
"Wah... Sepertinya hidupmu sangat bahagia sekarang!" ucap Rendra dengan nada sedikit menekankan setiap kata.
Rega yang tengah menikmati hidangan bersama Sila kini sudah berdiri berhadapan dengan Rendra.
Sila juga terkejut dengan kedatangan Rendra yang tiba-tiba dan melihat kekasih nya itu menatap Rendra dengan wajah bengis.
"Kau lagi!" Seru Rega menatap tajam Rendra yang mengganggu dinernya bersama Sila.
"Apa yang kau maksud dengan ucapan mu, Hah!!" Seru Rega
"Heh!!! Kau sedang tidak tau atau hanya sedang akting?! Kau sudah membuat keluarga ku hancur berantakan!! Dan kau sekarang seperti berbahagia di atas penderitaan orang lain!" Ucap Rega dengan emosi menggebu-gebu.
Rega tersulut emosinya dengan ucapan Rendra. Ia tak merasa melakukan yang di tuduhkan Rendra padanya, Atau mungkin karena Pak Kuncoro jadi Rendra tak terima ayah-nya masuk penjara, dan perusahaannya yang bangkrut membuat keluarga nya menjadi hancur berantakan.
Sedangkan Sila juga menunjukkan wajah tak suka-nya pada Rendra.
"Oh... Sekarang aku mengerti maksud arah pembicaraan,mu!
Kau ingat kenapa Pak Kuncoro dan perusahaannya bisa hancur, Hah? Itu karena perbuatannya sendiri menyalahgunakan kekuasaannya, Jangan menyalahkan orang lain jika sekarang keluarga mu hancur!" Ucap Rega dengan tegas.
Perseturuan itu terjadi Ketika Gio dan Niken akan pulang dari taman itu, karena waktu menunjukkan sudah larut malam.
Pertikaian antara Rega dan Rendra menarik perhatian banyak orang yang berada di taman.Niken mengajak Gio untuk melerai perkelahian mereka berdua.
"Mas... Kita samperin mereka, yuk. Aku khawatir jika mereka nanti sampai berkelahi." Ajak Niken pada suaminya karena cemas melihat perseturuan Rega dengan Rendra.
"Biarkan saja mereka berkelahi. Rega pasti bisa menyelesaikan masalah-nya sendiri." Ucap Gio.
"Tapi, Mas..." Ucapan Niken ditahan oleh lirikan Gio dan Niken melihat suaminya melirik tajam padanya seketika langsung diam dan menundukkan kepalanya.'Ih... Mas Gio ini nakutin aja sih kalo kayak gitu lirikannya.' Batin Niken menggidik sendiri takut melihat suaminya.
Kembali pada Rega dan Rendra
"Hah... Banyak omong!" Rendra berteriak dan melayangkan bogem mentahnya pada Rega, Namun berhasil di tangkis oleh Rega.
Rega balik memukul Rendra di bagian pipinya hingga bibir pemuda tampan yang menyerang nya itu berdarah.
"Damn!! " Umpat Rendra dengan memegang bibirnya terasa perih. Sisi ternganga melihat Rega memukul Rendra. "Astaga pak Rega kasar sekali!" Gumam Sisi melihat dari kejauhan.
"Kenapa kau mengumpat ku, Hah?!! Dasar pemuda tak tau diri!!!" Rega hendak memukul kembali pada tubuh Rendra bagian perut, Ia sudah merasa puncak emosinya sudah naik sampai ke Ubun-ubun.
__ADS_1
Namun untung saja di tahan oleh Sila.
"Sudah, Mas... Jangan terlalu emosi pada-nya. Hanya akan membuang tenaga-mu sia-sia." Ucap Sila menahan Rega dengan memegang lengannya dan kepalan tangannya yang hampir melayang ke tubuh Rendra.
Rega hampir lupa jika ia sedang kencan dengan Kekasih-nya, lalu menatap Sila.
"Benar ucapan mu, Sayang. Dan sebaiknya kita tinggalkan pemuda angkuh dan suka menuduh itu! Aku benar-benar sudah muak melihat-nya." Ucap Rega mengajak Sila pergi dari hadapan Rendra, Tapi di tahan oleh Gio yang datang menghampiri mereka
"Jangan!!! Yang seharusnya pergi itu dia! Bukan kau Rega!" Seru Gio ikut berbicara.
"Heh... Kenapa kau ikut campur urusan ku?! Dasar suaminya Niken yang jahat dan sombong!" Ucap Rendra menghardik Gio.
"Kau ini benar-benar seperti ayah-mu yang tak tau diri itu! Pantas saja kau tak punya malu ingin merebut istri-ku di masa yang lampau! Sedangkan ayah-nya saja juga berbuat hal kotor itu!" Gio balik menghardik Rendra.
