Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Bukan wanita pilihan suamiku.


__ADS_3

"Mas! Kau mendengarkan aku tidak! Aku ini sedang berbicara kepada mu!" Niken berteriak-teriak di depan Gio.


"Heh... Kau bisa lihat sendiri 'Kan! Nina adalah istri yang ku pilih! Dan dia menurut ku normal! Tak seperti kamu yang memiliki penyakit mental!" Bentakkan Gio menembus telinga dan mata hati Niken.


Mak jleb... Hinaannya sangat mengenai sasaran.


"Terimakasih, Mas! Kau membuat ku semakin sakit hati! Sekarang kamu senang melihat ku begini?" Niken dengan air mata yang mengalir.


"Aku senang sekali, Niken. Sebaiknya kau pulang! Tak pantas sebagai seorang istri mengganggu kesenangan suaminya." Gio menambah luka semakin dalam


"Aku bukan istri sah mu lagi! Jadi jangan memerintah ku!" Niken emosi


"Lalu, Apa mau mu sekarang, Ha?" Tanya Gio


"Aku ingin tahu, kenapa kau berubah begitu cepat? Dan bisa mendapatkan wanita murahan itu lalu menikahinya. Bukankah dulu kau bilang hanya mencintai ku?" Niken duduk lemas di lantai.


Wanita yang menjadi istri Gio sekarang itu bernama Nina sedikit kesal mendengar dirinya di sebut wanita murahan oleh Niken, dan hendak menjambaknya, namun di tahan oleh Gio.


"Jangan kotori tangan mu sayang." Mengecup punggung tangan Nina


"Baik lah, Mas." Ucap Nina kembali duduk di pangkuannya


Sedikitpun hati Gio tak merasa goyah melihat Niken yang tengah meratapi sakit hatinya yang di dapatkan darinya.


"Jadi kau ingin tau alasannya, Ini semua karena ulah mu sendiri. Jika saja anakku tak kau buat mati! Aku takkan membencimu, Niken."Gio melotot


"Tapi itu bukan kemauan ku Mas, Itu tak di sengaja. Itu semua murni kecelakaan." Niken membela diri dan melungkup kedua tangan nya pada wajahnya.


"Tapi, jika kau tak mengajak anakku ke taman pada hari itu, Kecelakaan itu takkan terjadi!" Gio masih kekeh dengan anggapan nya.


"Aku mohon, mas! Maafkan aku! Aku sangat mencintaimu, meskipun awalnya kita memang bukan pasangan saling mencintai, tapi apakah selama kita bersama, tak ada moment yang mengingatkanmu dan bisa memaafkan aku?" Niken bertanya


"Tidak, Niken! Aku sudah terlanjur membencimu! Meskipun aku masih mencintaimu sekalipun, aku takkan bisa bersama mu lagi! Karena dengan bersama mu, Aku semakin teringat saat Junior menghembuskan nafas terakhir nya, di depan mataku dengan keadaan yang sangat mengenaskan." Gio.


"Sebaiknya kau pergi! Tidak ada hal yang perlu kita bicarakan lagi." Sambungnya menyuruh Niken pergi.


Seperti nya tak ada harapan lagi untuk kembali pada Gio. Niken berdiri dan memantapkan hatinya untuk keluar dari kediaman Gio.


Di perjalanan pulang, Niken menangis sepanjang jalan, ia pulang berjalan kaki hingga sampai ke kediaman pak Joko.


Itu lah kejadian sebelum Niken menjadi depresi dan mengamuk setiap hari.


Pria arogant seperti Gio setiap hari hanya bermain gonta-ganti wanita murahan,


Pernikahannya dengan Nina hanya sebuah kedok untuk menutupi kebejatan nya, yang tadinya menjadi budak cinta saat bersama Niken,

__ADS_1


Sifat bajingan seorang pria CEO perusahaan ia tunjukkan setiap malam di bar.


Orang tua Gio sudah tak memperdulikan lagi dengan kelakuan anaknya itu.


Bahkan Rega pun tak bisa menasehati Bosnya itu.


"Bos... Jangan mabuk-mabukan lagi. Kasihan lambung anda." Nasihat Rega yang tak di hiraukan Gio lagi


"Berisik! Urusan mu hanya perusahaan saja! Masalah pribadi ku jangan ikut campur!" Sungut Gio


Rega menghela nafas panjang dan menopang tubuh Gio yang sudah bau alkohol.


Sila berbicara mengenai kondisi buruk yang di alami mental Niken pun tak di hiraukan nya lagi.


"Gio, kasihan Niken! Dia sekarang sangat frustasi dan mengalami depresi berat." Ucap Sila


"Aku tak peduli! Itu bukan urusan ku lagi" Ucap Gio.


"Dasar pria tak punya perasaan!" Sila lalu melangkah pergi dari tempat nya berdiri.


Benar-benar sudah berantakan kehidupan Gio sekarang.


Sementara pada kondisi Niken yang semakin buruk Pak Joko benar-benar putus asa menghadapi tingkah Niken yang menjadi-jadi.


"Maafkan, Ayah Niken. Ayah terpaksa membawa mu ketempat seperti ini, semoga saja kamu bisa sembuh, Nak." Ucap pak Joko mengelus puncak kepala Niken, Tak ada jawaban dari mulut Niken.


Sorot mata yang kosong, terduduk di bangku taman rumah sakit.


Dengan langkah gontai Pak Joko meninggalkan anak gadis nya di RSJ, perasaan sakit hatinya yang sangat dalam di rasakan Pak Joko, menatap anak yang telah ia besarkan harus mengalami keadaan yang sangat menyedihkan.


Ia menangis teriring dalam perjalanannya menuju pulang ke kediamannya.


"Niken... Maafkan ayah, Nak." Gumamnya sambil menyetir mobil.


