
,
,
,
drett dreett
Ponsel Niken bergetar, Di lihat nya layar ponsel tertulis nama Ayah. Di pencet nya tombol hijau.
"Halo Ayah. " Sapaan untuk ayah yang ada di seberang sana
"Halo Niken, bagaimana kabar mu nak?" Tanya ayah suara di seberang sana
"Aku baik-baik saja ayah. Lalu keadaan ayah bagaimana? " Tanya Niken balik,
"Ayah, baik-baik juga, nak. " Jawab ayah namun dengan suara yang sedikit bergetar, mata yang mulai mengembun, membuat Niken bertanya dalam hati'mengapa suara ayah tak seperti biasanya, apa yang sedang terjadi' .
"Emh... ayah, apa yang membuat ayah menghubungi aku, adakah hal yang mengganjal di hati ayah? " Tanya Niken mencari tau keadaan sebenarnya tentang ayah.
"Ayah, tak apa-apa nak. Hanya rindu ingin mendengar suara mu. " Suara pak Joko hampir terisak. ' Anak ini meskipun bukan anak kandung ku, tapi ia menghargai ku lebih dari anak ku sendiri, andai kau tau nak aku ini bukan ayah kandung mu, masihkah kamu menghormati ayah, nak. ' Gumam hati pak Joko yang mulai menitikan air mata.
"Eh.. Ayah, jika ada sesuatu katakan saja, aku akan mendengar kan ayah. " Ucap lembut Niken pada ayahnya.
"Iya, Nak. Ayah baik-baik saja, sudah dulu ya, ayah mau melanjutkan kerja lagi. " Ucapnya ingin mengakhiri percakapan lewat telfon.
"Baiklah, ayah. Jika tak ada hal lain, tapi ayah jaga diri baik-baik, jangan lupa makan. Aku sangat rindu pada ayah. " Ucap Niken manja.
"Iya, ayah tau. Jika kau dan suami mu ada waktu, ayah ingin bertemu. " Pinta ayah Niken meradang dengan permintaan ayahnya. Gionino akankah mau menemui ayah, sedangkan ia masih kecewa dengan tindakan kak Adelia. Namun, Niken mengiyakan agar ayah tak kecewa.
"Emh.. iya ayah, akan ku tanyakan pada mas Gio tentang hal ini, jika ia tak bisa bertemu dengan mu, apakah ayah tak keberatan jika aku saja yang datang? " Tanya Niken memastikan
'Benar saja ucapan Niken, mana mau Gio menemui aku, ayah yang tak bisa mendidik anak dengan baik, sekarang Adelia malah kabur entah kemana, melihat sifat dominannya itu, tak semudah itu ia melupakan kejadian sebelum nya. ' Gumam hati pak Joko.
"Iya, tak apa nak. Ayah mengerti kesulitan mu untuk membujuk nya. " Ucap Pak Joko paham.
"Iya, ayah. Terima kasih atas pengertian nya." lalu mereka memutuskan percakapan di handphone bersamaan.
Hati Niken masih gundah, apa sebenarnya yang ingin ayah katakan, mengapa suaranya begitu sedih ku dengar.
Malam pun tiba, Gio baru pulang dari kantor di kejutkan dengan kabar dari pelayan jika ayah Niken menelpon,
Untuk mewujudkan keinginan Niken ingin bertemu ayah,
Malam itu Niken memasak untuk Gio, Di sediakan bermacam hidangan untuk menyenangkan suaminya .
__ADS_1
"Kau memasak? " Ucap Gio tak percaya.
"Iya, mas. kata ibu masakan ku enak, mas cobalah! " Ucapnya dengan senyuman manis, membuat Gio menarik salah satu sudut bibirnya seperti sudah tau niat maksud Niken.
"Katakan, apa mau mu? " Tanya nya Sambil melahap makanan yang sudah ada di piring di hadapan nya.
"Eh.. Aku tak ada niat apa pun mas, Percayalah pada ku, hehe..
Bagaimana masakan ku, enak kan? " tanya Niken lagi.
"Lumayan..! " Sambil manggut-manggut.
"Apa? lumayan.. heh.. Capek capek aku memasak hanya bilang lumayan. " Gumam Niken yang masih terdengar oleh Gio.
Gio hanya tersenyum mendengar nya.
