
"Memang nya kamu siapanya Niken, Bicaramu ketus sekali anak muda." Bu Sri
"Aku..." Menunjuk diri sendiri
"Aku suaminya." Ucap Gio dingin dan berlalu meninggalkan Bu Sri yang tengah berdiri memandang punggung Gio yang sudah berlalu ke kamar nya
Bu Sri geleng-geleng kepala mendapati perilaku Gio yang tak sopan terhadap orang yang lebih tua dari nya.
Bu Sri kembali masuk ke kamar nya. Alih-alih mendapatkan tempat tinggal di rumah yang bagus merasakan nyaman, nyatanya penghuni rumah tak menerimanya dengan baik.
Sementara Niken sedang dalam perjalanan pulang, ia sehabis menjemput Junior dari rumah Mertuanya, karena tak sempat memasak dan hari sudah gelap ia memutuskan untuk membeli makanan di restoran langganan suaminya.
Beberapa Menit kemudian Mobil yang di kendarai Niken sudah sampai pelataran rumahnya.
"Ayo kita turun. Nak" Niken berbicara sendiri dengan anaknya yang masih tertidur.
Suasana di rumah nya begitu sepi, padahal Bu Sri 'kan sudah ada di rumah.
Setelah Niken menidurkan Junior di kamar nya, ia berniat mengajak Bu Sri untuk makan malam.
"Bu Sri!" Niken memanggil dari balik pintu kamar seraya mengetuknya.
Pintu kamar itu terbuka.
"Iya, Nak Niken,?" Sahutnya.
"Bu, kita makan malam, yuk. Aku tadi sudah membeli makanan dari restoran." Ajaknya
"Iya, tapi ibu tak enak dengan suami kamu." Ucapnya dengan raut wajah sedikit sedih.
'Apa Mas Gio sudah pulang? dan sudah bertemu dengan nya. Apa sikapnya masih dingin pada Bu Sri dan membuat nya tak enak hati.' Gumam hati Niken.
"Bu Sri jangan canggung,begitu. Em... Mas Gio sudah pulang, ya?" Tanya Niken lalu tersenyum.
"Iya. Tadi dia masuk kamar itu." Ucap Bu Sri menunjuk salah satu ruangan.
"Baiklah, Bu. Tunggu di ruang makan dulu, saya mau panggil mas Gio untuk makan bersama."
Bu Sri hanya mengangguk dan menuju ruang makan dekat dapur.
Niken menuju kamar, mendapati suaminya tengah tertidur terlentang sembarangan arah di atas kasur dengan masih menggunakan sepatu dan kemeja yang berantakan.
Raut wajah Seperti lelah sekali setelah seharian bekerja.
Niken melepaskan sepatunya pelan-pelan. Takut jika terbangun, dan murka. Sebab Jika Gio sedang lelah emosinya suka naik turun.
Gio terbangun merasakan gerakan lembut seseorang melepaskan sepatu nya.
Dia lalu terduduk di tepi ranjang mendapati istrinya tengah memberikan pelayanan untuk nya.
__ADS_1
"Kau bangun, Mas." Ucap Niken melihat suaminya terbangun.
"Hem...." Jawabnya hanya berdehem pada Niken, seperti nya dia masih marah padaku.
"Kita makan malam bersama, ya Mas." Ajak Niken makan malam bersama dengan Bu Sri juga
"Dengan Bu Sri juga?" Dahinya mengernyit
"Iya." Tersenyum
"Aku malas! Awas aku mau mandi!" Gio melewati Niken begitu saja
"Tapi Mas! Bukankah..."
"Aku gak lapar! Kau makan lah bersama nya."
Kenapa mas kau bersikap Seolah-olah aku sudah salah meminta Bu Sri untuk tinggal disini.
Akhir pekan telah tiba, Niken sudah bersiap untuk ke makam orang tuanya bersama dengan Sila, juga di temani oleh Gio juga Rega.
Mereka berempat melaju ke tujuannya menggunakan mobil dan yang menyetir Rega.
