
Hai.. Nama ku Niken. Aku anak kedua sekaligus anak bungsu dari pak Joko dan bu Mia.
Suatu hari aku harus menggantikan kakak ku untuk menikah dengan pria pujaannya.
Mereka sudah berpacaran selama 4 tahun, yang ku tau hubungan mereka baik-baik saja. Sampai di acara akad nikahnya, kakak ku malah kabur membawa mobil mahar pemberian calon suaminya
Hari itu tamu undangan sudah banyak yang datang, tidak di ketahui kak Adelia pergi kemana.
Pihak pak Handoko selaku ayah calon suami kakak ku, akan menuntut ke pengadilan jika pernikahan itu sampai gagal. Ayah yang bingung harus berbuat apa, hingga menyuruh ku untuk menikah dengan Gionino, calon suami kakak ku, itu jalan satu-satunya kata ayah. Jika aku tak ingin melihat keluarga ku hancur karena pak Handoko adalah salah satu pemegang saham perusahaan ayah untuk itu usaha ayah di pegang penuh oleh perusahaan pak Handoko.
Terpaksa aku juga harus mengorbankan diri untuk menikahi pria yang tak pernah ku cintai.
Setelah menikah dengan pria itu, aku baru tahu jika ia pria yang kadang bersikap lembut kadang dingin.
Kekejaman nya ia tunjukkan dihadapan ku, dengan menyiksa kak Adelia dan kekasih nya Anton.
Karena itu juga aku baru mengetahui jika kak Adelia tak pernah mencintai Gionino. Ia mendekati Gionino hanya karena hartanya saja.
Disitu aku merasa kak Adelia benar-benar keterlaluan, aku menumpahkan rasa kesal ku dipinggir danau. Pikiran ku kacau, sebab sedari kecil apapun keinginan kak Adelia selalu dituruti ayah dan ibu, bahkan mainan yang seharusnya milik ku pun ia rebut, dan aku selalu mengalah untuk memberikan pada nya.
Sampai waktu itu aku menceburkan diri ke danau yang dalam itu. Gionino yang dingin dan kasar itu menunjukkan kelembutannya pada ku. Dengan menolong ku yang hampir tenggelam.
Cerita sewaktu aku kecil.
"Ibu... ibu... aku mau mainan milik, Niken." Adelia merengek pada ibunya agar mainan milik Niken diberikan pada nya.
__ADS_1
"Tapi, bu. kak Adelia kan punya mainan sendiri, ini milik ku."
"Berikan pada kakak , ya. Kamu bermain mainan lainnya saja ya." Ibu mengambil mainan yang berada di pelukan ku.
"Baiklah, bu. " Aku menurut perintah ibu.
Sebenarnya hati ku cemburu dan kesal, kak Adelia selalu diprioritaskan dari kecil sampai kami besar.
Umur ku dan kak Adelia hanya berjarak 2tahun.
Saat masuk ke zaman sekolah, nilai kak Adelia juga tak terlalu bagus, aku masih unggul di atas nya, namun ibu tak pernah menganggap nya bagus, malahan ia sering memuji kak Adelia yang pintar bermain kasti, salah satu olahraga di sekolahan waktu itu.
"Lihat, bu. Aku mendapatkan nilai yang bagus." Aku memperlihatkan nilai rapor ku yang bagus pada ibu, Ibu hanya mengangguk. Sedangkan saat kak Adelia mengeluh nilai rapor nya jelek ibu malah menyemangati nya.
Aku berlari ke kamar, hatiku sakit ibu selalu bisa meneduhkan hati kak Adelia yang sedih, sedangkan pada ku ia tak pernah melakukan nya.
Aku pernah mengalami depresi waktu masih remaja, hingga aku dirawat di rumah sakit psikologi.
Butuh waktu satu minggu aku untuk keluar rumah sakit, ibu semakin tak suka pada ku, karena menurut nya penyakit ku aneh, padahal kata dokter penyakit ku ini terjadi karena stres yang parah.
Tentu saja penyebab nya adalah didalam keluarga ku sendiri.
Tak ku sangka depresi itu kambuh lagi setelah aku menikah dengan Gionino.
Tekanan demi tekanan ku rasakan, tak ada yang pernah bertanya tentang perasaan ku, hanya aku sendiri, memang tak ku pungkiri bila terkadang ayah juga sedikit memberi perhatian pada ku.
__ADS_1
Namun kesibukan ayah di kantor sering membuat ku kesepian. Bila akhir pekan ayah menyempatkan diri untuk kumpul bersama keluarga.
Kembali menata pernikahan, ku kira setelah mengetahui aku memiliki penyakit itu, Gionino akan menghindari dan menceraikan ku. Malah yang ku lihat ia berubah lembut pada ku, dia merawat ku dengan baik.
Sikap dan perilaku nya berubah, yang tadinya kasar sekarang lembut.
Sampai ketika dimana aku mendapatkan berita bahwa kak Adelia keluar negri untuk melanjutkan kuliah. Disitu aku merasa kecewa dengan sikap kedua orang tua ku. Aku merasa tak puas, padahal bisa kuliah ke luar negeri adalah keinginan yang sudah lama aku pendam.
Siang tadi, aku mendapatkan pesan dari ibu lewat WA.
"Niken. Ibu mau kasih tau kamu, kalo kak Adelia disini sedang sakit, dia mengalami pelecehan seksual. Ibu minta tolong untuk menyampaikan nya pada Gionino, mungkin saja dia mau membantu untuk menemukan pelaku nya. Soalnya disini kami kurang bukti untuk mencari pelakunya." Begitu isi pesan dari ibu, poinnya hanya ingin meminta bantuan untuk kak Adelia.
"Iya, bu. Nanti coba ku tanyakan pada Mas Gio." Aku membalas pesan ibu.
Aku masih bingung dengan sikap ibu yang seperti itu. Seperti tak punya malu meminta bantuan untuk orang yang telah mempermalukan nya dengan orang yang di permalukan oleh anak kesayangan nya itu.
Tapi karena aku yang baik hati, aku berniat untuk memberitahu mas Gio masalah kak Adelia.
Aku prihatin dengan kejadian yang menimpa kak Adelia, orang yang selalu membuat ku iri karena keinginannya selalu terpenuhi itu, kini harus mengalami hal yang sangat memalukan dan menyedihkan. Belum kelar luka bekas ia mencoreng nama ayah, kini ia malah menambah aib yang lebih besar lagi untuk keluarga pak Joko.
Aku tak bisa membayangkan seberapa kecewanya ayah pada kakak. Namun aku selalu berharap ayah bisa bersabar.
Hanya doa yang ku panjatkan agar kedua orang tua ku selalu dilindungi dan di berikan ketabahan menghadapi segala cobaan hidup yang menimpa mereka.
...----------------...
__ADS_1