
"Apa tak bisa kau cari pengacara untuk ku! Semua ini bukan sepenuhnya kesalahan ku. Jika saja Gio tak menyiksa Adelia kesayangan ku sebelum nya mungkin ia juga takkan mati dengan mengenaskan!" Ucap Bu Mia dengan menangis. Sayang nya saat pak Joko akan menjawab keluh kesah istrinya jam besuk tahanan sudah di selesai. Pak Joko di minta untuk segera keluar ruangan yang membatasinya dan istrinya.
"Jam besuk sudah habis, anda boleh pergi sekarang." Ucap petugas kepolisian yang menjaga pos.
"Baik, Pak. Saya permisi." Pak Joko melangkah pergi keluar, namun sebelum itu ia berperan untuk istrinya
"Jaga dirimu baik-baik ya bu. Jangan buat onar disini"
Petugas yang berjaga mengarahkan bu Mia agar kembali ke selnya. Sebentar memberontak karena tak ingin di masukan ke sel yang kotor, banyak tikus itu lagi. Namun ia tak mampu melawan kekuatan petugas hanya pasrah dengan keadaan nya sekarang.
Di kamar dua insan manusia telah selesai menikmati indahnya malam bila bersama seseorang yang kita cintai dan kasihi.
Niken teringat menanyakan perihal ibunya yang sudah tertangkap polisi pada suaminya
"Mas. Apakah ibu benar-benar ditangkap polisi? Jika benar, Apa kita tidak keterlaluan melakukan hal ini sedang kan ibu ku terkena musibah?" Tanya Niken yang jemarinya masih bermain di antara roti sobek milik Gio. Ia merasa gundah gulana dengan keadaan yang masih bergejolak Gio malah mengajaknya bercinta, karena sudah lama tak melakukannya Niken pun terhanyut dengan ajakan Gio.
" Kita 'kan suami istri, sudah sewajarnya melakukan aktivitas itu. Untuk masalah Ibu mu sudah ada yang mengurusnya. Kau tak perlu khawatir lagi, dan ingat kewajiban mu adalah melayani suami." Gio berusaha menenangkan hati Niken yang gundah dan gemas hingga mencubit pangkal hidung Niken.
Niken tersipu di buatnya, lalu ia meminta sesuatu hal pada Gio.
"Aku ingin melihat ibu mas, mungkin ia juga mengharapkan kehadiran ku." Ucap Niken menatap suaminya yang masih merangkul tubuh mungil Niken. Niken memasang muka sedihnya agar suaminya menyetujui keinginan istrinya itu.
"Pede sekali kamu mengatakan nya. Aku khawatir pada kondisi mu sekarang Niken. Jika ibu mu melakukan hal yang tak baik pada mu bagaimana?" Ucap khawatir jika Ibu Mia melakukan hal yang bodoh lagi terhadap putri keduanya itu.
"Aku bisa jaga diri kok, Mas. Aku sangat ingin melihat keadaan ibu, ini semua aku lakukan karena aku juga masih anaknya." Ucapan Niken membuat Gio bimbang antara menyetujui atau tidak. Tapi Karena Niken terus memaksa akhirnya Gio menyetujui permintaan Niken dengan mengangguk.
"Makasih ya mas. Tapi... "
"Tapi apa lagi sih, Sayang?" Tanya Gio
"Aku jadi teringat dengan ayah, mas. Bagaimana keadaan ayah sekarang ya. Pasti sangat terpukul dengan kelakuan ibu."
"Ayah mu orang yang sabar, ia pasti bisa melewati masa sulit ini. Aku pikir ayah mu itu sepertinya tak selemah yang kau kira Niken. Ia bahkan bisa hidup bersama ibu mu yang ternyata memiliki sifat yang pendendam itu."
"Bagaimana kau bisa tau keadaan keluarga ku yang bahkan aku tak mengetahui nya, Mas?"
"Mudah bagiku membaca raut wajah orang, apalagi seperti ayah mu, saat kau dan ayah mu berbicara beberapa waktu lalu apa kau tak menyadari sorot matanya yang sayu seperti menyembunyikan sesuatu yang sangat dalam, Hingga orang lain tak bisa menyelaminya."
__ADS_1
"Hati manusia tak ada yang tau, mas. Jika benar ayah memendam hal yang dalam dan rahasia, apakah itu ada hubungannya dengan ibu?"
"Entahlah, sayang... Ini sudah malam sebaiknya kita tidur." Menyelam dalam balutan selimut yang hangat.
Malam semakin larut langit semakin gelap, bulan mulai menenggelamkan diri, bintang-bintang semakin bersinar terang.
Keesokan harinya. Niken sudah bersiap untuk mengunjungi Ibunya yang berada di sel tahanan.
"Ayo, Mas... kita berangkat sekarang" Ucap Niken antusias. Gio terpaksa reschedule jadwal nya untuk meeting bersama klien karena menemani Niken ke tempat ibu Mia di tahan. Gio tak tega jika Niken hanya diantar oleh supir.
"Iya, Hati-hati jika berjalan, ingat kamu sedang hamil anak ku Niken." Ucap Gio mengingatkan istrinya yang berjalan cepat didepannya tanpa memikirkan kondisi kehamilannya yang masih muda.
