Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Jangan membuat ku marah.


__ADS_3

Rendra mengelap bibir nya yang berdarah dan merasakan perutnya yang sakit terkena pukulan Gio.


"Dasar pengecut! Berani nya memukul orang yang sudah tak berdaya!" Umpat Rendra.


Gio menarik kerah baju Rendra.


"Heh!! Anak ingusan! Berani kau bilang aku pengecut! Kau lah yang pengecut!" Gio mendorong keras tubuh Rendra ke lantai.


Brughh...


"Rendra!" Sisi berteriak dan menolong Rendra untuk berdiri.


Selain Sisi, mereka yang berada di sana hanya memperhatikan Gio yang menghajar Rendra.


Ya... Rega dan anak buahnya hanya di suruh membawa Rendra kehadapannya, untuk menghajarnya sampai Rendra jera.


"Kau masih muda tapi sudah berani memfitnah ku! Hem... Lihat ini!!" Pemilik perusahaan SB itu melemparkan kertas ke muka pria muda di depannya.


Kertas itu adalah foto yang tertempel di mading perusahaan nya yang sudah ia bawa saat ingin menghajar dalang penyebab rumah tangganya hingga mengalami masalah yang pelik.


"Bisa kau jelaskan pada istri ku tentang foto ini, Hah!?" Gio lagi-lagi menunjukkan amarah nya pada Rendra.


"Bukankah itu fotomu bersama wanita mu kemarin malam! Kenapa kau malah menanyakan padaku?" Rendra dengan nada tak bersalah nya.


Mata memerah Gio kini berubah seperti mata iblis yang ingin menghujam lawannya tanpa ampun.


"Sial! Kau jelaskan padanya atau aku habisi kau sekarang juga!" Gio yang sudah kehilangan akal tak mampu menahan emosi.


"Sudah, Mas! Kontrol emosi mu. Aku sudah mempercayai semua ucapan mu. Tolong jangan emosi lagi." Niken membujuk Gio agar mengkontrol emosi nya.


Ucapan Niken sedikit meluluhkan hatinya.


Namun niat ingin menabok mulut Rendra masih ada dalam gerakkan refleknya hingga Sisi menghalangi Gio yang ingin kembali memukuli Rendra. Hal itu benar-benar membuat Gio heran dan mundur satu langkah kebelakang.


"Kenapa kau membelanya? Apakah kau mengenal Anak ingusan ini? Hah!" Tanya Gio pada Sisi yang telunjuknya mengarah pada Rendra.


Sisi gemetaran ditanya oleh Gio, Sebenarnya dia juga takut pada bos-nya itu. Tapi sudah dari awal terlanjur membela Rendra. Tanggung jika tak meneruskannya.


Sisi memantapkan diri yakin membela Rendra adalah keputusannya.


"Sa...Saya mengenal nya, Bos. Jadi saya mohon jangan sakiti dia lagi."


Gio menarik salah satu sudut bibirnya, mendengar Sisi memohon untuk Rendra.


"Heh! Anak ingusan! Apa kau mengenal gadis itu?" Tanya Gio yang telunjuknya mengarah pada Sisi yang badannya masih sedikit gemetar.


Rendra yang di tanya menjawabnya dengan mengangguk pelan, mengingat Gio yang garang tadi membuat nyalinya sedikit menciut.


'Sia! Kenapa aku jadi takut begini padanya' Gumam batin Rendra


Gio kembali menjatuhkan pantatnya ke kursi.

__ADS_1


Niken melirik suaminya, Ia merasakan ada hal aneh yang akan terjadi sekarang.


Tapi apa ya?


"Jika kalian saling mengenal, Kenapa tak berpacaran?" Gio duduk lalu menyilangkan kakinya.


Semua orang yang berada di sana melongo mendengar pertanyaan Gio yang mendadak membuat orang di sana tak percaya.


Sebenarnya apa sih yang ada di pikiran Gio. Kenapa Ia menanyakan hal yang gak nyambung begitu, dapat dari mana pertanyaan nya itu? Bukankah tadi sedang emosi.


"Mas... Kau sedang mabuk, ya?" Tanya Niken yang menatap Gio


"Maksudnya apa kamu bilang aku mabuk? Ya jelas gak lah!" Gio melirik istrinya.


"Hem... Kau pikir saja! Semua orang disini mengenal Rendra! Dan mereka semua tak memacarinya, dan sekarang kalau di bilang mabuk gak mau! sedangkan pertanyaan mu itu dipenuhi dengan bau anggur merah!" Jelas Niken


"Pufth...!" Gio menahan tawanya mendengar celotehan istrinya.


"Mereka berdua itu 'kan pria dan wanita juga sama-sama lajang. Lebih baik berpacaran saja. Ketimbang ngurusin rumah tangga orang."


Maksudnya Gio apa coba bilang begitu?


Ngejodohin Rendra dan Sisi gitu tujuannya!


