
Keesokan harinya saat Gio pulang dari kantor ,Gio menyetir mobilnya sendiri, karena Pak Ujang sedang cuti pulang kampung.
Saat melintasi arah gang sempit itu Gio melihat mobil mertuanya ada di depan mobilnya mengingat jalan itu yang beliau lalui adalah jalan menuju rumah Bu Sri yang urung ia kunjungi.
"Dari mana pak Joko? Mengapa beliau ke jalan ini? Setahuku ia tak memiliki saudara disini." Gio bertanya-tanya sendiri.
"Ketimbang aku perasaan lebih baik aku ikuti Pak Joko saja. Sudah lama juga dia tak bertemu dengan Junior, Beliau pasti senang melihat kedatangan ku bersama cucunya." Ia lalu mengikuti mobil ayah mertuanya itu sampai di depan kediamannya pak Joko. Gio masih saja belum terbiasa memanggil pak Joko dengan sebutan 'ayah', Padahal usia pernikahannya dengan Niken sudah termasuk lama. Tak seperti Niken yang memanggil kedua orang tua Gio dengan sebutan ayah dan ibu.
Ia menginjakkan kakinya turun dari mobil dan membawa serta anaknya dalam gendongannya untuk menemui Pak Joko.
"Assalamualaikum, Pak" Salam Gio dan memanggil Mertuanya yang sedang membuka pintu utama rumah pak Joko.
Pak Joko menoleh ke asal suara, Ia tersenyum sumringah melihat menantu dan cucunya datang.
" Walaikumsalam!" Pak Joko menjawab dan menoleh pada asal suara
"Nak Gio... Junior cucu kakek, kalian datang." Senyum Sumringah Pak Joko melihat kedatangan Gio dan anaknya. Sudah lama ia tak mengunjungi rumah mertuanya itu. Kedatangannya kali ini sangat membuat pak Joko bahagia. Lalu karena kerinduan nya pada cucunya ia meminta Junior dalam gendongan Gio untuk menggendongnya.
Pak Joko menciumi cucunya itu, seperti rindu sekali padanya.
"Ayo Nak Gio kita masuk dulu." Ajak pak Joko pada Gio.
"Mari ayah." Mereka masuk rumah.
Setelah nya Gio menanyakan perihal pak Joko yang melintas di gang yang menuju rumah bu Sri itu.
"Maaf sebelumnya, Pak. Tadi aku lihat anda dari gang sempit yang berada di pinggir kota, memang nya ada keperluan apa di sana? Bukankah di sana tak memiliki saudara." Gio nyerocos pada mertuanya yang tertegun dengan pertanyaan menantunya.
"E... Bapak menemui Bu Sri, Nak." Jawab Pak Joko ragu-ragu.
"Untuk apa menemuinya, Dan tau dari mana alamat bu Sri? " Pak Joko seperti di interogasi oleh Gio.
"Saya hanya menegurnya atas kesalahan yang ia buat di masa lampau.Mudah bagi saya mengingat jalan yang mempertemukan ku dengan Niken, Nak." Ucap Pak Joko
"Kesalahan apa maksud Pak Joko?" Gio
"Karena dia, membuat orang tua kandung Niken meninggal, dan sekarang Niken tak bisa bertemu dengan mereka." Pak Joko
"Sebab meninggal nya orang tua Niken bukan karena bu Sri Pak. Beliau meninggal karena kecelakaan." Ujar Gio
__ADS_1
"Tapi Bu Sri bilang pada Rega jika ia melihat seseorang menodongkan pistol pada kepala ibu Niken waktu itu dan ia tak berani menolongnya hanya melihatnya dari jauh."
"Benar juga ucapan Bapak. Tapi kenapa mereka mau membunuh ibunya Niken. Apa sebenarnya yang mereka inginkan?" Gio merenung
"Saya juga masih bingung dengan hal itu, Nak. Tapi ya sudahlah, itu semua sudah berlalu. Dan sekarang kita tak perlu memikirkan nya lagi." Ucap Pak Joko.
"Tapi saya akan tetap mencari tahu hal itu, Pak. Karena ini menyangkut masalah Keluarga Niken juga. Dan kemarin Saya sudah bertemu dengan kakak kandung Niken mudah-mudahan itu akan mempermudah saya mendapatkan informasi tentang kematian orang tua Niken" Gio.
