
Di TPU yang sama tempat pemakaman Adelia sebelumnya. Rencananya makam Bu Mia disandingkan dengan makam Adelia, agar bila mengunjunginya lebih gampang.
"Kita akhirnya kembali kesini lagi, Mas." Ucap Niken lalu duduk bersimpuh di atas makam Bu Mia yang tanahnya masih basah karena baru selesai jasad ibunya di tanam.
Pak Joko meratapi kepergian istrinya yang mengenaskan, tiada yang tau Bu Mia dapat silet dari mana hingga ia bisa menyayat pergelangan tangannya hingga uratnya terputus.
Sungguh ironi sebelum nya Adelia juga melakukan hal yang sama pada waktu itu. Dan kini malah Bu Mia dengan pikiran dangkalnya menyontoh perbuatan bodoh anak kesayangannya.
"Bu ... Semoga kau tenang di alam sana, aku disini hanya bisa mendoakan mu agar roh mu diterima disisi-Nya dan Tuhan mengampuni segala dosa-dosa mu, Bu." Ucap Niken mengusap nisan ibunya.
"Amin ... " Semua orang yang datang ke pemakaman itu mengamini doa Niken.
Pak Joko mengajak besan, anak dan menantunya untuk mampir ke rumahnya. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan untuk mereka terutama Niken.
"Kalian singgahlah dulu ke rumahku, ada hal yang ingin aku sampaikan pada kalian, terutama Niken." Ucap Pak Joko.
Mereka lalu kerumah pak Joko.
Tak berselang lama sampai di kediaman pak Joko.
Layak seperti rumah tak berpenghuni pot bunga tak terawat tanamannya banyak yang mati, lantai teras yang kotor, Niken prihatin dengan keadaan rumah orang tuanya itu.
Pak Joko membuka pintu rumah.
Ceklek
"Silahkan kalian masuk dan istirahat dulu di sini." Pak Joko menyuruh mereka untuk duduk di kursi sofa miliknya.
Gio dan orang tuanya duduk. Sedangkan Niken mengikuti langkah ayahnya yang menuju dapur, mungkin akan membuatkan minum untuk besannya, Perut buncit Niken mengurangi pandangannya untuk berjalan ke depan.
"Ayah!" Panggil Niken pada ayahnya yang akan mengambil gelas di atas rak piring. Pak Joko menoleh ke arah Niken.
"Ada apa, kenapa kau kemari, nak?"
__ADS_1
"Biar aku saja yang membuat minuman untuk mereka, Ayah istirahat saja bersama mereka."
"Niken. Aku ini bukan ayah kandung mu, Nak. Tapi kenapa kamu masih baik terhadap, ayah. Ayah merasa bersalah padamu." Ucap Pak Joko menyadari kesalahannya. Niken terharu mendengar nya dan memeluk pak Joko.
"Aku sangat menyayangi ayah, meskipun kalian bukan orang tua kandung ku, aku tetap menganggap kalian adalah orang tua ku. Jika ayah tak memungut ku waktu itu, aku pasti takkan hidup sampai saat ini."
Mereka berdua menangis bersama. Di dapur yang tak begitu luas itu mereka melanjutkan membuat minuman untuk Gio dan orang tuanya.
"Biar ayah yang bawa nampan ini. Kamu pasti kesulitan membawanya." Ucap pak Joko lalu membawa nampan berisi minuman hangat dan cemilan untuk di suguhkan pada keluarga Handoko.
"Merepotkan pak Joko jadinya kalau seperti ini." Ucap Pak Handoko pada besannya yang menyuguhkan makanan.
"Oh tidak. Maklum ya, pak. Di rumah ini tak ada pembantu, jadi saya menyiapkan ini dengan Niken yang sedang hamil besar,Silahkan di minum tehnya."
Tidak apa, Ayah. jangan sungkan pada ku, aku ini masih anak ayah, dan memang seharusnya aku membantu ayah sesekali tak apa." Mendengar ucapan anaknya begitu membuat pak Joko terharu dan mengelus puncak kepala Niken.
"Memang nya kemana pembantu yang bekerja di rumah ini pak?" tanya Bu Meli celingak celinguk mencari keberadaan pembantu rumah besannya.
"Dia kabur belum lama ini, karena hampir setiap hari Mia memakinya, itulah penyebabnya." Jawab pak Joko. Lalu menyuruh tamunya untuk minum, mereka menikmati teh yang di buat Niken
"Baiklah, Aku akan mengatakan nya sekarang, tapi sebelum itu aku ingin mengambil sesuatu dikamar ku. Kalian tunggu disini."
