Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
CCTV lagi...


__ADS_3

"iya, Pak. Begitu hasil pemeriksaan kami pada cairan yang terdapat di lambung ibu Meli." Ucap Dokter tersebut


Gio geram setelah mendengar penjelasan dokter, mengepal tangannya hingga berbunyi...


krekk...


"Siapa yang berani meracuni ibu ku!!! Mereka sudah bosan hidup rupanya." Dokter yang melihat Gio seperti itu menjadi takut, Niken yang menyadari hal itu lalu berkata


"Terimakasih, Dok. Sekarang anda boleh pergi." Niken tak mau orang lain melihat suaminya marah didepan umum, Ia menyuruh Dokter itu segera pergi dari hadapan Gio.


Pak Handoko belum mengetahui masalah ini karena ia masih berada di luar negeri untuk mengurus masalah proyeknya disana.


Niken bermaksud untuk mengabari hal itu, namun di cegah oleh Gio karena takut ayah khawatir dan tak konsen pada pekerjaan nya, biarkan saja Gio yang menyelesaikan masalah ini.


Gio sangat menyayangi ibunya, Siapa pun orang itu tak mungkin tega melihat ibunya di lukai orang lain. Ia berencana menghubungi Rega, dan mencari tau siapa yang meracuni ibunya. Dan menutup sementara restoran yang di singgahi Bu Meli dan Niken tadi.


"Rega, segera kau cari tau siapa orang bodoh yang sudah berani meracuni ibu ku. Dan tutup restoran itu sampai menemukan pelakunya." Perintah Gio di telpon pada Asistennya yang masih berada di kantor SB miliknya.


"Baik tuan! " Ucap Rega. Lalu panggilan itu terputus.


Dikantor SB.


"Belum selesai masalah kemarin, sekarang masih ada masalah lagi. Tuan Gio benar-benar dalam pantauan orang jahat." Rega merapikan dokumen yang urung ia selesaikan dan melenggang pergi ke tempat yang di titah bosnya.


Di restoran salah satu mall.


Rega membawa Intel untuk menyelidiki restoran itu. Rega juga membawa beberapa anak buahnya.


Pemilik restoran itu menghadang kedatangan Rega yang membawa banyak orang. Dan pakaian mereka tak layak seperti pelanggan.


"Ada apa ini, tuan. Kenapa kalian datang ke restoran ku beramai-ramai?" Pemilik restoran itu sedikit ketakutan karena Rega berwajah sangar begitupun anak buahnya.


"Aku ingin kamu menutup restoran mu sekarang juga!" Titah Rega pada Pemilik restoran itu, karyawan restoran yang melihat nya juga menjadi takut.


"Tap_ tapi kenapa, tuan. Ini namanya penindasan, kenapa kalian menindas kami?" Ucap Pemilik restoran terbata-bata


"Ikuti saja perintah ku, jika tidak aku obrak abrik restoran mu ini." Ucap salah satu Anak buah Rega menakut-nakuti.

__ADS_1


"Sa_salah kami apa, tuan?"


"Gara-gara makanan dari restoran kau... Nyonya besar kami masuk rumah sakit, dan karena itu restoran kalian harus tutup sementara!"


"Hah... Apa ibu-ibu tadi yang pingsan itu keracunan?" Ucap salah satu pelayan restoran pada Rega.


"Mungkin yang kau maksud nyonya Meli bukan,


Lihat... Karyawan mu sudah tau kesalahan kalian, jika kalian mau bekerja sama aku takkan mempersulit kalian. Mengerti!" Ucap Rega menakut-nakuti


"Ba_baik tuan. Lalu apa yang bisa kami bantu tuan?" Tanya Pemilik restoran itu.


"Berikan rekaman CCTV-nya pada kami, dan biarkan kami memeriksa kualitas bahan pangan disini." Ucap Intel itu.


Mereka memeriksa bahan pangan dahulu, tak ada yang salah dengan bahan makannya, biasa seperti restoran pada umumnya tak ada yang mencurigakan.


Namun saat memeriksa CCTV-nya ada seorang pria tengah duduk di bagian meja kasir, ia memberikan bubuk dari botol kecil di makanan ibu Meli sebelum di berikan pelayan pada meja bu Meli dan Niken.


Dari situlah bukti terkuat datang.


