
Pukul 6 pagi matahari menunjukkan sinar nya hingga menembus kamar Gio, Gio menggeliat mentari menyinari wajahnya, meraba kesamping mencari keberadaan istrinya yang semalam terlelap di pelukannya namun yang di cari mungkin sudah bangun untuk menyiapkan sarapan. Mengucek matanya dan duduk bersandar di atas ranjang Gio melirik ponsel Niken yang ditinggalkan di atas nakas bergetar tanda notifikasi pesan masuk. Gio memeriksa pesan yang masuk di ponsel istrinya itu. Sudah puluhan panggilan telepon yang masuk, Gio melihat yang menghubungi Niken adalah Rendra membuat jengah melihatnya.
"Anak ingusan itu benar-benar gak kapok, sudah di peringati tapi tak punya rasa takut." Lalu Gio melihat pesan di aplikasi WA istrinya, chat itu berisi Rendra pamit pada Niken akan keluar Negeri untuk melanjutkan kuliah di sana.
Pesan dari Rendra
Rendra: "Niken aku mau memberitahu mu aku akan melanjutkan kuliah ku ke LA atas kemauan papa. Mungkin ini juga atas perintah suami mu pada papa ku untuk menjauhkan kita. Kau jaga diri mu ya, sampai jumpa lagi. "
Pesan itu langsung di hapus oleh Gio agar Niken tak membacanya, jika Niken sampai tau Gio yang menyebabkan Rendra harus pergi keluar negri istrinya itu pasti akan memohon untuk Rendra agar tak pergi. Ia tak mau hal itu sampai terjadi.
"Kurang ajar juga si anak ingusan itu berani mengadu pada Niken, untung saja aku yang membacanya bukan Niken." Pintu kamar terbuka, segera Gio meletakkan ponsel Niken kembali di atas nakas samping ranjang tidurnya berharap agar Niken tak mengetahui bahwa ponselnya telah dibajak oleh Gio.
Niken masuk ke kamar melihat suaminya sudah bangun, tapi belum beranjak dari tempat tidur.
"Mas, sudah bangun kok belum mandi sih?" Niken mendekati Gio yang sedang bermalas-malasan, maklum lah kan weekend, jadi Gio tak berangkat kerja.
Bau iler tauk...." Niken menutup hidungnya mencium bau suaminya yang menurut nya menyengat.
"Enak aja bilang mas bau iler, Meskipun baru bangun tidur tapi mas gak ngiler kok semalam." Gio mencium badannya yang menurut nya tak bau.
"Hoek... Bau mas bau sekali.... Cepat mandi!!" Niken mendorong tubuh Gio ke bathroom untuk segera mandi.
"Iya iya... Tapi jangan dorong-dorong gitu, mas jalannya jadi susah." Gio beralasan agar Niken tak mendorong tubuh nya lagi.
"Ya sudah, aku tunggu di ruang makan setelah mandi kita sarapan bersama dengan ayah dan ibu mas, oh ya orang tua ku juga kemari mas" Ucap Niken
"Hah... Orang tua mu juga kemari?" tanya Gio heran masih pagi begini kenapa tiba-tiba orang tua Niken datang.
"Iya mas," jawab Niken
__ADS_1
"Untuk apa mereka kemari? " Niken menjawab pertanyaan suaminya hanya mengedikkan bahu berarti ia juga tak tau tujuan orang tuanya kemari.
Mungkin merindukan aku kali mas. Sudah kamu cepat mandi sana, inget jangan lama-lama kalo mandi.Aku mau menemani orang tua kita dulu." Niken melenggang pergi , suaminya yang masih berdiri didepan bathroom.
"Wanita cerewet." Gumam Gio. Niken menghentikan langkah nya
"Aku dengar lo mas bilang aku cerewet," Niken melotot pada Gio.
"Siapa yang bilang kau cerewet, kamu salah dengar Niken." Ucap Gio lalu memasuki bathroom untuk mandi.
Melihat suaminya sudah akan mandi Niken menuju ruang makan.
Di meja makan Niken sudah menyiapkan makanan untuk kedua mertua dan orang tuanya. Niken merasa bahagia sekali keluarga nya bisa berkumpul disatu meja.
"Jarang sekali moment ini bisa terjadi. Mudah-mudahan ayah ibu memiliki berita baik untuk ku dan mas Gio, aku juga akan bilang sama ayah dan ibu kalo aku udah hamil anak mas Gio." Niken berbicara sendiri saat menyiapkan sarapan dan mengelus perut nya yang sudah ada benih cintanya dengan Gio namun masih rata.
Mereka sarapan bersama.
Gio merasa badmood melihat ibu nya Niken, Gio masih curiga dengan siapa yang sudah melempar batu berisi kertas, apalagi waktu itu Gio melihat sekilas dilayar CCTV-nya ada seorang ibu-ibu melintas di komplek perumahan miliknya dan itu persis sekali seperti ibu Mia tepat setelah kejadian lemparan batu berisi kertas itu.