Lalu pak Joko bangkit dari duduk nya dan menuju kamarnya. Setelah beberapa saat ia keluar dengan membawa sebuah kotak kecil berbentuk seperti segi empat terbuat dari kayu yang memiliki kunci kecil dan gembok yang menggantung.
Pak Handoko dan Bu Mia bersitatap, hanya menerka-nerka dalam hati, apa sebenarnya kotak yang dibawa pak Joko.
Pak Joko duduk kembali dan membuka kotak itu, kotak itu berisi kertas dan sebuah cincin emas.
"Milik siapa kotak itu, Ayah?" Niken bertanya
"Ini adalah milik ibu kandung mu, aku menemukan ini di atas keranjang bayi milikmu waktu dulu. Dan kertas ini adalah tulisan ibu mu. Setidaknya masih bisa dibaca meskipun sedikit usang."
"Aku ingin membacanya, Ayah."
__ADS_1
Niken lalu membaca surat itu. Kertas itu berisi tulisan
"𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩, 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘋𝘪𝘢." Begitu tulisannya membuat Niken menangis setelah ia membacanya tak habisnya air mata menetes mengaliri pipi Niken. Gio mengelus punggung Niken mengalirkan energi positifnya.
"Dan cincin ini sepertinya milik ibumu yang ditinggalkan untuk mu, Nak." Pak Joko memberikan cincin yang berada bersama kotak tersebut.
Niken menerimanya dan menggenggam cincin itu, ia bertekad dalam hati untuk mencari keberadaan orang tua kandung nya dengan menggunakan cincin ini sampai ketemu, ia juga ingin tau apa sebab dari ia meninggalkan bayi yang tak berdosa begitu saja di atas tong sampah dipinggiran kota."Sungguh malang nasib mu Niken bisa-bisanya memiliki nasib kehidupan yang menyedihkan." Gumam Niken meratapi nasibnya.
"Jangan berbicara begitu, sayang. Aku akan selalu bersamamu, aku juga sudah mencari tahu keberadaan orang tua kandung mu. Meskipun belum ada titik temu, tapi aku akan terus mencari sampai ketemu." Ucap Gio menenangkan hati Niken.
"Terima kasih mas, Aku sangat mengharapkan kepedulian mu." Ucap Niken lalu Gio mengecup puncak kepala Niken.
"Iya sayang."
Setelahnya Pak Handoko pamit untuk pulang bersama istrinya. Gio dan Niken memutuskan untuk menginap di rumah pak Joko, karena langit sudah malam. Kasihan jika wanita hamil terkena angin malam, tak baik untuk kesehatan nya.
Niken mengajak Gio ke kamar sewaktu ia belum menikah dengan Gio. Kamar yang tak terlalu besar itu seperti saksi bisu masa kecil Niken saat-saat bersama dengan Adelia dan Ibu Mia.
Terdapat foto semasa kecilnya digendong oleh Pak Joko di pundaknya, dan Bu Mia berdiri di samping dengan menggandeng Adelia. Masa itu sangat mengena dihatinya, saat itu ia belum mengetahui jika orang tua yang bersamanya bukanlah orang tua kandungnya. Dan pastinya tak faham dengan apa itu perbedaan, kekecewaan, perbandingan dan penyesalan. Yang ia tau hidup nya memiliki keluarga yang lengkap.
Gio melirik istrinya yang terdiam terpaku dengan foto yang di gengamnya lalu memeluknya dari belakang.
"Ayok tidur sayang, aku ngantuk." Ucap nya lirih ditelinga Niken.
"Aku ganti badcovernya dulu soalnya udah lama gak di gunakan takutnya berdebu kasurnya." Ucap Niken lalu mengambil sprei yang ada di lemari miliknya.
"Sini mas bantu." Gio tak tega melihat istrinya yang sudah hamil besar melakukannya sendiri lalu membantunya memakaikan badcover pada kasur yang akan ia pakai untuk beristirahat.
Niken senang mendapat perhatian suaminya, meskipun hanya hal sepele menurut sebagaian orang, tapi kebahagiaan tak selalu menggunakan materi melulu.
Niken memandangi wajah suaminya ia menjadi sedikit minder dengan status keturunan ternyata bukan anggota keluarga pak Joko.
Bagaimana menurut agama tentang pernikahannya dengan Gionino bukankah waktu itu walinya adalah pak Joko. Apakah hukum pernikahan nya sah? 'Author' juga gak tau, Bagaimana menurut kalian readers dengan asumsi ini?
__ADS_1
*Jangan menilai segalanya menggunakan hati, sebab hati mu belum tentu berharga dimatanya*