Di RSJ, Niken tiba-tiba mengamuk dan memukuli petugas kesehatan yang memeriksa kondisi Niken.


"Lepaskan, Aku! Kalian pikir aku ini Gila, Ha." Niken berusaha memberontak.


"Gak kok mbak! Mbak gak Gila. Coba tenang, ya." Ucap petugas itu membujuk Niken dengan lembut.


Malah Niken tiba-tiba menangis sangat kencang.


Terpaksa Petugas kesehatan itu menyuntikkan obat bius pada tubuh Niken.


Akhirnya Niken bisa tenang dan tidur, sudah beberapa hari ia tak tidur dan begadang hingga kantung matanya menghitam.

__ADS_1


Sudah setahun kemudian.


Niken makin menunjukkan kesembuhannya. Ia sedikit demi sedikit bisa menghilangkan depresi yang merenggut kesadarannya.


Hingga ia menulis cerita tentang dirinya di sebuah buku harian.


Ia menuliskan kehidupan yang ia jalani saat bersama dengan Gio.


Pria itu, Ia tak bisa melupakan nya.


Ingatan tentang nya masih tergambar jelas di dalam benaknya. Pria yang pernah sesaat memberikan kebahagiaan, lalu tiba-tiba memberikan kesakitan yang mendalam.


Buku harian itu tertinggal di taman dan tak sengaja tulisan Niken di baca oleh salah satu suster yang menjaganya selama ini.


Diam-diam Suster itu memfoto copy bukunya Niken. Lalu memberikan pada seorang penulis Novel.


Dan mencetaknya menjadi sebuah buku yang berjudul Bukan wanita pilihan suamiku.


πšˆπšŠπš—πš πš–πšŽπš–πšŠπš—πš πš™πšŠπšπšŠ πšŠπš”πš‘πš’πš›πš—πš’πšŠ π™½πš’πš”πšŽπš— πš‹πšžπš”πšŠπš—πš•πšŠπš‘ πš πšŠπš—πš’πšπšŠ πš™πš’πš•πš’πš‘πšŠπš— πšœπšžπšŠπš–πš’πš—πš’πšŠ.


π™ΌπšŽπšœπš”πš’πš™πšžπš— π™ΈπšŠ πšœπšžπšπšŠπš‘ πš‹πšŽπš›πšžπšœπšŠπš‘πšŠ πš–πšŽπš—πšŒπš’πš—πšπšŠπš’ πšπšŠπš— πš–πšŽπš—πš’πšŠπš’πšŠπš—πšπš’πš—πš’πšŠ.


π™½πšŠπš–πšžπš— πšπšŠπš” πšœπšŽπš•πšŠπš–πšŠπš—πš’πšŠ π™²πš’πš—πšπšŠ πš‹πš’πšœπšŠ πš–πšŽπš—πšπšžπš‹πšŠπš‘ 𝚜𝚞𝚊𝚝𝚞 πš™πšŽπš–πš’πš”πš’πš›πšŠπš— πš’πšŠπš—πš πšπš’ πšŠπš—πšžπš,


π™±πšŠπš‘πš”πšŠπš— πšπšŠπš•πšŠπš– πš›πšžπš–πšŠπš‘ πšπšŠπš—πšπšπšŠ πšœπšŽπšœπšŽπš˜πš›πšŠπš—πš πš™πšŠπšœπšπš’ πš–πšŽπš—πšπšŠπš•πšŠπš–πš’ πš™πšŽπš•πš’πš”πš—πš’πšŠ πš”πšŽπš‘πš’πšπšžπš™πšŠπš— πš’πš—πš’.


π™±πš’πš•πšŠ πš‹πš’πšœπšŠ πš‹πšŽπš›πšπšŠπš‘πšŠπš— πš’πšŠ πšŠπš”πšŠπš— πš–πšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš”πšŠπš—


πšƒπšŠπš™πš’,,, π™Ήπš’πš”πšŠ πšπšŠπš” πš–πšŠπš–πš™πšž πš‹πšŽπš›πšπšŠπš‘πšŠπš—


π™ΏπšŽπš›πš™πš’πšœπšŠπš‘πšŠπš—πš•πšŠπš‘ πš’πšŠπš—πš πš–πšŽπš—πš“πšŠπšπš’ πšπš’πšπš’πš” πšŠπš”πš‘πš’πš› πšœπšŽπš‹πšžπšŠπš‘ πš‘πšžπš‹πšžπš—πšπšŠπš—.


π™°πš”πš‘πš’πš›πš—πš’πšŠ π™²πšŽπš›πš’πšπšŠ π™½πš’πš”πšŽπš— πšπšŠπš— π™Άπš’πš˜ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš‹πšŽπš›πšŠπš”πš‘πš’πš›,


πš‚πšŠπš’πšŠ πšŠπš”πš‘πš’πš›πš’ πšŒπšŽπš›πš’πšπšŠ πš’πš—πš’ πšœπšŽπš—πšπšŠπš“πšŠ πš–πšŽπš–πšŠπš—πš πšπšŠπš” πš‹πšŠπš‘πšŠπšπš’πšŠ, πš”πšŠπš›πšŽπš—πšŠ πš–πšŽπš—πšπš’πš–πš‹πšŠπš—πšπš’ πš“πšžπšπšžπš•πš—πš’πšŠ. 😊


*Cukup sekian dan terimakasih atas segala dukungan yang readers berikan.


Semua yang tertulis dari cerita ini adalah real dari pemikiran saya sebagai author.


Mohon maaf jika dalam setiap penulisan nya kadang tak dapat di pahami oleh pembaca sekalian.*


Thanks for reading...


𝙏𝙖𝙒𝙖𝙩

__ADS_1


__ADS_2