Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Menjelaskan


__ADS_3

"Baiklah,,, aku akan ikut kamu untuk menemui mas Gio." Ucap Niken pasrah


"Aku ikut jika Niken menemui Gio!." Ucap Rendra.


Rega menyincingkan kedua matanya mendengar ucapan Rendra yang ingin ikut menemui Gio.


Rega menarik kerah baju Rendra. Dihadapkan padanya.


"Mau apa kamu ikut kami, Hah! Kau ingin menambah masalah baru lagi!!" Ucap Rega mencaci Rendra.


"Aku gak rela kalau Niken di sakiti oleh Gio lagi! Aku harus ikut memastikan Niken takkan di apa-apa 'kan oleh bos mu yang kasar itu!" Ucap Rendra dengan menghempaskan kedua tangan Rega yang berada di kerah bajunya.


"Berani kau menghina Bos ku, Hah!" Ucap Rega akan memukul Rendra namun di tahan oleh Sila.


"Jangan, Mas! Jangan melakukan kekerasan di depan ku, Aku tak mau tanganmu terluka." Ucap Sila mengkhawatirkan Rega. Membuatnya menghentikan gerakan untuk melukai Rendra yang sebelumnya sudah babak belur oleh Gio.


Cuih...


"Kali ini kamu selamat, Anak ingusan! Tak ada lain kali lagi jika kau melakukan hal yang sama! Menghina bos ku!" Ucap Rega mengancam Rendra.


"Sudah, sudah! Jangan bertengkar lagi! Biarkan dia ikut, Rega." Ucap Niken


"Tapi, Nyonya?"


Rega akhirnya memperbolehkan Rendra ikut, Namun tak mengizinkan Rendra membonceng Niken lagi, mereka menghentikan taksi untuk Niken dan Sila naiki menuju kantor Gio. Sedangkan Rega menaiki motor begitupun Rendra. Mengikuti laju taksi yang di gunakan kedua wanita itu.


Setelah lima belas menit kemudian, mereka sampai di depan kantor SB.


Sekertaris Sisi sudah menunggu kedatangan mereka.


"Ayo cepat, Tuan Rega! Tuan Gio sudah sangat marah kelamaan menunggu anda." Ucap Sisiq menyuruh Rendra cepat memasuki kantor Gio.


"Baik! Tapi tunggu sebentar, Nyonya Niken juga akan ikut menenangkan Tuan Gio." Ucap Rega.


"Ha... Nyonya Niken juga ikut, Bagus kalau begitu!" Ucap Sisi menggaruk tengkuknya yang tak gatal. 'Padahal tadi teriak-teriak manggil Nyonya Niken, katanya membencinya. sekarang malah dibawa. Apa akan ada perang lagi disini?' Batin Sisi.


Niken dan Sila turun dari mobil taksi dan melangkah menuju kantor SB mengikuti langkah Rega.


Mereka semua memasuki kantor Gio.


Niken melihat ruangan suaminya yang sudah berantakan. Namun pria yang menyebabkan kekacauan itu tak ada di ruangannya. Malah terdengar suara sayup-sayup air mengalir dari kamar mandi di dalam ruangan Gio.


Buru-buru Niken mengecek kedalam kamar mandi itu. Dan menemukan suaminya menangis sendiri dengan terduduk di bawah shower dengan air yang masih mengalir.


"Mas!" Ucap Niken terkejut melihat suaminya begitu.

__ADS_1


Gio mendongak kearah Niken, Ia menatap tajam Niken. Niken sama sekali tak takut mendekati Gio. Niken mematikan shower air yang masih mengaliri suaminya dan memeluknya.


Gio hanya terdiam dalam pelukan Niken. Hatinya sedikit tenang melihat wanita yang dicintai nya masih peduli padanya.


"Kenapa, Mas? Kenapa Kau begini." Ucap Niken lalu menangis.


"Kenapa kau kemari? Bukankah kau tak ingin bersama ku lagi!Dan ingin bersama dengan pria yang kau sukai itu 'kan!" Ucap Gio dengan raut wajah datarnya.


"Kamu ini bilang apa sih mas? Siapa yang kamu maksud, Rendra?!" Niken melepaskan pelukannya dan menatap suaminya dengan wajah yang masih basah.


"Iya! Dia lebih muda dan tampan dariku! Tentu saja kau pasti lebih menyukainya ketimbang aku." Ucap Gio menatap Niken.


"Ya Tuhan! Bisa 'kah kau sadar kan suami hamba ini, agar pikiran nya tak negatif padaku!" Niken menengadahkan tangan nya memohon agar menyadarkan Gio.


Gio menahan tawa dibuatnya. Dan mengernyit kan dahinya


"Aku mengatakan yang sebenarnya, Kau tak mau pergi bersamaku, dan memilih bersama dia tadi!" Ucap Gio dengan wajah kesalnya.


