Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Merajuk


__ADS_3

"Huwa...!!!" Niken dan Junior menangis bersamaan di dalam kamar, membuat pelayan di rumah nya kebingungan dan segera menelpon Gio memberitahu jika istri dan anaknya tengah menangis hingga suaranya terdengar keluar ruangan.


Kring!!! Suara ponsel Gio berdering ketika sedang berbicara dengan Rega.


Ternyata yang menelpon adalah pelayan di rumah.


Di usapnya tombol hijau yang bergerak-gerak di layar Ponselnya.


Dunia 📞📱


"Halo, Tuan Gio." Suara pelayan di seberang sana


"Iya,,, Ada apa Bik?" Suara Gio di seberang sini


"Anu, Tuan... Nyonya dan Tuan kecil menangis di kamar, suaranya keras sekali sampai terdengar dari luar dan saya mengetuk pintu dari tadi nyonya tak membukanya, malah semakin kencang menangis-nya. Bisakah anda pulang, saya takut terjadi sesuatu pada mereka dan tak berani membuka pintu kamar,Nyonya." Ucap Pelayan itu panjang lebar terdengar khawatir.


"Ha... Baiklah bik. saya akan segera pulang sekarang." Ucap Gio lalu mematikan ponselnya.


...-----...


Dalam hati Gio merasakan gusar yang sangat-sangat terlihat dari raut wajahnya.


"Siapa yang menelpon, bos? Anda terlihat sangat khawatir setelah menjawabnya." Tanya Rega memecahkan lamunan Gio.


"Telpon dari pelayan ku di rumah, melaporkan jika Niken dan Junior, mereka menangis di kamar sampai terdengar dari luar. Aku heran apa yang ia tangisi hingga membuatnya begitu histeris dan bersedih?" Gio terlihat khawatir dan bingung dengan tingkah istrinya yang begitu.


"Apa jangan-jangan nyonya sudah mengetahui tentang poto anda itu, sehingga dia sangat bersedih!" Rega menerka-nerka.


"Bisa jadi, tapi aku juga tak tau. Aku sekarang akan pulang melihat keadaannya, dan kau bereskan semua pekerjaan yang ada di kantor ini, terutama anak ingusan itu, jangan sampai kau melepaskan dia. Aku ingin menghajarnya sendiri sampai dia jera." Titah Gio pada Rega, beranjak dari duduknya dan menyambar tas juga jas yang ia letakkan di kursi berputar miliknya.


"Siap, Bos." Rega membungkuk dan memberi jalan Gio keluar ruangan.


Setelahnya Gio menyetir mobil untuk pulang, Ia berlalu pulang dengan terus menghubungi ponsel Niken, Namun tak ada jawaban membuat Ia semakin cemas.


Setelah lima belas menit kemudian, Gio sampai di pelataran rumah nya.


Ia memasuki rumah nya segera di sambut oleh pelayan yang tergopoh-gopoh menghampiri Bos-nya yang tampan itu.


"Untung, Tuan segera pulang, Sudah satu jam nyonya menangis, Tuan." Ucap pelayan lalu Gio memberikan tas dan jas yang ia bawa dari kantor pada pelayannya.


Sambil berjalan Mereka sampai di depan pintu Kamar Niken yang masih terkunci.


"Ha... Satu jam!" Gio lalu segera menggedor pintu kamar nya.


Dogh

__ADS_1


Dogh


dogh


"Niken!!? Buka pintu nya sayang!" Ucap Gio.


Tangisan Niken berhenti sejenak, begitu juga Junior,


"Sayang!!!" Teriak Gio dari balik pintu.


"Itu seperti suara ayah mu, Nak." Ucap Niken pada anaknya dengan dirinya masih menangis sesegukan.


Niken berjalan sambil menggendong Junior dan membuka pintu kamar pelan.


Ceklek...


Gio melihat mata istrinya yang bengkak karena menangis dan anaknya yang di gendong


Gio lalu segera memeluk anak dan istrinya itu. Namun Niken malah mendorong pelan tubuh Gio yang memeluknya.


"Lepaskan!" Ucap lirih Niken.


"Pa pa na cal mama nanis..." Ucap Junior memarahi Gio yang masih berusia 12 bulan dengan nada comelnya


"Kamu jangan pura-pura baik sama aku mas! Kamu itu udah selingkuh!, Aku gak mau dekat-dekat sama kamu!" Ucap Niken merajuk.


"Pura-pura apa? Memangnya aku selingkuh sama siapa Niken? Jangan asal nuduh!"Ucap Gio tak mengerti dengan ucapan Niken.


