
"Aduh... Malah nabrak lagi." Memukul dahinya sendiri karena ceroboh.
Pengemudi mobil itu turun lalu menghampiri Rendra. Ia meminta pertanggungjawaban atas kecerobohan Rendra menabrak mobil bagian belakang bemper hingga lecet.
"Wah gimana sih Mas kalo naik motor kok bisa sampai nabrak gini. Saya bisa dimarahin bos Saya nih gara-gara mobilnya lecet." Pak Ujang gelisah sambil memeriksa bemper mobil yang lecet. Ia baru saja mengantar Gio ke kantor.
"Saya minta maaf Pak. Bapak juga sih ngerem mendadak 'kan jadi ke tabrak saya." Rendra yang tak mau sepenuhnya di salahkan. Ia malah balik menyalahkan supir itu, padahal jelas Rendra tadi melamun saat menyetir motor karena memikirkan keberadaan Niken yang belum bertemu.
"Mana bisa gitu mas, Kamu sendiri pasti nyetirnya sambil melamun makanya sampai nabrak mobil bos saya mana ada duit buat ke bengkel jelas habis banyak ini , Saya minta ganti rugi mas." Ucap pak Ujang mengesah lalu mengulurkan tangannya meminta ganti rugi pada Rendra.
"Lah... Berapa emang nya aku harus ganti rugi sih?" Rendra yang berlagak lalu mengeluarkan dompet disaku celananya.
"Kayaknya sejuta ini, parah banget kok lecetnya." Pak Ujang memperkirakan biaya perbaikan mobil.
Rendra mengeluarkan isi dompet nya lalu memberikan sejumlah uang pada Pak Ujang.
"Lain kali ya mas kalau mau nyetir jangan melamun, masih untung gak kenapa-kenapa sampean." Ucap Pak Ujang menasehati Rendra.
"Iya iya Pak. Saya tau." Kesalnya dapat telaah dari orang lain.
Pak Ujang mengurung kan niatnya untuk pulang ke rumah majikan nya dan ke bengkel untuk memperbaiki mobil yang lecet.
Sedang Rendra masih berkeliling mencari Niken.
...----------------...
Seblakkk... Seblakkk... Seblakkk...
Teriak penjual keliling sampai terdengar dari teras rumah orang tua Gio yang luas nya hampir 100 meter dari gerbang pintu utama dan saat itu Niken sedang menyiram tanaman di halaman rumah merasakan ngidam ingin makan seblak. Buru-buru ia memanggil satpam untuk memberhentikan penjual seblak itu.
"Pak... Pak satpam berhentiin tukang seblak itu, Pak. saya mau beli! " Niken meneriaki satpam yang berada di pos utama lalu berlari menuju pintu gerbang diikuti oleh bodyguard yang di urus oleh suaminya, Niken lupa bahwa ia tengah mengandung benih Gionino berlari seperti itu bukankah bahaya untuk janinnya.
"Nyonya jangan berlari, Nyonya kan sedang hamil." Salah satu bodyguard mengingatkan Niken yang sedang hamil.
"Oh iya aku lupa, saking semangatnya ingin makan seblak, Pak. He he he" Niken menyunggingkan senyuman manisnya lalu berjalan biasa.
Sampai di depan pintu gerbang Niken minta dibukakan ingin keluar membeli seblak tapi dihalangi oleh satpam dan bodyguard.
"Biar saya saja Nyonya yang beli, Nyonya tunggu disini saja." Ucap satpam itu.
"Tidak... Aku ingin membelinya sendiri."
__ADS_1
"Tapi Nyonya besar tadi sudah berpesan sebelum pergi untuk tak memperbolehkan Nyonya Niken keluar dari rumah ini." Ucap pak satpam yang khawatir dan menyampaikan pesan tuannya.
"Ya Ampun, Pak. Cuman di depan situ aja kan kalian masih bisa merhatiin aku dari sini." Ucap Niken yang kekeh ingin keluar.
"Kalau begitu biar tukang seblak nya suruh masuk aja, Nyonya." Satpam memberi saran tapi tak di gubris oleh Niken ia tak mau jika tukang seblak itu masuk ke dalam halaman rumah.
"Tidak... Aku maunya makan di luar gerbang titik, Aku ini lagi ngidam, Pak." Bodyguard yang menjaga Niken mengedikkan bahu ia juga tak tau harus berbuat apa melihat istri bosnya yang keras kepala, lalu pak Satpam membukakan pintu gerbang dan segera Niken menuju tukang seblak.
Setelah beberapa saat memesan tiga porsi untuknya sendiri, kursi plastik di letakan untuk duduk Niken, Ia memakan lahap seblak pedas pesanannya. Orang yang melihat Niken menelan saliva nya, wanita sekecil itu bisa menghabiskan tiga porsi seblak dalam waktu cepat apalagi itu level terpedas.
"Non, lapar ya?" Tanya tukang seblak yang terheran dengan cara makan Niken yang cepat.
"Sebenarnya gak terlalu lapar sih, Pak. Saya lagi ngidam, jadi maaf ya pak kalau Saya aneh" Niken nyengir meletakkan piring kosong di atas gerobak seblak.
