
Begitu emosi Gio mendapati Anaknya hilang. Tiada kata ia ucapkan untuk Niken. Hanya acuhan yang membuat Niken semakin merasa bersalah.
"Mas... Kau marah padaku?" Tanya Niken
Gio menatap tajam Niken dengan mata elang.
Niken hanya menundukkan kepala
"Kau pikir siapa yang akan bahagia bila anaknya hilang?! Sudah ku peringatkan jangan pernah meninggalkan Junior sendiri!" Gio menghardik Niken.
"Ma... Maafkan aku, Mas. Aku tau aku salah.... " Niken menangis.
"Memangnya jika kau menangis, Junior ku akan kembali. Jangan menangis di hadapan ku!" Bentak Gio.
"Tapi ini semua bukan sepenuhnya kesalahan ku mas, Aku sudah jelas menitipkan Junior pada Bibi pelayan, bukan orang asing." Niken tak Terima jika ia sepenuhnya di salahkan
"Itu kesalahan mu! Terlalu percaya pada orang lain, sudah ku bilang jangan meninggalkan Junior! Kau masih saja ceroboh." Gio terus meluapkan emosinya pada Niken dengan menyetir mobil yang di kendarai Niken saat ke supermarket bersama Bodyguard sebelum nya.
"Tapi Bibi pelayan dan Bodyguard itu adalah rekomendasi dari ibumu, Mas." Ucapan Niken itu membuat Gio menepikan mobilnya.
"Jadi ... Kau ingin menyalahkan ibuku atas kesalahan yang kau buat, Benar begitu, Niken!" Gio sudah salah faham dengan semua ucapan Niken. Ia sama sekali tak bisa memahami penjelasan dari Niken.
"Bukan begitu, mas. Aku bukan menyalahkan ibumu, tapi kau jangan terus menyalahkan aku atas hilang nya Junior. Aku juga tak ingin ini terjadi pada anak kita. Aku mohon mas, jangan sampai ucapanmu yang keluar dari mulutmu akan kau sesali nanti." Niken
"Omong kosong! Jelas semua ini kesalahan mu, tapi kau tak mau menyadarinya." Gio terus-menerus membentak Niken dalam mobil itu, Niken sudah tak tahan dengan sikap Gio yang begitu. Ia memilih diam tak menjawab lagi. Sudah malas berdebat.
"Kenapa diam? Hah...." Gio
"Aku harus bicara apa lagi, Mas? Semua yang ku katakan padamu, kau anggap omong kosong 'kan? Lalu untuk apa aku menjawab ucapan mu." Niken lalu membuka pintu mobil dan keluar dari mobil.
"Kita cari Junior sendiri-sendiri. Aku tak mau bersama kamu untuk mencari anakku." Ucap Niken lalu mendahului mobil dan memberhentikan taksi dan menaikinya.
Gio memukul setir mobil dan melaju mengikuti laju taksi yang dinaiki istrinya.
"Dasar wanita bodoh!!! Kenapa kau selalu membuat kesalahan yang fatal." Ucap Gio penuh kemarahan.
Niken menangis di dalam taksi itu. karena Suaminya kini berubah kasar, Tapi seharusnya mereka saling menyemangati untuk menemukan keberadaan Junior anak mereka.
"Junior ... Dibawa kemana kamu oleh manusia-manusia jahat itu, Nak?" Gumam Niken dalam tangis nya.
__ADS_1
" Non, Kita mau jalan kemana, ya?" Tanya Supir taksi memecahkan lamunan Niken.
Ia segera mengusap air matanya, menjawab pertanyaan supir taksi.
"Kemana saja, Pak. Saya sedang mencari keberadaan anak saya yang di culik oleh pelayan dan Bodyguard saya." Niken
" Ouh... Pantas saja, Non menangis, bagaimana bisa itu terjadi, Non?" Tanya supir taksi
"Kejadian itu saat aku pergi ke toilet dan menitipkan anak ku pada mereka, Dan mereka membawa kabur anakku." Ucap Niken
"Yang sabar ya,Non. Anak sampean pasti ketemu." Ucap Supir taksi
"Iya, pak. Oh ya jika bapak melihat nomor plat ini, tolong berhenti, ya Pak. Karena mobil ini yang membawa anakku." Ucap Niken menunjukkan foto.