"Bicaramu berbelit-belit mas! Jangan membuat kita pusing mendengar nya." Ucap Niken memalingkan wajahnya sebal mendengar celotehan Gio.


Gio lalu tersenyum, entah apa yang didalam benaknya.


"Kita nikahkan saja mereka berdua. Bagaimana menurut kalian?" Ucapan Gio kembali membuat semua orang yang ada di sana terkejut mendengarnya terutama Rendra dan Sisi.


Semua orang menatap Sisi dan berganti menatap Gio.


"Heh! Gio... Kamu pikir aku ini apaan di nikahkan dengan wanita aneh seperti dia!" Rendra melirik tajam Sisi.


Sisi mencubit lengan Rendra yang sedari tadi ia topang tubuhnya untuk berdiri.


"Augh!" Rendra mengaduh sakit lengannya di cubit.


"Huh...! Berani kamu ya bilang aku aneh! Yang aneh tuh kamu! Harusnya bersyukur ada yang mau menikah dengan mu!" Ucap Sisi 'Eh... Aku tadi bilang apa barusan. Seperti menginginkan pernikahan ku dengannya saja.' Batin Sisi yang kebingungan.


"Nah... Itu... Siapa tadi namamu?" Tanya Gio pada Sisi.


"Nama saya Sisi, Tuan." Ucap Sisi menunduk


"Iya, Sisi. Kamu setuju 'kan kalau menikah dengan nya?" Tanya Gio lagi.


Sisi melirik Rendra yang melotot padanya.


Rega tak bisa menahan tawanya melihat tingkah bos-nya yang seenaknya menjodohkan seseorang tanpa perjanjian dulu, Apalagi Rendra dan Sisi adalah dua orang yang sangat berbeda kepribadian.


"Ada untung nya juga kau ikut aku kemari, Sisi. Bisa langsung menikah dengan orang yang kau cintai." Rega yang ikut berbicara.

__ADS_1


'Ya ampun pak Rega malah mengatakannya di depan orang banyak! Bikin aku tambah salting lagi nih' Gumam batin Sisi.


"Apa katamu, Mas? Jadi Sisi suka sama Rendra nih cerita nya..." Ucap Sila tiba-tiba datang dari belakang Rega.


Rega mengangguk dan membuat Gio semakin bersemangat menjodohkan Sekertaris dan musuhnya itu untuk menikah,


Niken hanya tersenyum melihat suaminya yang bertingkah seperti anak kecil.


'Lebih baik ketimbang dia menghajar Rendra gak jelas seperti tadi.' Batin Niken.


Rendra sudah merasa jika perbincangan itu mulai membuatnya terpojok.


"Kalian semua gak jelas!" Rendra lalu beranjak akan pergi melenggang jauh dari kediaman Gio.


Salah satu anak buah Gio menghadang kepergian Rendra.


"Jangan halangi dia. Biarkan dia pergi! Setelah ini dia takkan berani menggangguku dan keluarga ku lagi." Ucap Gio.


"Cih... Menyebalkan!" Rendra mendecih sebal


"Awas minggir kalian semua!" Bentak Rendra pada anak buah Gio lalu memberi jalan untuk Rendra pergi.


Sisi menatap punggung Rendra yang hampir menghilang dari pandangan nya.


Niken memperhatikannya.


"Susul 'lah Dia, jika kau ingin mengobati lukanya, maafkan suamiku jika membuat mu takut." Ucap Niken pada Sisi.


"Tak apa, Nyonya. Kalau begitu saya ijin untuk mengejar nya."


"Iya. Ikutilah hatimu." Ucap Niken, Sisi mengangguk lalu pergi menyusul Rendra yang berjalan menyusuri jalan.


Sementara kembali pada Gio, Rega dan juga Sila.


"Bos keren banget tadi, Aku sampai terkagum-kagum melihatnya." Ucap Rega memuji bos-nya.


"Ucapan mu ini sedang ingin apa dariku, hem? Bukankah kemarin baru dapat mobil dari ku." Gio pada Rega.


"Hehehe... Bos tau saja maksud saya." Rega tertawa.


"Jangan tertawa, ketawamu sangat aneh." Ucap Gio menghentikan tertawakan Rega.


Sila melihat adik iparnya yang meledeki Rega lalu menegur Niken yang menghampiri ketiga orang yang tengah berbincang.


"Lihat tuh suamimu! Membully calon kakak iparnya. Aku tak suka." Ucap Sila menggerutu.


"Yak ampun kak. Gitu aja di ambil hati, Mas Gio itu hanya sedang bercanda sama Rega." Ucap Niken.


"Ya tetep aja, Kakak gak suka dengar nya."


'Kak Sila ini lebay amat deh' Niken membatin

__ADS_1


"Oh ya kak. Kapan kalian akan menikah?" Tanya Niken pada kakaknya mengalihkan pembicaraan.


...****...


__ADS_2