"Kakak kandung Niken?" Pak Joko terkejut mendengar nya.
"Iya, Pak. Dan dirinya sudah menemui Niken di rumah sakit." Ucap Gio
"Apa kau yakin dia adalah kakak kandungnya Niken?" Pak Joko yang masih ragu dengan kakak kandung Niken yang sudah ketemu.
"Bisa di bilang yakin atau juga tidak. Saya yakin karena ia memiliki cincin pasangan dari cincin yang bersama Niken waktu anda temukan." Gio
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan ketidakyakinan mu." Pak Joko
Gio mengangguk" Saya tidak tau hanya ada hal mengganjal di hati saya, Pak. Tapi saya tak tau itu apa." Perasaan Gio yang masih mengganjal.
Ponsel Gio berdering, Ada seseorang yang menghubungi nya di tengah perbincangan nya dengan mertuanya.
"Iya silahkan."
Gio menatap layar ponselnya yang bergerak-gerak dan ternyata itu adalah pihak rumah sakit yang menelpon Gio.
Mereka memberi tahu jika kondisi Niken sudah membaik. Dan ada kemungkinan akan segera sadar dari komanya. Gio di minta untuk datang ke rumah sakit, agar jika Niken sudah sadar nanti, ada orang terdekat yang berada di sisinya.
Gio menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo, Ada apa, Sus?" Gio
"Halo, pak. Saat ini saya akan memberi kabar jika Bu Niken kondisinya hampir pulih, anda segeralah ke rumah sakit, agar jika beliau sadar nanti ada keluarga yang menemaninya." Suster rumah sakit yang merawat Niken.
"Baik, Sus. Saya akan segera ke sana." Jawab Gio dengan cepat, Senyum Gio tersungging pada sudut bibir nya. Ia membayangkan istrinya akan segera sadar dan ingin memeluknya erat tak ingin lepas lagi.
"Siapa yang menelpon nak Gio?" Tanya pak Joko penasaran
"Pihak rumah sakit pak. Dan membawa kabar baik untuk kita semua, Niken akan segera sadar dan aku di minta untuk datang kesana sekarang." Gio antusias sekali mengatakannya.
__ADS_1
'Niken kamu akan segera sadar, Sayang.' Gio sangat bahagia mendengar kabar tentang istrinya.
Pak Joko ikut ke rumah sakit untuk melihat Niken.
Waktu itu menunjukkan pukul 15.00 wib.
Gio, Junior dan Pak Joko menuju ruang rawat Niken. Di dalam ruangan itu sudah ada dokter dan suster yang memeriksa keadaan Niken.
"Bagaimana keadaan istri saya sekarang, Dok." Tanya Gio.
"Anda bisa melihat sendiri pergerakan jari ibu Niken, dan detak jantungnya mulai normal."
Gio dan Pak Joko melihat perkembangan Niken seperti yang dikatakan dokter.
Mata Niken mulai berkedip pelan. Seperti akan membuka mata tapi masih sulit untuk terbuka.
Gio memegang jemari Niken. Bola mata Niken bergerak meskipun matanya masih terpejam.
Dalam Mimpi Niken ia melihat suaminya memanggilnya.
"Ayo sayang kita kembali ke rumah, Kita sudah memiliki anak." Ajak Gio pada Niken dengan membawa Junior.
"Ayo Niken cepatlah kemari, hari mu sudah berakhir. Jika kau memilih dia kau akan merasakan sakit lagi. Tapi jika kau ikut dengan ku kau akan bahagia." Ucap Seseorang berpakaian serba putih itu.
Niken bingung di buatnya harus memilih siapa.
Suasana di mimpi itu Niken berpakaian putih dan di sana terdapat dua pintu yang berdampingan.
Pintu pertama terdapat seseorang yang mengajak nya untuk masuk kedalamnya.
dan Pintu kedua terdapat suami dan seorang anak kecil di gendongannya.
Niken akhirnya memilih untuk bersama suaminya.
Pelan-pelan Niken membuka mata
"Mas Gio" Kata pertama saat Niken sadar dari komanya.
"Kau sudah sadar sayang... " Gio berhamburan dengan memeluk istrinya.
__ADS_1
...----------------...