"Junior dengan siapa di rumah, Ken?" Tanya Sila
"Tadi aku titipkan dengan mertua ku kak." Jawab Niken
"Mas... Mas... Nanti berhenti di depan ya, Aku mau membeli bunga dulu." Pintanya Sila pada Rega
Gio berada di kursi penumpang membuang muka pada Niken, malah memandangi pemandangan dari luar lewat kaca mobil,
mengingat pagi tadi saat sarapan Bu Sri membuat nya kesal karena sudah mengotori kemejanya dengan menumpahkan segelas susu di atas meja makan yang seharusnya ia minum.
Niat Bu Sri mengambilkan minum untuk Gio, namun karena tangannya gemetaran membuat gelas itu terguling dari genggaman nya. Untung saja tak sampai pecah.
klang....
Bunyi gelas berguling tumpah 'lah susu segar yang masih hangat hingga mengenai pakaian Gio.
Gio melotot tajam meremas jemarinya sendiri menahan amarah, baju yang sudah rapi di kenakan olehnya, kini sudah menjadi lengket karena air susu.
"Maafkan Ibu, Nak. Saya gak sengaja." Bu Sri dengan nada gemetaran
"Jika tak becus jangan berlagak, hanya menambah masalah bagiku!" Pekiknya menatap tajam Bu Sri.
Bu Sri hanya menunduk ketakutan
"Mas... Kenapa harus marah, sih! Bu Sri tak sengaja. 'Kan bisa ganti baju lain." Ucapan Niken membuat Gio semakin marah karena malah membela Bu Sri ketimbang dia.
"Terserah!" Bentaknya lalu beranjak pergi menuju ke kamar untuk menggantikan bajunya yang basah.
__ADS_1
"Maafkan Mas Gio ya, Bu. Dia akhir-akhir ini sering kecapean kerja, jadi sedikit emosian." Ucap Niken pada Bu Sri memberikan pengertian untuk memahaminya.
"Iya, Gak papa, Nak. Ibu paham."
Di walk-in closed Gio mengumpat tak habis-habisnya, kesal dan sangat marah.
"Sial!!! Badan ku jadi lengket dan harus mandi lagi!" Umpatan nya
Kembali pada posisi di mobil. Niken masih terdiam melihat suaminya yang masih terlihat kesal.
"Kak. Aku ikut kamu beli bunga, ya." Ucap Niken kala kakaknya akan turun dari mobil yang sudah berhenti di depan toko bunga.
"Ayo, Dek." Ajak Sila, mereka berdua turun dari mobil
Rega melihat dari kaca spion bos-nya itu menjadi pendiam setelah memasuki mobil. Dan sorot matanya terlihat kesal.
"Kenapa anda terlihat kesal dari tadi tak mengobrol sama sekali dengan nyonya. Apa ada masalah, Bos?" Tanya Rega
Gio menghela nafas panjangnya. Akan bercerita tentang kekesalannya pada Rega.
"Aku kesal dengannya, Yang selalu membela Bu Sri, meskipun dia salah tetap saja, ia membelanya." Gio
"Mungkin Nyonya terlalu baik jadi memandang orang lain tak seperti kita," Rega.
"Entahlah, Reg. Aku seperti nya tak suka pada Bu Sri, Sedikit muak karena sikapnya pada Niken seperti di buat-buat." Gio
"Benarkah, Tuan? Lalu anda sudah memberi tahu Nyonya tentang itu." Rega.
"Tidak! Aku malas berdebat dengan nya lagi. Biarkan saja!" Gio dengan kesal mengatakan nya.
Setelah nya Niken dan Sila sudah membeli bunga untuk nyekar.
Sesampainya di TPU umum, mereka semua menuju makam lalu mendoakan kedua orang tua Niken dan Sila.
Tak lupa juga Sila meminta restu untuk pernikahan nya dengan Rega.
"Bu, Ayah. Aku sebentar lagi akan menikah dengan pria yang sangat aku cintai, restuilah kami dari surga tempat kalian tinggal saat ini. Dan Ini Niken, bu. Adik aku yang selama ini aku cari sudah ketemu." Ucap Sila penuh isak tangis
"Ayah... Ibu...."
Niken menangis melihat nisan kedua orang tuanya.
...***...
Acara pernikahan Sila dan Rega akan di langsung kan seminggu lagi.
Semua orang mempersiapkan pernikahan itu dengan suka cita.
Gedung mewah nan megah sudah menjadi pilihan untuk melangsungkan acara akad dan resepsi pernikahannya.
__ADS_1
...****...