Niken hanya nyengir kuda melihat suaminya yang khawatir.
Setelah menempuh jarak sekitar 15 menit mereka sampai di kantor lapas. Setelah mendapat kartu ijin besuk, Mereka berdua tiba di sel tahanan itu, tak lupa juga Niken membawa rantang berisi makanan untuk ibunya.
Ternyata pak Joko sudah lebih dulu di sana bersama dengan pengacara yang akan membantu proses pengadilan ibu Mia nanti.
"Ibu..." Panggil Niken pada ibunya yang berpakaian lusuh dengan raut wajah pucat serta rambut yang berantakan seperti sudah lama tak menyisir nya.
"Niken." Ucap lirih pak Joko.
Ibu Mia sama sekali tak menyambut Niken, sorot matanya malah menatap pada Gio yang berada berdiri di samping Niken.
"Aku rindu sekali pada, Ibu." Niken merangkul tubuh yang terduduk di kursi panjang itu. Bu Mia tak merespon Niken ia malah mendorong tubuh Niken hampir terjatuh, untung saja segera di tangkap oleh Gio yang sigap.
Brugh...
"Ibu..." Niken yang terkejut dengan sikap ibu Mia terhadap nya.
"Kau tak apa-apa, Niken?" Tanya Gio khawatir pada Niken
"Aku baik-baik saja, Mas." jawab Niken lalu Gio membantunya berdiri.
"Bu Mia tolong jaga sikap anda. Niken ini adalah anak kamu. Bisa-bisanya memperlakukan ia seperti ini." Gio yang tak Terima dengan sikap mertuanya yang tega mendorong Niken.
Pak Joko juga ikut berbicara menasehati Istrinya yang telah bersikap kasar itu.
__ADS_1
"Kenapa kau lakukan itu pada Niken. Ia hanya rindu pada mu, Bu." Ucap Pak Joko pada Istrinya.
"Aku tak butuh anak yang tak tau diri sepertinya! Mana ada anak tega melaporkan ibu nya sendiri kekantor polisi. Kau dasar anak durhaka!" Ucap Bu Mia dengan jari telunjuk mengarahkan kepada Niken.
Niken sontak kaget ibu yang dirindukan nya malah menuduhnya dan menyebut anak durhaka.
"Cukup! Jaga bicara anda Bu Mia yang melaporkan anda bukan nyonya Niken, tapi saya, Jadi jangan menyalahkannya atas semua ini, tapi salahkan saya yang sudah geram dengan kelakuan jahat anda dan Anton selama ini!" Ucap Rega yang tiba-tiba muncul.
Gio tak mengetahui jika Rega mengikuti mereka sampai di kantor lapas.
"Apalagi Niken adalah anak kandung Bu Mia. Mengapa bisa setega itu meneror kami" Ucap Gio.
Bu Mia malah tersenyum mendengar ucapan Gio, senyumannya seperti psikopat butuh darah segar.
"Anak kandung kata mu! Aku tak pernah merasa melahirkan anak seperti Niken! Dia bukan anak ku! Anak ku hanya Adelia seorang" Ucap Ibu Mia melotot pada Gio dan telunjuk nya mengarah pada Niken.
Bu Mia semakin menjadi-jadi setelah kematian Adelia sebelum nya. Sikap agresif ia tunjukkan kini.
Semua orang yang berada disitu terkejut mendengar nya. Tak ada yang tau apa maksud ucapan Bu Mia kecuali pak Joko dan Bu Mia sendiri.
"Sudah... Hentikan, Bu!" Ucap Pak Joko menyuruh istrinya diam karena tak tahan dengan ucapan nya.
"Tidak! Aku tak akan menghentikan perkataan ku sebelum aku mengatakan yang sebenarnya, Niken kamu ini bukan anakku atau Pak Joko. Kamu itu cuman anak yang di pungut dari tong sampah, Niken"
Sejenak Niken terdiam menelan semua ucapan wanita yang sudah di anggap sebagai ibunya selama ini.
Air mata Niken tumpah begitu saja, tiada kata yang bisa ia ucapkan, sorot matanya menuju pak Joko meminta penjelasan atas ucapan istrinya itu.
"Katakan sesuatu ayah, agar semua ini jelas adanya. Jangan kau tutupi lagi" Ucap Niken pada Pak Joko.
"Itu semua benar yang dikatakan ibu mu, Ayah juga tidak mengetahui keberadaan orang tua kandung mu hingga sekarang." Dengan berat hati pak Joko mengatakan kenyataannya pada Niken.
Niken berlari keluar merasakan sesak di dadanya. Kenyataan pahit yang harus ia telan, bahkan orang tua pun ia tak punya, Pantas saja Bu Mia selalu memberikan perhatian yang berbeda pada nya dan Adelia, karena ini alasannya.
"Wanita tak punya hati... Tega sekali mengatakan hal sekejam itu pada orang hamil" Ucap Gio lalu mengejar istrinya yang berlari terseok-seok.
...****************...
__ADS_1
*Ikatan hati yang tak putus oleh jebakan manusia yang lucknut*