
"Niken!" Panggil Gio pada istrinya yang masih berada dipangkuan nya. Gio melirik pada istrinya.
"Hem... apa Mas?" Ucap Niken melirik suaminya itu.
"Kita pulang, yuk. Jemput Junior dirumah ibu." Ajak Gio.
"Tapi Mas. Nanti kalau ibu tanya soal lukaku ini bagaimana menjawabnya?" Tanya Niken pada suaminya khawatir ibu mertuanya akan menanyakan lukanya, Jika mengatakan yang sebenarnya bukankah ibu akan marah pada Mas Gio.
"Bilang aja yang sebenarnya" Ucap Gio enteng
"Kamu gak takut dimarahin sama ibu, Semua luka ini 'kan perbuatan dari kamu." Ucap Niken
"Gak. Aku 'kan pria sejati. Mana ada rasa takut dengan siapapun." Ucap Gio percaya diri
"Heleh... Pria sejati kok cengeng, mana nangisnya di kamar mandi lagi! Basah-basahan pula!" Niken meledeki suaminya.
Gio menarik salah satu sudut bibir nya dengan mata melotot mendengar ledekan istrinya ditujukan untuk nya.
"Apa? Tadi kamu bilang apa? Gak dengar Mas!" Ucap Gio menghadapkan wajah Niken padanya.
"Masak gak dengar sih Mas! Orang aku bilang nya keras kok suaranya." Ucap Niken
Tak disangka hidung mancung nan mungil Niken di cubit oleh Gio. Tanda Gio kesal mendengar ucapan Niken yang meledeknya.
"Aduh, Mas... Aku gak bisa napas kalo kamu cubit hidungku!! " Niken berusaha berbicara dengan suara bindeng nya karena hidungnya di kunci menggunakan jari.
Gio lalu melepaskan cubitannya. Dan Niken bangkit dari duduknya di atas paha Gio. Pikir nya agar terhindar hidung nya dari Gio lagi
"Aku gak mau denger kamu ngeledekin aku lagi!" Ucap Gio dengan membuang muka dan menunjukkan wajah cemberut nya
"Oke... Oke... Tapi Mas juga jangan marah lagi ya" Ucap Niken membujuk dan berdiri dihadapan Gio.
"Itu tergantung kamu. Kalau kamu bahas masalah itu lagi aku akan marah." Ucap Gio
"Iya-iya..." Ucap Niken
__ADS_1
Setelah nya mereka berdua melenggang pergi menuju kediaman Pak Handoko.
Ternyata Sila masih berada di sana sedang berbincang bersama bu Meli. Dengan menjaga Junior juga.
"Junior!" Niken berlari kegirangan melihat anaknya kembali dalam keadaan baik-baik saja.
"Mama rindu sekali padamu, Nak." Ucap Niken lalu memeluk Junior.
"Papa juga rindu padamu, Jun." Ucap Gio memeluk anak dan istrinya.
Mereka tak tau ada sepasang mata yang sudah menatap tajam tiga orang yang sedang berpelukan itu.
Ya itu adalah sepasang mata ibu Meli. Mata itu melihat tajam kepada menantu dan anak tunggal nya itu. Ia merasa kesal dan kecewa dengan mereka berdua. Atas hilang nya Junior. Dan pertengkaran yang terjadi akibat nya membuat Niken terluka, semua itu sudah di ceritakan oleh Sila pada Bu Meli.
Gio menyadari jika ibunya sedang menatap nya tajam.
"Bu.... Kenapa melihat kami dengan wajah begitu?" Tanya Gio lalu melepaskan pelukannya pada anak dan istrinya, begitu pula Niken mendudukkan kembali Junior di samping nya karpet yang sebelumnya ia mendudukkan nya di atas pangkuan.
"Ibu mengira kalian sudah mengetahui letak kesalahan kalian berdua. Jadi masih berani bertanya lagi!" Ucap Bu Meli mengomel.
Niken tertunduk mendengar ucapan mertua nya yang sedang menasihati mereka berdua.
"Sebaiknya aku membawa Junior ke kamarnya, ya. Sepertinya dia mulai mengantuk." Ucap Sila hendak membawa Junior ke kamar yang sudah di siapkan oleh kedua orang tua Gio, bila sewaktu-waktu dibutuhkan untuk istirahat Junior jika sedang berkunjung ke rumahnya.