Rega mengatakan bukti CCTV pada Gio, juga mengirimkan nya pada Gio.


Tadinya Gio tak ingin memberitahu tentang bukti itu pada Niken. Namun istrinya itu memaksa dan ingin mengetahui kabar dari Rega. Mungkin ini waktu yang tepat untuk memberitahukan nya tentang masalah ini pada Niken.


Akhirnya Gio memberitahu bukti CCTV itu.


Niken terbelalak melihat nya. Ia mengenali pria yang ada di rekaman itu.


"Bukankah itu, Anton!" Ucap Niken


"Iya, Itu Anton. Dan kau tau siapa dalang dari semua ini, Niken?" Ucap Gio dengan pertanyaan yang ia sudah tau jawabannya


"Siapa, Mas?" Tanya Niken pada Gio.


"Dia adalah Ibu mu" Ucap Gio dengan lirih yang masih terdengar oleh Niken.


"Gak mungkin mas... Gak mungkin itu ibu. Kamu pasti salah mengira!" Niken tak percaya dengan ucapan suaminya, Ia lalu terduduk lemas setelah mendengar jawaban Gio.

__ADS_1


"Ibu gak mungkin setega itu, Mas." Niken yang masih kekeh dengan anggapan nya, ibunya tak mungkin sejahat itu.


"Jika kau tak percaya, lihatlah rekaman yang ini. Apa kau mengenal wanita itu. " Gio memperlihatkan rekaman Video yang berisi ibunya sedang melemparkan sebuah buntalan kertas putih yang menembus jendela kaca Gio hingga pecah beberapa waktu lalu. Memang sedikit remang-remang karena tengah malam, namun setelah di zoom pada gambar itu memang itu adalah ibu Mia menggunakan masker.


Niken terperanjat melihatnya, semakin lemas di buatnya, Ia merasa sesak di dadanya, bagaimana mungkin ibu yang ia sayangi bisa meneror anak kandung nya sendiri, meskipun tujuannya Gio tapi Niken juga berada di rumah itu. Seseorang butuh pundak untuk bersandar, tak tau Niken kini tak sadarkan diri karena terkejut.


"Aku pusing mas! " Ucap Niken lalu memejamkan mata. Gio menggoyang-goyang tubuh Niken yang lemas di pangkuan nya yang masih duduk di kursi tunggu pasien.


"Niken... Bangun sayang."


Gio meminta bantuan suster untuk Niken agar cepat sadar dari pingsannya menggunakan minyak angin.


Setelah beberapa menit kemudian Niken sadar.


"Mas... " kata pertama saat ia sadar dari pingsannya.


"Niken... Kamu sudah sadar." Ucap Gio lalu tersenyum. Ia merasa bersalah karena kecerobohannya mengatakan semua nya membuat Niken malah tak sadarkan diri dan drop.


"Maafkan mas ya. Harusnya mas gak mengatakan semuanya pada mu. membuat mu menjadi sedih" Ucap Gio.


Niken tersenyum namun meneteskan air mata, Ia masih tak sanggup untuk percaya. Kenapa Ibunya bisa sekejam itu.


"Lalu yang membunuh Bibi pelayan juga ibu mas?" Niken bertanya pada Gio. Gio ingin menjawab iya, namun sepertinya bukan sekarang untuk mengatakan hal itu. Ia takut istrinya tambah drop dan mengatakan topik lain.


"Kau jangan pikirkan hal itu dulu, sebaiknya kamu pikirkan bayi mu, Niken. Jika kau stres itu akan membuatnya sulit berkembang sayang." Gio mengelus puncak rambut Niken agar mengerti ucapannya.


Niken mengangguk paham ucapan Gio, berjuta pertanyaan dalam benaknya ingin tau kenyataan yang sebenarnya. Namun ia cukup sadar bahwa saat ini ia tengah mengandung dan jika ia terlalu memikirkan nya akan mempengaruhi janin dalam kandungan nya.


Seseorang telah tertangkap oleh polisi disebuah gedung tua, mereka membawa kedua pelaku ke kantor polisi untuk di beri hukuman.


"Lepaskan kami!!! jangan tangkap kami tak bersalah.... " Ucap wanita itu.


...----------------...


...****************...


Like, Vote, And Coment pliss...

__ADS_1


Untuk karya ku ini ya readers.... 😊


__ADS_2