"Diam!!! Jangan pernah kau menghina Ayah-ku seperti itu!" Seru Rendra pada Gio dengan ucapan yang menggelegar.
Gio hanya menggelengkan kepalanya, Pemuda itu benar-benar membuat kesabarannya hampir habis.
Tiba-tiba Satpam taman datang berbondong-bondong dengan gagahnya ingin menegur seseorang yang melakukan keributan itu, mendapatkan kabar ada keributan di taman.
"Mengapa anda membuat keributan disini?" Tanya salah satu petugas keamanan itu pada Gio. Satpam itu tak tau jika pemilik taman yang Ia tanyai.
Mereka seketika menjadi ciut nyalinya melihat yang mereka tegur adalah bos mereka sendiri.
"Maaf... Tuan, Atas ketidaknyamanannya berada di taman ini." Ucap salah satu satpam itu lalu menundukkan kepala.
"Aku tak butuh minta maaf mu!!! tapi yang ku inginkan Cepat usir pemuda itu dari taman ini! Dan jangan biarkan ia masuk kembali kesini sampai waktu yang aku tentukan!" Titah Gio pada kedua satpam penjaga taman itu dengan tatapan tajam.
"Baik, Tuan. Laksanakan perintah anda." Ucap Satpam melakukan titah Gio.
"Ayo cepat tinggalkan tempat ini!" Titah satpam itu menarik lengan Rendra untuk menyeretnya keluar dari taman.
"Lepaskan aku!" Rendra menolak di usir
"Halah!! Ayo cepat!!" Paksa satpam itu pada Rendra dan akhirnya berhasil mengusir Rendra pergi dan mendorong nya secara paksa.
Sisi kasihan melihat Rendra yang di perlakukan seperti itu lalu menghampiri Rendra setelah satpam itu pergi.
"Kau tak apa-apa 'kan?" Tanya Sisi dengan wajah khawatir-nya melihat pipi Rendra yang mulai lebam terkena tinjunya Rega.
__ADS_1
"Jangan urusi urusan orang lain!" Ucap Rendra dan mengacuhkan perhatian Sisi pada-nya. Lalu melenggang pergi meninggalkan gadis itu mematung di depan pintu gerbang masuk taman.
"Bisa gak sih, jadi orang jangan terlalu naif." Ucapan Sisi itu menghentikan langkah Rendra. Dan sekarang berbalik menghampiri Sisi.
"Kau bilang apa tadi? Ha!!" Rendra membentak Sisi.
"Kau terlalu naif, Ren. Semua orang butuh orang lain untuk menjadi teman! Tapi kau terlalu memikirkan dirimu sendiri hingga tak melihat orang lain yang peduli padamu!" Sisi yang tak bisa menahan perasaan kasihan nya terhadap Rendra.
"Teman? Heh... Aku tak butuh itu!" Rendra yang acuh.
"Sebaiknya kau obati lukamu itu. Jangan membuat muka-mu semakin jelek karena luka itu." Ucap Sisi lalu mengambil salep pendingin yang selalu ia bawa dalam tasnya.
Sisi mengoleskan salep itu pelan pada pipinya Rendra. Pemuda itu merasakan kelembutan gadis yang berada di hadapan nya sekarang.
'Ternyata dia bisa bersikap selembut ini' Batin Rendra.
Rega merasa lega karena Rendra sudah pergi dari taman itu.
"Huft... Akhirnya pengganggu itu pergi dari hadapan kita." Ucap Rega
"Makasih ya Bos, selalu membantu saya. Dan maaf sudah merepotkan" Sambung Rega.
"Tak perlu sungkan! Sebentar lagi 'kan kita akan jadi saudara. Ini memang seharusnya aku lakukan untuk kalian berdua." Ucap Gio.
"Berarti kamu bisa manggil Rega dengan sebutan, 'kakak' dong, Mas?" Niken menanyakan kembali hal yang membuat Gio kesal dan menatap tajam Niken.
"Masih mengungkitnya! Lihat pembalasan ku nanti di rumah!" Gio lalu menatap nakal pada Niken
"Eee... Sebaiknya kita pulang dulu, ya Kak. Kasihan Junior sudah capek." Niken gugup melihat suaminya mengancamnya begitu.
"Iya. Kalian pulang 'lah duluan." Ucap Sila menahan tawanya melihat adiknya yang gugup karena ulah suaminya.
"Baiklah... Rega tolong jaga kakak ku, jangan kau sakiti dia, Oke...." Ucap Niken mengedipkan sebelah matanya.
"Siap, Bu Bos." Ucap Rega lalu membungkukkan tubuhnya.
Niken dan Gio berlalu meninggalkan taman itu yang mulai sepi karena pengunjung yang datang sudah satu persatu pulang ke rumah masing-masing.
...******...
__ADS_1