"Iya, Sila. Maaf ibu merepotkan mu untuk menjaga Junior, sekarang ibu ingin mengurus kedua bayi ini. Terimakasih ya, Sudah mau membantu ibu menjaga, Junior." Ucap Bu Meli pada Sila
"Beres, Bu." Lalu Sila membawa Junior ke kamar yang sudah di tunjukkan oleh Ibu Meli padanya.
Kembali pada ibu yang mode serius pada kedua insan yang berbeda jenis kelamin itu.
"Gio! Sekarang ibu mau tanya sama kamu, Sebenarnya kamu cinta gak sih sama Niken?" Tanya Bu Meli serius pada Gio.
"Ibu itu bertanya hal yang sudah tentu tau jawabannya, tentu saja iya 'lah Bu! Bukankah ibu juga tau hal itu!" Ucap Gio pada Ibu nya dengan sedikit tersenyum dengan wajah yang tak memiliki rasa bersalah
Niken menoleh pada suaminya yang menjawab begitu pada ibunya, 'Ya ampun Mas Gio, ibu itu lagi serius malah di ajak becanda.' Gumam batin Niken.
__ADS_1
"Tinggal jawab iya atau tidak! Susah sekali kalo ngomong sama orang pinter, harus banyak bersabar, ya." Ucap Bu Meli geram dengan Gio
"Dan kamu Niken. Kamu juga bagaimana pada Gio?" Tanya Bu Meli pada Niken.
"Iya sama aja , Bu. Aku juga cinta sama Mas Gio." Ucap Niken tertunduk malu
"Ini semuanya sudah jelas! Sekarang kalian saling minta maaf, Ibu gak mau kejadian tadi siang terulang kembali! Kalau anak hilang! ya di cari... Kalau ada masalah yang rumit jangan di selesaikan dengan emosi! Kalian berdua ini sudah dewasa, sudah memiliki anak! Tujuan kalian menikah itu untuk membina rumah tangga yang harmonis, Bukan seperti tadi siang! Kalian mengerti?" Ucap Bu Meli menekankan kalimat setiap kata yang keluar dari mulut nya.
Eh... Tapi tunggu dulu dech... Tujuan utama pernikahan ini 'kan untuk menutupi aib jika Gio gagal menikah karena pada awalnya Niken bukan gadis pilihannya dan bukan membina rumah tangga yang harmonis, awal juga menikah itu di paksa kok. Tapi kenapa sekarang di tuntut harus harmonis?
Orang kadang-kadang suka bikin persepsinya sendiri.
"Iya, Bu. Kami berdua mengerti." Ucap Gio dan Niken bersamaan.
"Bagus! Ini baru anak dan menantu ibu yang baik." Ibu Meli memuji kekompakan mereka berdua.
"Gio... Kau duluan minta maaf pada Niken, karena kamu sudah membuat Niken terluka." Titah Ibu Meli pada anak nya.
"Baik, Bu." Gio menuruti ibunya untuk meminta maaf pada Niken.
"Niken, Mas minta maaf, ya. Sudah membuat kamu menjadi terluka." Ucap Gio pada Niken
"Iya, Mas. aku juga minta maaf sudah menyusahkan mu dan selalu membuat kamu khawatir." Ucap Niken pada suaminya.
Mereka berdua lalu berpelukan dan saling memaafkan.
Ujug-ujug Sila muncul dari balik pintu kamar Junior.
"Bosan aku lihat kalian ini di mana-mana pelukan terus." Ucap Sila lalu duduk di samping Bu Meli.
"Gak pa pa dong, Sil. 'Kan biar terlihat kalo kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja. Iya 'kan Gio dan Niken?" Tanya Bu Meli.
"Iya, Bu." Ucap Gio dan Niken bersamaan.
Hari yang panjang untuk di lewati.
__ADS_1
* Namun namanya rumah tangga semuanya butuh proses untuk selalu bersama dan bersabar dalam menghadapi kehidupan yang sulit. Menyatukan dua insan berbeda pendapat setiap hari bersama bernafas di udara yang sama itu sulit, hanya ucapan yang mudah di ucapkan.Terkadang seseorang harus berkorban untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Karena nyatanya teori lebih mudah ketimbang praktekš¤*
...*******...