Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Cemburuan


__ADS_3

.


.


.


"Rega, apa jadwal ku hari ini? " Tanya Gio pada Rega.


Rega lalu membuka lembaran agenda jadwal meeting Gio hari itu.


Rega menjelaskan


"Hari ini ada meeting dengan klien dari perusahaan GH jam satu siang. Dan jam tiga sore ada pertemuan untuk dewan perusahaan SB dan SBH, bos. " Rega Membacakan Agenda bos nya.


Gio mengangguk mengerti.


Sementara itu di kampus Niken Universitas XX


Waktu jam makan siang, Niken sudah menyelesaikan jam kuliah nya. Saat nya untuk pulang.


Sayang nya pengurus rumah Gionino yang di tugaskan untuk menjemput Niken belum datang untuk menjemput Niken.


Saat Niken sedang menunggu


Seseorang menghampiri Niken.


"Hai." Sapa seseorang itu.


"Oh.. Hai! " Niken menjawab sapaan


"Kamu Niken ya. " Ucap seorang itu


"Iya. Aku Niken, ada apa ya? " Niken bertanya seolah tak mengenal pria yang menyapa nya itu.


"Kenalin nama ku Rendra. " Menyodorkan tangan untuk bersalaman.


Niken awalnya ragu untuk menjabat tangan pria itu, namun untuk menghormati nya ia akhirnya menerima jabatan tangan, mereka bersalaman. Niken mengangguk


"Sudah lama aku ingin berbincang dengan mu, Masih belum di jemput ya. " Tanya Rendra


"Iyakah. ehm... Darimana kau tau nama ku, sebelum nya apa kita pernah ketemu? " jawab Niken lalu bertanya lagi.


"Kita sekelas tentu saja bisa saling mengenal, dan nilai mu paling bagus di kelas mana mungkin aku tak mengenal mu. " Ucap Rendra yang kini berdiri di hadapan Niken


"Hehe.. benarkah, maaf aku tak memperhatikan sekeliling ku jika fokus belajar di kelas. " Ucap Niken cengengesan, merasa tak enak hati. Di kampus ia terkenal sombong, jarang bergaul dengan teman sekelas nya.


Rendra adalah anak dari pemilik perusahaan GH, usia nya sepantaran dengan Niken, ia tampan, menarik, dan juga kaya, di tambah postur tubuh nya yang gagah, membuat para gadis mengagumi nya.


Tapi tanpa tau bagaimana Rendra bisa tertarik pada Niken.


Pria yang bernama Rendra itu terus memandangi wajah Niken, Niken merasa tak nyaman.


"Kamu cantik. " Gumam Rendra yang masih terdengar oleh Niken.


"Maaf, kamu tadi bicara apa,

__ADS_1


aku gak dengar. " Ucap Niken pura-pura tak dengar agar pria tampan dan masih muda itu mengulangi ucapan nya .


"Kamu cantik Niken. " Ucap Rendra memuji.


"Ehm. Terima kasih. " Jawab Niken yang hampir tersipu, namun tersadar . 'Yak ampun, gw udah punya suami, tapi kenapa bisa tersipu sama cowok ini, hem...suruh siapa aku cantik, maaf mas Gio aku terpesona pria lain.hihi..' Batin Niken


Setelah itu mereka bertukar nomor, tadinya Niken menolak, karena Rendra terus memaksa jadinya Niken memberi nomor ponselnya.


Beberapa saat kemudian


Supir yang menjemput Niken sudah datang.


"Maaf jemputan ku sudah datang, aku permisi pulang dulu. " Ucap Niken berpamitan.


"Iya, Hati-hati. " Rendra mengacungkan jari jempol dan kelingking ke telinga, tanda ingin menghubungi Niken lewat ponsel.


Niken hanya mengangguk, lalu masuk ke mobil yang menjemput nya.


Di kantor Gionino.


"Hem.. perasaan ku gak enak ya. " Melihat jam tangan nya.


"Sepertinya Niken sudah pulang, aku coba hubungi dia. " Mencari nama Niken yang ia namai babi rakus, di pencet nya tombol hijau panggilannya terhubung


tut tut.


Ponsel Niken berdering


dret dret.


"Eh. mas Gio menelpon ku. " Di pencet nya tombol hijau.


"Halo, Niken. Kamu dimana sekarang? " Tanya Gio pada Niken di seberang sana.


"Aku di mobil mas, sudah mau jalan pulang. Ada apa? " Tanya Niken penasaran tak biasanya suami nya itu menelpon.


