
Di dalam Gedung perusahaan SB milik Gio.
Gio sedang membahas Rega yang tetap masuk kerja meskipun baru kemarin ia menikah.
"Reg. Kamu gak mengambil cuti saja, kasihan istrimu, baru kemarin menikah hari ini sudah kau tinggal kerja." Ucap Gio menepuk pundak Rega yang berada di hadapan nya.
"Gak papa, Bos. Sila juga mengerti, lagian pekerjaannya saya juga belum selesai apa lagi hari ini ada rapat penting untuk membahas proyek baru kita." Jelasnya
"Benar-benar professional. Memang tak salah pilih menjadikan mu orang kepercayaan ku." Ucap Gio memuji, Memang Rega orang yang sangat berkompeten dalam hal kepercayaan.
"Terima kasih, Bos. Anda terlalu memuji." Ucap Rega tersenyum
"Mari kita masuk ke dalam. Staf di dalam mungkin sudah menunggu kedatangan anda." Ajaknya pada Gio memasuki ruang meeting yang daun pintunya sudah ia buka.
"Iya."
Dan benar saja staf perusahaan sudah berkumpul di meja panjang milik perusahaan SB itu begitu juga dengan Sisi. Mereka semua duduk menantikan kedatangan bosnya.
Melihat Gio masuk ruangan itu, mereka lalu berdiri dan menunduk memberi salam pada Gio lalu membalas dengan senyuman.
Suasana meeting sangat serius, salah satu staf melakukan persentase menjelaskan kelangsungan proyek baru yang melibatkan beberapa perusahaan untuk bekerja sama,
Di tengah keseriusan mengamati grafik yang di jelaskan oleh staf, ponsel Gionino berdering, Nada notifikasi panggilan dari Niken. Ia lalu menggeser tombol jawab yang menari-nari di layar ponsel miliknya.
Bak tersambar petir menggelegar di siang bolong Gio mendapati kabar anaknya masuk rumah sakit dengan kondisi sedang kritis.
Dunia📞
"Mas... Junior masuk rumah sakit. Kondisinya sekarang kritis." Ucap Niken di seberang sana dengan nada gemetaran.
"Apa?!!! Bagaimana bisa itu terjadi!" Gio Membentak
"Hiks... Hiks... Mas... Ini kecelakaan...." Niken menangis ketakutan mendapatkan bentakkan suaminya.
"Sekarang kau Sherlock rumah sakit nya, aku akan segera ke sana!" Gio yang sudah tak tahan mendengar suara tangisan istrinya lalu mematikan ponsel yang ia genggam,
lalu berdiri dari duduknya dan membanting ponselnya ke sembarang arah.
Kondisi anaknya yang tiba-tiba mengalami kritis membuatnya tanpa sadar murka di depan staf kantor yang sedang meeting bersamanya.
"Tak becus! Apapun yang kalian lakukan memang benar-benar bodoh!!!" Pekik Gionino di depan semua orang yang berada di hadapan nya yang tak tau apa-apa yang tentang duduk permasalahan yang membuat nya murka.
Mereka terhenyak mendapatkan seruan Bos-nya.
Rega juga terkejut mengapa Bos-nya itu tiba-tiba marah padanya dan staf lainnya setelah menerima telfon.
__ADS_1
Saling beradu pandang dengan Sisi melemparkan pertanyaan dengan kedipan sorot mata, yang tengah mencatat laporan yang di sampaikan staf.
Sisi mengedikkan bahu tanpa mengeluarkan kata-kata pada Rega, tak tau apa yang terjadi.
Lalu Rega memberanikan diri untuk menanyakan apa yang membuatnya begitu murka.
"Ada apa, Bos? Mengapa Anda tiba-tiba marah kepada kami?" Tanya Rega.
Gio melirik Rega lalu duduk kembali ke kursi berputar miliknya, dan mengepal tangannya.
"Maaf, Aku sedang emosi, Ini tak ada hubungannya dengan kalian." Ucapnya pada staf dan membuat mereka lega mendengar nya.
"Junior, Reg. Dia kritis di rumah sakit!" Sambung nya sedikit menahan amarah.
Rega kembali terkejut mendapati kabar Junior yang kini menjadi keponakan nya itu,
'Pantas saja membuatnya begitu murka, Ini tentang keselamatan Junior ternyata, tapi. bagaimana bisa, kemarin baik-baik saja. Lalu kenapa hari ini bisa kritis?' Batin Rega berprasangka.
mengetahui jika Bos-nya sedang ada problem pribadi dan membubarkan meeting yang belum selesai.
