima kasih ya, Dik. Kakak merasa lebih baik sekarang." Ucap Sila menghapus air matanya dan memeluk Niken kembali.
Kedua pria hanya saling berbisik.
"Heh... Rega. Melihat mereka berdua membuat ku iri dan ingin memiliki saudara kandung" Ucap Gio asal.
"Benar, Tuan. Chemistry mereka sangat kuat." Sahut Rega.
Sila teringat makam kedua orang tua yang sudah lama tak di kunjungi. Lalu mengajak Niken untuk ke makam kedua orang tua mereka.
"Niken, Bagaimana bila akhir pekan ini kita ke makam ayah dan ibu?" Tanya Sila.
"He'em iya, Kak. Aku juga ingin sekali mengetahui makam mereka." Anggukan Niken, yang memang belum pernah di bawa kakaknya untuk berkunjung ke makam ayah ibunya.
Sila tersenyum mendapatkan anggukan Niken.
"Baiknya kalian mengajak pria tampan di antara kami disini jika ingin pergi kemana-mana." Gio dengan kepedean tingkat dewa.
"Jika kalian mau, kalian juga bisa ikut tanpa harus kami ajak, bukan?" ujar Niken
"Iya... Kalian seharusnya bisa basa basi dan mengajak kami." Gio
Mereka semua tertawa mendengar kekonyolan yang mereka ciptakan sendiri.
Hari sudah malam, Rega dan Sila sudah pulang,
__ADS_1
Akhirnya waktu istirahat telah tiba, Niken membenarkan sprei yang sedikit lungset.
Tiba-tiba Gio memeluknya dari belakang.
"Sedang apa?" Gio bergelayut pada pinggang Niken, Ia sedikit terkejut mendapatkan pelukan suaminya.
"Mas Gio! Aku sedang memberi makan ikan." Menjawab dengan asal.
"Mana ikannya, Memang nya di kamar ini ada ikan?" Gio yang berpura-pura bodoh.
"Ih... Mas Gio 'kan tau aku sedang apa? Masih aja tanya! Lepasin tangannya, Aku pengen tidur."
"Gak mau! Aku ingin kita tidur seperti ini" Dengan nada manja.
"Yang benar saja, Mas. Permintaan mu ini aneh tauk." Niken dengan sebal melepaskan pelukan Gio.
Berbalik menatap Gio dan menyentuh wajahnya.
"Ada apa?" Gio juga menatap Niken namun wajahnya penuh dengan kegelisahan.
"Aku takut, Mas." Jawaban Niken yang ambigu.
Gio mengernyit mendengar nya.
"Takut! Takut apa, Sayang?" Ingin mendapatkan jawaban yang pasti.
Bila saja tau kegelisahan itu terjadi akibat beberapa hari ini Niken bertemu dengan seorang yang sangat menyedihkan.
FLASHBACK ON
Brugh...
Niken menabrak seseorang saat berbelanja di pasar hingga hampir tersungkur, Seseorang itu adalah wanita paruh baya dengan pakaian sedikit kusut, wajah yang pucat, seperti sedang sakit,segera Niken membantunya berdiri,
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja."
"Tak apa, Nak. Aku baik-baik saja." Ucap Wanita itu.
'Aku seperti ada feeling dengan orang ini.' Batinnya
Tak di sangka wanita itu tiba-tiba tak sadarkan diri, untung saja Niken segera menangkap nya.
Niken meminta tolong pada para pedagang di pasar sana. Agar segera membantunya membawa Wanita tua itu ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit,Niken sangat khawatir dan bingung harus menghubungi siapa, Sedangkan orang yang di tolong nya adalah orang yang baru saja ia temui.
Wanita tua itu juga tak membawa kartu Identitas nya, membuat nya semakin gelisah, kebetulan waktu itu ia ke pasar sendirian, dan menggunakan taksi online diam-diam.
__ADS_1
Padahal Gio sudah berkali-kali memperingati Niken untuk bersama salah satu anak buahnya jika pergi, sebabnya itu Niken takut untuk mengatakan pada Gio jika ketahuan tak mematuhi peraturan nya.
Akhirnya Niken meninggalkan wanita paruh baya itu di rumah sakit, namun sudah membayar untuk satu minggu kedepan untuk perawatan wanita itu.
**Flashback off
Kejadian itu terjadi sudah ada tiga hari**.
"Mas kau tak marah 'kan padaku?" Niken sudah menceritakannya pada Gio,wajahnya yang manja berubah menjadi gelap.
Seakan kecewa dengan Niken yang selalu membangkangnya setiap sesuatu yang fatal ia lakukan.
Sebenarnya bukan masalah ia menolong orang, namun tak pernah ia berpikir jika yang di tolong nya berbuat jahat padanya, itu yang membuat khawatir.
"Aku tak marah padamu." Dengan nada datarnya.
"Tapi kau kelihatan tak suka dengan yang ku katakan barusan."
"Sebaiknya besok kita ke rumah sakit, melihat wanita yang di tolong mu bagaimana keadaan nya." Gio sudah dalam mode kulkas di colokan,
"Baiklah Mas." Niken sudah merasa bersalah, Suaminya itu sekarang bergiliran marah padanya.
Malam berganti pagi Gio masih dalam mode kulkasnya. Niken merasa tak enak hati jika di abaikan olehnya.
Berniat memecah keheningan malah yang di dapat kedinginan.
Pagi itu di ruang makan saat Gio sedang membaca koran.
"Mas. Aku buatkan teh, ya." Tawaran nya.
"Gak usah." Ucap Gio dingin.
"Tapi kau belum sarapan, Mas." Ucap Niken
"Nanti Aku sarapan di kantin kantor. Kau siap-siap saja. Kita ke rumah sakit sekarang." Titah Gio sudah tak ingin membahas apapun dengan nya.
Niken semakin bersalah. Ia sudah benar-benar membuat Gio kecewa.
'Bodohnya aku selalu membuat masalah baru untuk diriku sendiri, tapi siapa yang tau jika hal itu akan menimpa ku' Merutuki diri sendiri.
Mereka ke rumah sakit hanya berdua. sedangkan Junior di titipkan pada Bu Meli.
Kejadian itu tak di ceritakan oleh Gio pada orang lain.
Alasan Gio menitipkan Junior adalah ingin membawa Niken ke acara penting.
...***...
__ADS_1