"Oh... Non ternyata lagi ngidam, wajar saja kalo begitu biasanya bawaan bayi, Non." Ucap tukang seblak yang sudah paham dengan tingkah orang hamil.
"Pak... Nanti buatin juga untuk satpam dan yang lainnya ya. Saya boking seblak bapak, seblak bapak enak."Niken meletakan beberapa lembar uang untuk penjual seblak itu.
" Baik baik Non Saya akan buatkan. Anda baik sekali Saya hari ini bisa pulang cepat"
Rasa syukur kepada Tuhan dan terimakasih di ucapannya karena Niken sudah membuat dagangannya habis dengan cepat.
"Niken! " Panggilnya Rendra pada siang empu nama.
Niken menoleh ke arah suara yang memanggil nya.
Ada kekhawatiran dihati Niken, Ia takut suaminya akan marah.
"Rendra... Ada apa?"
Rendra akan mendekat tapi dihadang oleh bodyguard Niken.
"Tidak apa-apa Pak, dia teman ku." Niken menyuruh penjaganya membiarkan Rendra mendekatinya. Bodyguard itu mundur namun masih memperhatikan.
"Aku mencari mu sampai ke rumah orang tua mu tapi kamu tak ada malah disini, ini rumah siapa Nik?"
"Ini rumah mertua ku, sudah lama aku jarang pulang ke rumah orang tua ku semenjak aku menikah, Ren. Lalu untuk apa kau mencari ku?"
"Aku hanya ingin memberikan ini." Rendra memberikan beberapa kertas tugas dari dosen.
"Sebenarnya kamu kemana saja, sudah lama gak kuliah, lebih baik kamu ngambil cuti aja." Sambungnya lagi, Niken menerima kertas tugas itu,
__ADS_1
"Iya aku juga berpikir ingin cuti dulu, tapi Kenapa mesti diprint, kan bisa dikirim lewat e-mail juga bisa, tak perlu kamu mengantarnya begini."
Rendra menggaruk tengkuk nya yang tak gatal sebenarnya bisa begitu Niken, tapi Rendra rindu ingin bertemu kamu.
Sedang mereka mengobrol berdua, seseorang dengan mata sengit dan sebal melihat dari jauh.
"Sedang apa kamu disini?" Gio melotot pada Rendra.
"Mas sudah pulang." Niken tersenyum melihat kedatangan suaminya pulang dari kerja, namun dalam hatinya. ' Mati aku mas Gio pasti marah nih'
"Hem... " Gio hanya mendehem tanda kekesalan yang tertahan. Gio melirik tajam Rendra yang hanya diam saja di tanya olehnya.
"Aku mengantar kertas tugas untuk Niken, jika kau tak percaya tanyakan sendiri padanya." Ucap Rendra santai.
"Heh... Alasan mu bagus juga, bukannya sekarang sudah canggih ya, kenapa repot-repot membuatnya menjadi sulit, atau kamu memang sengaja ingin bertemu istri ku. Hah! " Bentak Gio pada Rendra
"Kalau iya memang kenapa? Aku kasian pada istri mu menikah dengan pria galak seperti mu, sampai mengunjungi orang tuanya pun jarang, atau malah gak pernah." Rendra yang tak mau kalah bentak
"Diam! Kalau tak tau apa-apa jangan ikut campur urusan keluarga ku. Atau... " Gio melemparkan bogem mentah pada Rendra. Pak Ujang yang melihat pertengkaran itu segera turun dari mobil bosnya untuk melerai.
"Aduh, Tuan. Jangan berkelahi di pinggir jalan begini malu di lihat orang. Dan kalian kenapa tak melerai bos kita, malah menonton. " Pak Ujang kesal satpam dan yang lainnya bukannya melerai tuannya malah menonton nya berkelahi.
"Sudah Mas... Jangan tersulut emosi" Nella menenangkan suaminya yang matanya sudah memerah. Sedangkan Rendra pipinya bengkak dan bibir nya berdarah karena pukulan Gio sangat keras.
Pak Ujang membantu Rendra berdiri, Ia seperti mengenali pria yang di bantunya.
"Loh... Ini bukannya mas yang tadi nabrak mobil bos saya, ya" Ucap Pak Ujang mengira pas sekali dengan pria yang di maksud.
"Oh... Jadi dia yang sudah menabrak mobil saya, dan membuat saya pulang terlambat gara-gara kamu" Gio yang marah ditambah lagi kekesalannya mendengar bahwa yang menabrak mobil nya juga Rendra.
"Cih... Lalu kamu mau apa, aku kan sudah ganti rugi. Itu berarti aku sudah lepas dari tanggungjawab ku."
"Sudah salah, tapi tak mau minta maaf, kamu ini benar-benar menantang ku ya. Tunggu kabar dari ayah mu, kau akan menyesal sudah berurusan dengan siapa. Niken ayo masuk! " Gio menarik lengan Niken menyuruh nya masuk ke rumah Niken hanya menurut dengan titah suaminya.
"Dasar pria pengecut beraninya mengancam orang tua ku."
"Mas, sebaiknya kamu pulang segera, sebelum tuan tambah marah pada kami." Titah pak Ujang pada Rendra.
Rendra mendengus kesal dan melajukan motornya dengan kasar.
...****************...
__ADS_1