"Untuk Meeting kita sampai di sini dulu., Silahkan kalian boleh keluar." Perintah Rega pada staf di sana.
"Baik, Pak." Jawab serentak staf itu. Tanpa bertanya mengapa dan ada apa meeting itu di bubar kan, padahal baru di mulai, melihat Gio sudah memasang wajah kesal yang satu orang pun di sana tak ada yang berani bertanya kecuali Rega.
Rega berdiri di samping Gio, ingin mendengar cerita sebenarnya tentang apa yang terjadi
"Iya, Reg. Ayo segera kita ke rumah sakit sekarang." Ajaknya
"Baik, Tuan." Jawabnya
Rega mengikuti langkah Gio yang cepat, tak terasa mereka berdua sampai di parkiran dan memasuki mobil,
lalu Rega yang menyetir dengan kecepatan tinggi atas perintah Gio.
"Cepatlah kau lajukan mobil ini... Aku sudah tak sabar ingin melihat kondisi anakku sekarang." Titahnya
Rega mengangguk dan melajukan mobilnya. Gio duduk di samping bangku supir, memberikan arah jalan setelah Niken Sherlock pada nya.
Akhirnya sampai di rumah sakit yang di maksud. Gondok hati Gio sudah tak sabar ingin memaki semua orang yang tak becus menjaga anak semata wayangnya.
Langkah panjang menemukan istrinya yang tengah duduk di kursi tunggu pasien, dengan wajah tertelungkup kedua lengannya.
Gio menghampiri nya.
"Niken!" Yang kini suaranya sudah tak selembut sutra lagi,
__ADS_1
Niken mendongak, mencari arah suara yang memanggilnya.
"Mas Gio...." Berdiri dan berharap mendapatkan pelukan suaminya.
Namun tak terduga, Suaminya malah ingin melepas pelukan istrinya itu, dengan menghempaskan lengan Niken yang sudah melingkar di pinggangnya.
"Kenapa kau mengulang kesalahan mu lagi! Bukankah sudah pernah ku katakan sebelum nya, jangan pernah membuat anakku terluka!" Tegasnya
Niken menundukkan kepala tak berani menatap yang suaminya benar-benar marah dan kecewa dengan dirinya.
"Ini bukan kesengajaan, Mas. Aku juga tak tau jika kejadian seperti ini akan terjadi." Ucap Niken badannya gemetar.
"Aku tau ini bukan sengaja! Tapi mengapa kesalahan ini selalu kau lakukan. Hah!" Mata tajam Gio melotot, suaranya menggelegar di lorong rumah sakit, keadaan itu membuat menarik perhatian suster yang lewat.
"Pak, Mohon jika berteriak jangan terlalu kencang, karena bisa mengganggu pasien yang sedang istirahat." Tegurannya suster pada Gio.
Teguran itu tak di indahkan oleh nya. Malah semakin membentak begitu keras hingga suster itu ketakutan dan pergi.
"DIAM!!! Aku tak butuh celotehan mu! Jika aku mau ku beli rumah sakit ini! Dan membuat suara yang begitu keras agar telinga mu rusak!" Pekiknya
Suster itu lalu meninggalkan tempatnya berbicara dengan Gio tadi.
"Orang Gila!" Sambil berjalan cepat bergumam sendiri
Balik kepada Niken dan Gio
"Kenapa kau begitu galak padanya, Mas. Dia hanya mengingatkan kita agar jangan berteriak di rumah sakit." Ucap Niken.
"Diam!" Bentaknya dan
plakk...
Pipi mulus Niken kini bercap lima jari milik Gio.
"Kau menampar ku, Mas!" Niken memegang pipinya yang sakit
"Iya, Bahkan aku akan membunuhmu, jika terjadi sesuatu pada anakku!" Tegasnya.
Semua orang di sana termasuk Rega dan Bu Sri terkejut mendengar ucapan Gio pada Niken.
Bu Sri takut mengakui kesalahan itu juga atas keteledoran dirinya menjaga Junior, Sebenarnya jika bu Sri Sigap menangkap Junior, keadaan nya mungkin tak separah itu.
Dokter yang memeriksa keadaan Junior sudah keluar ruangan dan mencari keberadaan keluarga nya.
Dengan raut wajah yang sangat kecewa serta penyesalan, Dokter menyampaikan sesuatu yang sangat mengejutkan tentang keadaan Junior.
__ADS_1
...****...