Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Kemalangan


__ADS_3

Acara pernikahan Rega dan Sila telah terlaksana.


Semua orang yang mereka kenal di undang, karyawan staf kantor juga di undang termasuk juga Rendra dan Sisi, Rendra sebenarnya tak di undang, kedatangannya atas permintaan Sisi.


"Boleh, ya kak Sila. Supaya aku ada kawan untuk acaranya." Pinta Sisi memohon untuk Rendra ikut ke acara resepsi pernikahannya


Tadinya Rega tak setuju, namun Karena pertimbangan Sila, akhirnya dia setuju.


"Ijinkan saja, Mas." Ucap Sila


"Ya sudah terserah Kamu.


Tapi jika dia berulah di acara pernikahan ku, Aku akan menghajar dia, dan kamu gak boleh protes!" Rega


"Iya iya, Mas."


"Makasih, pak Rega, saya janji Rendra takkan membuat masalah lagi." Ucap Sisi tersenyum senang.


Tak ketinggalan Niken dan Gio juga datang.


Acara pernikahan itu berlangsung dengan lancar dan khidmat.


Senyum bahagia tersungging dari sudut bibir pasangan baru itu.


Ucapan selamat atas pernikahan mereka terucap dari bibir tamu undangan yang datang.


"Selamat menempuh hidup baru untuk kalian berdua, semoga langgeng."


"Iya terimakasih do'anya." Jawab Sila dengan senyuman.


Acara yang di tunggu-tunggu akan di mulai, yaitu acara lempar bunga, muda mudi tamu undangan bersiap untuk menangkap bunga itu, berharap dapat segera menyusul pasangan bahagia setelah mendapatkan sebuket bunga milik pengantin.


Berbeda dengan Niken dam Gio yang hanya duduk memperhatikan.


"Ayo, Ren. Kita ikutan, yuk!" Ajak Sisi saat Rendra sedang duduk di dekat pelaminan.


"Ah... Males!" Menolak ajakan Sisi.


"Heh... Ya udah kalo gak mauk!" Dengus Sisi lalu berdiri dan mengikuti muda-mudi yang ingin berebut buket bunga pengantin.


"Siap... Siap...!" Memberi aba-aba


Rega dan Sila menghadap membelakangi dan melemparkan satu buket bunga.


Satu


dua


tiga


Siyutt...


Bunga itu terlempar sampai melambung tinggi.


Maklum yang melempar orang kuat seperti Rega. 🤭


Tak di sangka dan di duga ternyata bunga itu terlempar dan di tangkap oleh Rendra yang tengah duduk.


"Ha..." Terkejutnya tiba-tiba sebuket bunga itu mendarat di pangkuan nya.


"Ha-ha... Sebentar lagi lo nyusul mereka!" Sorak salah satu orang di sana.


"Ishh... Apa-apaan sih!" Rendra mendesih sebal

__ADS_1


"Nih... Bunga nya buat lo aja!" Rendra memberikan buket bunga itu untuk Sisi dengan kasar menempelkan nya di dadanya.


"Ha..." Sisi terkejut dengan Rendra memberikan bunga untuk nya. 'Maksud dia apa coba?' Gumam Sisi menerima bunga itu.


"Cie... Cie... Sisi!" Teman sekantor Sisi yang juga karyawan Gio menyoraki Sisi.


"Apa-apaan sih kalian!" Muka Sisi sudah memerah


Rendra malah menarik nya keluar gedung itu,


Sebenarnya Rendra merasa malu di soraki begitu, dan membawa Sila ke taman dekat Gedung acaranya.


"Selamat, ya pak Rega. Semoga sakinah, mawadah dan warohmah!" Ucap Sisi sebelum tubuhnya yang sudah tertarik oleh Rendra.


"Iya! Makasih ya Sisi!" Sila berteriak Mengucapkannya.


Wajah Sisi semakin memerah lengannya di pegang oleh Rendra.


"Mereka lucu ya, Mas?" Ucap Niken pada Gio melihat tingkah muda mudi yang sedang kasmaran itu.


"Apanya yang lucu! Biasa aja, tuh" Ketusnya pada Niken


'Mas Gio ini kenapa sih, kok masih marah terus sama aku. Hem... Biar Nanti sepulang acara ini aku tanyakan saja apa maunya.' Niken membatin.


Dan Acara resepsi itu telah usai,


Mereka lalu pulang ke acara masing-masing.


Di perjalanan pulang, di dalam mobil Gio menyetir masih dalam keheningan.