"Baik, Non. Oh ya, suami sampean memangnya kemana apa tak ikut mencari?" Tanyanya
"Suami saya dia juga mencari, tapi... Dia marah besar dan terus menyalahkan saya, Pak. Dan saya memutuskan untuk mencarinya sendiri karena sebelumnya aku sempat bertengkar dengan nya."
Supir taksi itu hanya diam, tak ingin meneruskan percakapan membahas suaminya, yang di ucapkan Niken sangat pribadi. Itu adalah masalah rumah tangga yang pelik.
"Non.Tak mencoba melaporkan nya pada Polisi?" Tanya Supir taksi.
"Sudah, Pak." Ucap Niken lirih.
Cittttt....
Suara rem memberhentikan mobil secara mendadak.
"Gila itu orang ngadang mobil gitu aja, untung gak ketabrak." Ucap Supir taksi yang masih terkejut
Brugh...
Kepala Niken terpentok kursi depan mobil karena guncangan yang sangat keras.
"Ada apa, Pak? Kenapa rem mendadak? Sampai kepala saya terpentok begini." Tanya Niken dan memegangi kepalanya yang sakit, hingga kepalanya memar.
"Itu Non. Ada orang gila menghadang mobil kita, untung saja saya bisa mengerem cepat, kalau tidak kita mungkin mengalami kecelakaan." Ucap Supir taksi menunjuk mobil didepannya pada Niken, dan Niken mengenali mobil itu milik suaminya.
"Itu... Mobil suami saya, Pak." Ucap Niken.
__ADS_1
"Ha... Itu suaminya Non. Maaf saya tadi mengatakan suami kamu gila. Bukan maksud saya bilang begitu." Ucap supir taksi merasa tak enak hati jika ucapannya menyinggung suami Niken.
"Tak apa, Pak. Suami saya memang sudah gila, Bapak sebaiknya turunkan saya disini saja. Makasih pak ini ongkosnya." Niken melihat kargo dan membayarnya.
"Tapi Non. Baik-baik saja 'kan ? Jika tak bisa menyelesaikan masalah itu, biar saya bantu bicara dengan suami Non." Supir taksi yang baik ingin membantu Niken.
"Tak perlu pak. Saya akan menyelesaikan masalah saya dengan suami saya sendiri, saya permisi." Ucap Niken akan turun dari mobil taksi.
Supir itu membuka kaca dan memperingati Niken
"Hati-hati ya, Non. Semoga anaknya Non cepat ketemu." Ucap Supir taksi khawatir dan meninggalkan Niken dengan suaminya yang masih emosi, Niken hanya mengangguk.
Gio turun dari mobil. Dengan langkah penuh emosi menghampiri istrinya.
"Siapa yang menyuruh mu turun dari mobilku, Hah?" Tanya Gio dengan bentakkannya.
"Gak ada yang menyuruh ku, itu keinginan ku sendiri." Ucap Niken enteng. Membuat Gio jengah.
"Ayo ikut aku! Naik mobil sekarang!" Gio menarik paksa lengan Niken untuk masuk ke mobil
"Lepaskan Aku, Mas! Aku gak mau! " Niken menolak ajakan Gio yang kasar dengan menghempaskan tangannya yang di pegang Gio
"Kau mau melawan ku terus, Hah...." Gio membentak
Niken menatap sinis suaminya. Ia sangat tak ingin bertengkar dengan Gio. Namun Gio terus tersulut emosi.
Saat Rendra mengendarai motornya pelan Ia melihat pasangan yang tengah bertengkar dipinggir jalan Sepertinya ia mengenalinya.
"Mereka seperti Niken dan Gio sialan itu, Sedang apa mereka di pinggir jalan? Sepertinya bertengkar, aku harus membantu Niken." Gumam Rendra lalu menghampirinya
Gio yang terus memaksa Niken hingga Niken kesakitan. Membuat Rendra tak suka melihatnya dan menegur Gio dan mendorong Gio keras hingga tersungkur.
Brugh...
"Lepaskan dia!!! Kau menyakiti Niken." Teriak Rendra.
Niken menoleh ke asal suara yang menghardik Gio.
"Rendra?" Niken bermonolog.
__ADS_1
"Sialan... Beraninya kau mendorong ku!" Seru Gio
...****...