"Lihat!! " Niken memperlihatkan foto Gio dan wanita murahan itu padanya.


Gio kembali terkejut mengetahui istrinya telah mengetahui tentang foto itu.


"Aku memang gak seseksoy dan gak secantik dia mas! Tapi kalau ingin memiliki wanita lain, setidaknya kau ceraikan aku dulu. Jangan main belakang gitu...." Ucap Niken bersedih.


"Kau ini bilang apa sih!! Siapa yang sudah mengirimi foto itu pada mu, Itu tak seperti apa yang kau pikirkan Niken!" Ucap Gio tegas.


"Lalu itu apa??? Sekarang kau mau mengelak apa lagi!! Bilang saja kalau kamu sudah bosan pada ku!! Gak usah pura-pura lagi!!" Seru Niken yang sudah tak bisa menahan rasa cemburu nya.


"Bi... bawa Junior ke halaman belakang. Aku ingin meluruskan sesuatu pada Nyonya Niken." Titah Gio pada pelayan yang sedari tadi memperhatikan perselisihan Gio dan Niken.


Pelayan itu mengangguk dan mengambil Junior dalam gendongan Niken, lalu membawanya ke halaman belakang atas perintah Gio.


Setelahnya Gio kembali menatap Istrinya dan mendudukkan Niken ke ranjang kamarnya, tak lupa ia menutup pintu kamarnya.


Gio menjatuhkan pantatnya di samping Niken.

__ADS_1


"Tatap mata ku ini!" Ucap Gio menarik dagu Niken agar menatap matanya.


Niken menatap Gio dengan mata yang masih berair.


"Sekarang katakan padaku, Kau mempercayai aku atau orang lain, Hem?!" Ucap Gio tegas pada Niken.


"Aku tak percaya pada siapapun!" Niken memalingkan wajahnya dari Gio.


Gio memegang jemarinya yang dingin, Sungguh kecewa di mata Niken tak bisa terpungkiri,


Begitulah rasa cemburu yang datang ketika sedang salah faham.


Sinar mata yang kelabu menahan kekecewaan yang dalam. 'Sebenarnya aku tak ingin marah pada mu mas, tapi aku sangat kecewa, Tadi malam kau tak pulang ke rumah dan pagi hari aku mendapati dirimu semalam ternyata bersama wanita lain, itu yang membuat ku sakit hati, Apalagi wanita itu sangat cantik dan seksoy.' Lirih Niken menundukkan kepala nya


"Aku bisa mendengar suara mu meskipun lirih, Percayalah padaku! Wanita itu aku sama sekali tak mengenalnya! Tolonglah Niken jangan seperti ini?" Ucapan Gio yang terus berusaha membujuk Niken.


"Jika kau tak mengenal Dia, Kenapa kau bisa berpangkuan dengan nya?!" Tanya Niken dengan wajah sebal.


Gio menghela nafasnya kasar.


"Huh... Dengar kan aku! Ada yang ingin membuat rumah tangga kita hancur, dan ingin menghancurkan reputasi ku, Kau cobalah berpikir jernih." Gio mengelus punggung tangan Niken.


"Lihatlah seksama poto itu, Jika aku benar-benar selingkuh dengan nya, kenapa di poto itu aku terlihat jijik padanya, Hem!?" Gio memperjuangkan kebenaran pada istrinya.


Niken melihat kembali seksama foto itu.


'Benar juga, sih! Kalo wajahnya terlihat tertekan di poto itu, Tapi aku tetap mau merajuk padanya' Batin Niken


"Aku tak peduli! Sekarang aku gak mau dekat-dekat sama kamu! Awas minggir!" Niken mendorong tubuhnya hingga terlentang di kasur.


Gio segera meraih tangan Niken dan membawanya ke pelukannya.


Brugh...!


Gio memeluk erat tubuhnya dan mengucapkan kata yang penuh kehangatan untuk Niken.


"Niken! Sudah bertahun-tahun kita menikah, Dan kau masih menjadi istriku sampai sekarang, Seharusnya kita sudah bisa memahami satu sama lain, bukan?" Ucap Gio


"He'em.!" Niken hanya berdehem


"Maafkan mas jika semalam tak pulang. Tapi kau benar-benar di atas segalanya di mataku, Dia hanyalah seorang wanita gak bener, Kau lebih cantik dan seksoy di bandingkan Dia. Jadi jangan pernah berpikir yang bukan-bukan." Ucap Gio mengelus puncak kepala Niken yang berada di dada bidangnya lalu mengecup kening Niken.


Seperti meneguk air di tengah gurun pasir, Niken merasakan kesegaran dalam hati nya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2