Meskipun waktu itu gambar nya tak terlalu jelas dan Bu Mia menggunakan masker tapi Gio masih mengenali dengan yakin bahwa itu adalah Ibu Mia. Dugaan Gio itu belum dikatakan pada Niken maupun pak Handoko, Gio masih terus mencari bukti tentang kebenarannya, jika bukti itu sudah terkumpul barulah Ia menyatakan yang sebenarnya dan membawanya ke polisi.
Setelah selesai sarapan mereka masih berbincang di meja makan.
"Oh ya. Jarang-jarang kita bisa berkumpul di rumah ini, bagaimana kabar pak Joko dan bu Mia?" Tanya Pak Handoko pada besannya.
"Kabar kami baik-baik saja, Pak." Ucap Pak Joko tersenyum getir dalam benaknya 'bagaimana kami baik-baik saja sedangkan aku belum lama kehilangan anak semata wayang ku. Sekarang malah Mia sedikitpun tak pernah mendengar nasehat dariku, setiap hari kami hanya bertengkar saling menyalahkan atas kematian Adelia.' Gumam batin pak Joko.
"Oh... Syukur lah... Jika begitu, kita lanjutkan ngobrol diruang tamu saja ya Pak, biar sama-sama enak kalo bicara sambil bersantai gitu." Pak Handoko menggiring besan dan anaknya untuk menuju ruang tamu setelah sarapan agar lebih leluasa untuk berbicara.
__ADS_1
Ada raut wajah kekhawatiran di balik senyum Bu Mia yang membuat Pak Handoko semakin penasaran dengan kedatangan besannya yang mendadak ke kediamannya.
"Ayo silahkan duduk dulu, Maaf tadi waktu kalian datang kami tak menyambutnya karena kalian bertamu masih terlalu pagi." Ucap Bu Meli pada kedua besannya mempersilahkan duduk di sofa panjang miliknya yang berada di ruang tamu.
"Ah... Tak apa-apa Bu Meli, memang salah kami tak mengabarkan dulu jika ingin bertamu, namun kami berpikir jika bertamu hari ini akan baik, karena ini weekend pastinya semua ada di rumah." Ucap Bu Mia tersenyum namun penuh kepalsuan, tingkahnya dengan mudah dibaca oleh orang tua Gio.
"Niken bagaimana kabar mu, Nak?" Tanya Pak Joko pada Anak keduanya itu.
"Aku baik-baik saja, Yah. Aku rindu sekali pada ayah." Ucap Niken yang sudah duduk di sebelah Pak Joko sebelum nya dan kini memeluk ayahnya merasakan rindu karena sudah beberapa bulan setelah pemakaman Adelia terakhir kali mereka bertemu sama sekali tak memedulikan suaminya yang menatap tajam Niken yang masih bergelayut di lengan Pak Joko.
"Ayah juga rindu pada mu Niken." Pak Joko mengecup kening anaknya itu.
"Sudah... ayah dan Niken jangan berlebihan begitu, malu di lihat oleh besan dan mertua mu Niken." Ucap Bu Mia tak suka anaknya itu bermanja pada suaminya yang menurut nya berlebihan.
"Tak apa Bu Mia, wajar jika anak merindukan orang tuanya, tak perlu malu saya juga akan bahagia bila memiliki anak seperti Niken, dia anak yang baik dan sopan. Selalu tersenyum bila berbicara dengan orang lain dan tak membedakannya kasta seseorang." Ucap Pak Handoko memuji sifat Niken yang rendah hati. Namun pujian itu terasa menusuk hati Bu Mia, ia merasa Niken tak sebaik itu bila dibandingkan dengan Adelia anak kesayangan nya.
"Benarkah... Mungkin bapak Handoko ini belum tau sifat asli Niken jadi bisa bicara begitu tentang Niken. Adelia lebih baik dari Niken, Ia Bukan apa-apa bila dibandingkan dengan Adelia." Ucap Bu Mia yakin akan perkataan nya.
Niken kecewa dengan ucapan ibunya, bukan karena ia tidak menyukai Niken, namun karena dibandingkan itulah yang membuat hatinya sakit. Gio menggelengkan kepala mendengar ucapan Bu Mia tak percaya mengapa bisa seorang ibu membandingkan kedua putrinya didepan orang lain dan putrinya itu sendiri.
"Tapi kan yang ada sekarang adalah Niken, biarkan Adelia menjadi kenangan dan Niken menjadi kenyataan sekarang." Ucap Bu Meli berniat untuk menghibur menantunya yang tengah terluka, memang Niken tak mengatakan apa pun kekecewaannya itu , namun Ibu Meli bisa membaca raut wajahnya yang berubah murung.
"Oh ya. Sebenarnya saya ingin menanyakan hal ini pada kalian, apa kalian tau jika Niken akhir-akhir ini sedang di teror?" Tanya Pak Handoko pada kedua besannya.
"Hah, teror?! " Ucap Pak Joko terkejut
#Jangan suka membanding-bandingkan aku dengan nya, jelas beda. Aku bumi dan dia langit yang tinggi/😔
...----------------...
__ADS_1