Niken masih bingung dengan sikap suaminya itu menjadi pendiam.


Berusaha memecahkan keheningan yang terjadi, Namun Niken malah di abaikan oleh Gio.


Gio tak menjawab ucapan Niken, hanya fokus ke jalanan.


Seperempat jam kemudian, mereka sampai rumah. Gio memarkirkan mobilnya di garasi yang sebelumnya Niken sudah turun.


Niken memasuki rumah menunggu suaminya.


Gio memasuki teras dan mengacuhkan Niken yang sudah menunggu nya dengan langkah panjang.


Niken berusaha mengikuti suaminya.


Ingin membahas sikap yang tak terpuji itu.


"Mas!" Panggil Niken sedikit berteriak


Gio menghentikan langkah nya dan menoleh pada Niken.


"Apa?" Jawabnya dingin


Niken segera menghampiri Gio yang berdiri jauh di depan nya.


Niken memegang lengan Gio.


"Kenapa kau mengabaikan ku, Mas? Aku berbuat kesalahan apa pada, Mu, Hem!" Niken


Gio melepaskan genggaman tangan Niken.


"Kau pikir saja, Sendiri!" Ucap nya lalu meninggalkan. Niken terpaku dengan jawaban Gio.


'Kenapa kau berubah, Mas? Kau kasar seperti dulu lagi.' Niken menangis tersedu mendapatkan perlakuan Gio yang menurutnya semakin berubah kasar padanya.

__ADS_1


Seorang suami kecewa pada Istrinya tak mau mengungkapkan isi hati nya, takkan ada masalah yang datang bisa terselesaikan begitu saja.


Keesokan harinya.


Saat itu Niken mengajak Bu Sri ke taman tak jauh dari rumahnya.


Junior sangat remusuh karena sudah bisa berjalan dengan lancar dan Senang bermain memanjat dan loncat-loncat.


"Bu, ikut saya ke taman,yuk. Nanti bantu jaga Junior di sana." Ajaknya Niken.


"Em... Baiklah. Nanti ibu ambil tas dulu." Bu Sri menuju kamar nya mengambil tas


Setelahnya Mereka meluncur ke taman berjalan kaki.


Saat menuju keluar pagar mereka di cegat oleh satpam rumahnya.


"Maaf, Nyonya dan ibu Sri mau kemana?" Tanyanya.


"Kita mau ke taman, Pak. Bosan di rumah terus." Ucap Niken


"Biar, kami ikut, Nyonya." Ucap Bodyguard itu.


"Tak usah! Hanya dekat saja."


"Tapi, Nyonya, Tuan jika tahu akan marah pada kami jika tak mengikuti anda." Jawab nya


"Ya sudah terserah kalian." Ucap Niken.


Akhirnya seperti maraton berjalan bersama-sama dengan di ikuti oleh pengawal.


Tetangga yang melihat Niken di perlakukan seperti seorang Sultan itu mendapat bisikan telinga yang tajam.


"Ya ampun, cuman ke taman aja bawa bodyguard, lebay amat!"


"Sultan mah bebas!"


Niken mengabaikan suara itu, ia hanya berjalan menuju bangku yang sudah tertata rapi di taman.


Bu Sri sedang bermain dengan Junior di perosotan. Sementara Niken memperhatikan dari jauh.


Junior terlihat bahagia, begitu juga Bu Sri.


Namun tak di sangka perosotan itu menjadi sedikit goyang dan menyebabkan ruas besi patah karena di naiki oleh Junior, yang sebelumnya memang sudah karatan karena setiap hari terkena panas sinar matahari dan juga hujan


Tiba-tiba


Bruk...


Perosotan itu ambruk menimpa Junior yang tak sempat di selamat kan oleh Bu Sri dan mengakibatkan Junior terhimpit di antara besi yang sudah rapuh.


Niken berteriak dan berlari menuju anaknya.


Sungguh takut, khawatir dan terkejut nya Niken mendapati anaknya sudah pingsan di antara puing-puing perosotan itu.


Bu Sri juga tak menyangka hal itu akan menimpa bocah kecil yang sedang ia jaga.


Mereka segera membawa Junior ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan khusus untuk Junior, Ia memasuki ruang IGD.


Dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawa bocah itu.


Sungguh kemalangan yang besar, Anak nya itu selalu mendapatkan kesakitan sedari lahir, hingga kini tubuhnya sedang berlomba dengan kematian,


Akankah Junior bisa bertahan

__ADS_1


...******...


__ADS_2