Niken memandang wajah Gio,
'Ah.. Dia tersenyum, tampan juga. ' Batin Niken,
"Kenapa memandang ku seperti itu? kamu mulai jatuh cinta pada ku, ya! " Goda Gio dengan ucapannya.
"Ah.. siapa yang memandang mu! Ge er.. " Ucapnya memutar bola matanya malas.
"Besok kita ke rumah Orang tua mu. " Ucap Gio dingin.
"Be_benarkah mas, kita akan ke rumah orang tua ku? " Tanya nya meyakinkan.
"Iya. Apa kau tak mau? " Ucap Gio
"Mau. mau mas! " Jawabnya antusias.
'Tak sia sia aku memasak, eh tapi kenapa mas Gio tiba-tiba mengajak ku ke rumah ayah, atau dia mendengar percakapan ku dengan ayah. ah.. terserah! yang penting aku ke rumah ayah. aku rindu sekali dengan ayah. ' Batin Niken
Makan malam selesai.
Niken membantu pelayan membereskan meja makan, awalnya di tolak namun karena Niken memaksa pelayan pun membiarkan nyonya nya untuk membantu.
"Wanita ini memang istimewa, di beri bahagia sedikit iya langsung bersemangat. " Gumam Gio yang memperhatikan istrinya yang masih berkutat di dapur.
"Niken, ! " Panggil nya Gio.
"Iya mas. " Niken Berjalan menghampiri
"Duduk! " Menepuk pelan sofa yang berada di samping nya, menyuruh Niken duduk.
__ADS_1
"Ada apa mas? " Ucapnya lalu duduk di sebelah Gio.
"Apa kamu tak lupa sesuatu? " Tanya Gio
"Lupa sesuatu apa? " Niken yang tak mengerti ucapan Gio
Gio mendekat ke wajah Niken.
Mereka saling berhadapan.
"Ap_apa yang... " Gio mengecup lembut bibir Niken.
"Mas.. " Ucap Niken malu pipinya merah.
"Huh.. Gadis pemalu. Apa kau sepolos itu?" Ucap Gio menyudutkan hati Niken
"Maksud kamu bilang begitu apa, Mas? Aku ini masih perawan ya. " Ucap Niken kesal.
"Benarkah? " Ucapnya mencepit dagu Niken dengan kedua jarinya
Menghempaskan tangan Gio. Lalu beranjak pergi.
"Aku tak peduli kau percaya atau tidak mas, tapi yang ku katakan ini bukan kebohongan, Jika mas tak bisa menerima ku, Aku tak akan memberikan kesucian ku pada mu, biar pun aku berdosa, aku tak ingin memberikan pada orang yang tak menginginkan ku dan orang yang tak mencintai ku! " Ucap Niken lalu berlari ke kamar.
Gio hanya mencerna perkataan Niken.
"Huh... Gadis yang sulit di pahami. Tapi jika yang dikatakan benar, lalu untuk apa aku menikahi nya. Jika aku tak boleh menyentuh nya. " Gio termenung.
Di kamar Niken memutuskan untuk mandi, setelah itu berbaring di atas ranjang,
Bergumam
"Pria itu, kadang dingin, kadang hangat, tapi kenapa aku bisa mulai merasakan getaran ini,
Entah apa yang ku rasakan ini benar atau salah. " Niken lalu memejamkan mata untuk tidur.
Gio memperhatikan wajah Niken.
Berbaring di sebelah Niken. . Pria mana yang tak tertarik dengan wanita secantik Niken, Gio tak ingin memaksa kehendak birahinya, ia takut Niken akan kecewa bila ia tak bisa membuat Niken bahagia, mengingat depresi Niken yang terkadang tak terkontrol.
"Wanita ini berbeda dengan wanita lain, ia tak pernah membenci orang tua nya meskipun telah membuat nya kecewa. " Gio terkagum dengan wajah manis Niken saat tidur.
*Malam yang dingin, hujan turun derasnya. Tak mendinginkan hati yang panas akan kehidupan yang penuh dengan kebohongan dan kedustaan, tak hentinya orang saling membenci karena rasa persaingan yang tak ingin kalah dari orang lain. *
...****************...
__ADS_1
{Mohon dukungannya} (❁´◡`❁)