Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Mencerca diri sendiri(ketulusannya)


__ADS_3

"Mengapa kau memandangi aku seperti itu Niken?" Tanya Gio melihat istrinya yang menatapnya dengan tatapan sayu.


"Aku hanya sedang berpikir, Mas." Jawab Niken lalu duduk di tepi ranjang tidurnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan hingga membuatmu terlihat meradang?"


Niken sejenak menghela nafasnya berat. Lalu memegang lengan suaminya yang kini sudah berada di hadapan nya.


"Mas ... Begitu banyak tentang diriku yang Minus, bahkan kesehatan rohaniku pun kau tau seberapa buruk jika aku sedang kambuh. Aku malu mas sekarang aku malah memiliki aib yang lebih besar lagi untuk mu!" Ucap Niken dengan matanya mulai mengembun.


"Kau tau apa yang sedang kau bicarakan,Niken. Aku sama sekali tak mempermasalahkan kehidupan mu. Yang aku tau sekarang kau adalah wanita yang paling aku cintai." Ucap Gio memegang pundak Niken.


"Tapi mas ... Dengan status sosial mu yang tinggi ini akan membuatmu di permalukan orang lain. Apa kata orang jika istrimu adalah anak yang tak diinginkan oleh orang tua nya. Bahkan dibuang begitu saja. Hiks-hiks-hiks" Niken mulai menangis


"Niken ... " Gio berusaha menenangkan hati istrinya yang mulai putus harapan. Tapi istrinya itu tak hentinya nyerocos.


"Apa lagi dulu kau menikah dengan ku karena terpaksa, sekarang kau malah bilang mencintai ku.Bisakah kau jelaskan kenapa kau bisa mencintai ku begitu saja dengan sifat ku yang menurut orang aneh ini, Atau kau hanya kasihan pada ku karena aku mengandung anak mu?" Niken terus menghardik dirinya sendiri dengan meminta penjelasan pada Gio tentang perasaan suaminya itu.


Gio tak menyangkal hal itu, sejak menikah dengan Niken orang-orang mulai membicarakan kehidupan pribadinya karena pergantian mempelai wanita yang mendadak.


Kondisi labil Niken kambuh lagi di tambah dirinya yang tengah hamil, psikisnya mulai memburuk. Gio hanya memberikan kehangatan pada Niken agar sedikit tenang, karena di kondisi seperti itu orang yang mengalaminya hanya butuh orang lain untuk mendengarkan keluh kesahnya, begitu menurut buku yang Gio baca untuk mengetahui setiap rinci kondisi istrinya ia terus mempelajari buku Psikologi. 'Kasihan sekali kamu Niken, Di kehamilan pertamamu ini kau malah mendapatkan masalah yang bertubi-tubi dan kenyataan pahit yang kau rasakan' Batin Gio bergumam mengasihani istrinya.


"Niken, kau sudah merasa tenang sekarang?" Tanya Gio dengan melihat kondisi istrinya yang mulai berhenti menangis.


"Iya, Mas." Jawab Niken dengan suaranya yang serak karena habis menangis.


"Sekarang dengarkan aku bicara." Gio menengadahkan wajah Niken ke hadapan nya, mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipi istrinya.


"Aku mencintaimu sebelum kau hamil Niken, wanita yang sederhana dan patuh pada suaminya tak pernah menuntut apapun padaku, Karena itu, aku sangat Sayang pada mu. Jika kau hamil anakku sekarang ini adalah bonus dari Tuhan karena aku memilikimu. Kau jangan pernah berpikiran tentang perasaan ku pada mu, aku sangat takut kehilanganmu. Percayalah padaku, aku tak pernah merasakan perasaan ini pada wanita manapun selain kamu." Gio menggenggam erat tangan Niken. Berharap yang diucapkan nya dapat di telan dengan baik dan bisa dipahami boleh Niken.

__ADS_1


Hati Niken berbunga-bunga mendengarkan ucapan suaminya. Itu adalah kata-kata paling indah yang pernah keluar dari bibir suaminya. Niken tersenyum lalu memeluk suaminya. Seperti puas dengan segala ungkapan indah dari bibir manis yang sepanjang hari berusaha untuk bisa membuat nya selalu tenang.


Kegetiran hidup nya sedikit terobati dengan ketulusan yang dicurahkan oleh Gio.


"Mas ... Aku sangat bahagia mendengar kau mengatakan hal itu pada ku. Tiada hal yang indah kecuali ungkapan Cinta dari orang yang kita cintai." Ucap Niken terharu dengan suaminya


"Jangan sedih lagi, ya. Kita jalani semua bersama jangan pernah menyerah untuk bersama ku, aku sangat mencintaimu, Niken." Ucap Gio lalu tersenyum.


"Aku juga mencintaimu, mas." Ucap Niken.