"Tidak ada apa-apa, ya sudah kalau begitu, Nanti aku pulang agak sorean. kamu jangan lupa makan. " Titah Gio.


"Iya mas, aku mengerti. " Turut titah Gio.


Mereka memutuskan panggilan.


Di kantor Gio


'Sepertinya ia baik-baik saja, mungkin perasaan ku saja. 'Gumam hati Gio lalu bergegas untuk mempersiapkan meeting dengan client.


Niken yang di dalam mobil.


"Tumben sekali mas Gio menelpon ku hanya untuk basa basi. " Gumam Niken yang masih terdengar oleh supir nya.


"Mungkin Tuan khawatir pada Nyonya jadi menelpon . " Ucap pak Ujang supir.


"Benarkah orang sepertinya bisa menghawatirkan orang lain? " Ucap Niken polos.


"Nyonya tak tau ya, jika tuan selalu khawatir kepada nyonya. " Ucap pak Ujang yang masih fokus menyetir.

__ADS_1


"Maksudnya pak Ujang apa, saya gak ngerti." ucap nya tak mengerti sepertinya ucapan supirnya itu tak masuk akal.


"Nih, saya kasih tau ya nyonya, Tuan Gio itu sering menghubungi orang rumah jika dia sedang di kantor, tuan selalu bertanya keadaan nyonya di rumah, apa lagi waktu nyonya masih sakit waktu itu. Dia setiap jam selalu bertanya keadaan nyonya. " Ucap pak Ujang menceritakan tentang bagaimana Gio khawatir terhadap Niken.


Benar saja, semenjak Niken yang putus asa waktu itu hingga ingin mengakhiri hidupnya, Gio malah menemukan keunikan di dalam diri Niken yang tak bisa di jelas kan, Niat Gio yang ingin menyakiti Niken hilang kala ia tau di keluarga pak Joko, istri nya itu tak pernah di hargai.


Setelah mendengar cerita dari pak Ujang, Niken merasa cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Ia semakin yakin bahwa Gio bisa mencintai nya.


Sore menjelang.


Gio sampai di kediamannya.


Ia duduk di sofa dengan menghela nafas panjang. Niken yang melihat suaminya yang seperti itu pun menghampiri nya.


"Capek ya mas. " Duduk di samping Gio.


"Iya, mas capek. " Mendusel pada dada Niken membuat ia kegelian.


"Mas, malu, " Niken yang malu perbuatan suaminya di perhatikan oleh pelayan rumah.


"Kenapa harus malu, mereka tak peduli apa yang kita lakukan, Aku capek. Pijiti aku. " Gio memasang muka memohon.


Niken menuruti perintah suaminya untuk memijat, kepala, tangan dan kaki.


Gio selonjoran di sofa. Menatap lembut wajah istri nya, terasa damai jika berada pada seseorang yang kita cintai.


"Mas, apa sudah enakan? " Tanya Niken yang tangannya sudah mulai lelah.


"Sudah. Duduklah sini di pangkuan ku. " Titah Gio pada Niken.


Niken menurut perintah Gio, Mereka saling beradu pandangan, entah apa yang mereka pikir kan bercumbu di depan para pelayan.


Tiba-tiba ponsel Niken berdering notifikasi pesan berbunyi.


Ting..


Pesan masuk di ponsel Niken, Mereka yang sedang asyik bercumbu terganggu oleh deringan ponsel Niken.


Gio geram. "Siapa yang menghubungi mu, lihat! " Gio menarik ponsel yang di genggam oleh Niken.


Gio marah kala melihat isi pesan itu dari seorang pria, pesan yang berisi tentang basa basi menanyakan sedang apa, sudah makan apa belum, itu membuat Gio cemburu buta.


"Siapa dia, mesra sekali? " Tanya Gio dengan nada kesal .


"Itu, teman kuliah ku mas. " Jawab Niken biasa aja.


Gio lalu meninggalkan Niken di sofa, ia masuk ke kamar lalu menguncinya.


Niken bingung dengan sikap Gio yang tiba-tiba dingin dan berubah, ia merasa tak melakukan kesalahan.


"Mas Gio ini kenapa sih, cuman pesan gini aja langsung marah gak jelas, belum aku selesai ngomong udah pergi aja. " Gumam Niken yang heran dengan sikap kekanak-kanakan Gio.


Niken membalas pesan Rendra, mereka saling bertukar pesan.


Niken sama sekali tak menyadari bahwa suaminya sedang cemburu buta. Ia malah asyik mengirim pesan pada seorang yang baru tadi siang ia kenal.

__ADS_1


...****************...


...----------------...


__ADS_2