Wanita mana yang tak bahagia bila mencintai orang yang begitu mencintainya.


Pagi menyingsing menyisir kegundahan di hati Niken setelah mendengar kabar dari sekertaris suaminya. Ada seseorang yang mengetahui tentang masa lalu Niken.


Bagaimana bisa Rega mendapatkan informasi tentang Ibu kandung Niken dengan begitu mudahnya,begini ceritanya.


"Permisi, Nyonya. Bolehkah saya bertanya sesuatu, maaf bila mengganggu?" Ucap Rega bertanya pada Lansia itu.


"Boleh, Nak. Silakan duduk dulu, Nak ini mau tanya apa ya?" jawab Wanita itu dengan mata mendelik karena memakai kaca mata menyuruh Rega duduk di bangku sebelah nya. Lalu Rega duduk.


" Begini Nyonya apakah anda pernah melihat bayi yang ada di foto ini?" Rega memperlihatkan foto Niken saat masih bayi.


"Seperti foto sudah lama ya." Lamat-lamat ia melihat foto itu.


"Bayi ini adalah bayi yang dibuang beberapa puluh tahun yang lalu di gang ini, Nyonya. Coba anda mengingat-ingatnya kembali mungkin anda bisa memberi sedikit informasi, sekecil apapun itu berharga bagi saya." Ucap Rega mencoba menggali informasi dari wanita tua itu.


"Aku tak pernah melihat nya. Tapi sepertinya baju yang dikenakan dan keranjang itu aku pernah melihat nya, dimana ya... Aku sedikit lupa, Nak." Wanita itu mengingat-ingat.


"Oh ya ... Aku mengingatnya sekarang. Dia adalah bayi yang akan dititipkan padaku, dari seorang wanita yang terluka parah. Tapi aku menolaknya bukan maksud tak mau membantu tapi aku takut jika ia orang jahat. Lalu aku membiarkan nya sendirian di sini." Ucap wanita itu.

__ADS_1


"Lalu setelah itu apa yang terjadi dengan wanita itu, Nyonya?" Rega bertanya lagi.


"Dia- Dia ... Di bawa oleh seseorang dan aku tak tau apa lagi yang terjadi padanya, kemungkinan sih di bunuh, Nak. Sebab pria itu menodong kan pistol pada kepala wanita itu, aku tak berani menolong nya karena aku sendirian pada waktu itu, Tapi bayi itu disembunyikannya di dalam tong sampah yang terbuka tutupnya dan saat aku akan mengambil nya untuk merawat bayi malang itu sudah di ambil seseorang dan aku tak tahu siapa." Begitu cerita wanita tua itu sudah di rekam oleh Rega menggunakan ponselnya dan ia kirimkan pada Gio.


Dan karena rekaman percakapan itulah membuat Gio ingin bertemu dengan wanita tua itu.


"Jika saya boleh tau siapa nama anda? Mungkin lain kali kita bisa bertemu lagi." Tanya Rega nama wanita itu


"Nama saya Sri, panggil Bu Sri saja." jawab Bu Sri memberi tahu kan namanya.


"Baiklah, Bu Sri. Nama Saya Rega. Lain waktu saya akan membawa bos saya kemari untuk berbincang lagi. Apa Boleh?" Tanya Rega


"Tentu saja, boleh nak Rega. Saya akan senang hati menyambutnya." Ucap Bu Sri.


Niken dan Gio mendengarkan seksama percakapan itu. Ia sedikit khawatir takut jika wanita yang bernama ibu Sri itu berbohong akan cerita nya, sebab sudah lama hari itu terjadi hari dimana orang tua Niken meninggalkan nya, namun ia begitu dengan cermat mengingatnya.


Pagi itu ayah Niken sudah menyiapkan sarapan.


"Ayah kenapa tak membangunkan aku tadi, sekarang ayah malah memasak sarapan sendiri?" Ucap Niken menggerutu.


"Ayah takut kamu kecapaian Niken. Hanya nasi goreng saja hal kecil untuk ayah memasak." Ucap pak Joko , sebenarnya Ia mendengar percakapan anak dan menantunya semalam karena suara Niken sedikit tinggi pada Gio hingga terdengar sampai kamarnya dan semalam membuat Pak Joko khawatir. Tapi setelah Gio dapat mengendalikan emosinya Niken Batinnya terharu mendengar ketulusannya Gio pada Niken.


Setelah sarapan mengajak Niken untuk pulang.


Hari dimana kelahiran anak Gio dan Niken tinggal 50 hari lagi begitu perkiraan Dokter kandungan yang memeriksanya beberapa waktu lalu.


Mereka berniat ingin bertemu dengan ibu Sri dengan memberi perintah Rega untuk mengantarkannya ke kediaman Bu Sri.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2