"Gak, Mas.Bukan itu sebab aku tak ingin bersamamu." Ucap Niken mengelus tangan Gio yang memar terkena benda tumpul. " Ini pasti sakit" Ucap Niken lirih


"Lalu apa? Jelaskan!" Ucap Gio membuang muka karena tersipu dengan perlakuan Niken yang lembut. Ia tak mau jika istrinya tau kalau pipinya memerah.


"Lihat wajahku Mas!" Niken memalingkan wajah Gio ke hadapan nya. Gio melihat luka di dahi yang tertutup plester tapi masih terlihat memar nya. Dan luka yang mulai membiru pada pipi Niken


"Ini karena pukulan ku tadi. Dan ini kenapa di plester?" Ucap Gio menyentuh pipi dan dahi Niken.


"Itu salah mu sendiri kenapa tak memakai Sittbell." Ucap Gio menyalahkan Niken yang ceroboh.


"Tapi kau juga salah, Mas. Bukannya menghawatirkan aku malah menuduhku yang bukan-bukan." Ucap Niken.


Perdebatan itu terus berlangsung hingga menarik perhatian Rega, Sila, Sisi dan Rendra. Mereka penasaran setelah Niken memasuki kamar mandi itu ia tak cepat keluar lagi. 'Apa yang sedang mereka lakukan disana?


Rega membuka pintu kamar mandi paksa, takut jika Gio melakukan hal Nekat pada Niken karena mungkin emosinya belum terkontrol.


Brakk...


"Bos! Kenapa basah-basahan begini bersama nyonya?" Celetuk Rega dengan polosnya dengan pertanyaan yang ambigu.


Rendra kesal melihat Niken dan Gio duduk bersama di tempat yang sama.


Sila tersenyum melihat kekonyolan yang dibuat adik dan adik ipar nya itu.


"Bukankah tadi aku dengar ada yang sedang mengamuk disini? Tapi yang ku lihat malah kalian berdua sedang basah-basahan. Apa aku gak salah lihat, Nih?" Ucap Sila menggoda kedua adiknya


Gio menatap tajam semua yang melihat nya. Terutama Rega. Ia menunjukkan wajah kesal, kenapa pria yang bernama Rendra itu juga ikut memasuki kantor nya.

__ADS_1


"Kalian kenapa masuk kemari? Cepat kalian semua keluar!" Titah Gio dengan amarahnya yang meletup-letup.


"Oke-oke, kita keluar sekarang. Cepat ayo kita pergi dari sini!" Ucap Sila lalu mendorong semua orang yang berada di dekat nya.


Setelah mereka pergi dari pintu kamar mandi, Gio menatap tajam Niken kembali menunjukkan wajah kesalnya.


"Kenapa lagi, Mas? Kau masih marah padaku?" Tanya Niken


"Heh... Ambilkan aku baju ganti, dan ganti pakaian mu juga!" Titah Gio


Lalu Niken mengambil pakaian di walk-in closed.


Mereka berganti baju dan keluar dari kamar mandi bergantian.


Disana Rega, Sila, Sisi dan Rendra sudah menanti penjelasan kedua orang yang tengah bertengkar itu.


Namun jika di tilik lagi sepertinya Gio sedikit mereda kekesalannya.


OB sudah membersihkan kekacauan yang ada di ruangan Gio. Sekarang ruangannya sudah rapi kembali seperti semula.


Mereka semua duduk di sofa panjang yang berada di ruangan Gio. Perasaan kesal Gio jika melihat Rendra ingin sekali membantainya kembali jika mengingat pertikaian di jalan siang tadi.


"Gio, Apa benar kamu yang membuat Niken terluka? Jika benar mengapa kau melakukan itu?" Pertanyaan Sila yang sudah di pendamnya sedari tadi akhirnya keluar juga.


Gio tersenyum sinis dengan pertanyaan kakak ipar nya itu.


"Menurut Kalian, aku setega itu melakukan hal yang membuat Niken terluka?" Gio balik bertanya


Rega dan Sila saling berpandangan dan menggelengkan kepalanya masing-masing.


"Gak mungkin sih, Bos. Secara bos 'kan sangat mencintai Nyonya Niken." Ucap Rega.


"Iya, Aku juga berpikir begitu." Ucap Sila menyetujui ucapan Rega.


"Lalu dari mana luka Niken itu jika bukan darimu, Gio. Jelas-jelas aku melihat nya kau melakukan kekerasan itu!" Ucap Rendra dengan wajah yang tak kalah sinis.


"Kau orang luar! Jangan ikut campur urusan keluarga ku!!" Bentak Gio pada Rendra.


"Aku akan ikut campur jika itu semua ada hubungannya dengan Niken!" Rendra tak kalah teriaknya.


"Sudah!!! Berhenti! Jangan ada yang bilang apapun lagi! Aku yang akan menjelaskan semuanya pada kalian." Ucap Niken menengahi.


Niken menceritakan hal yang sebenarnya, mengatakan bahwa suaminya tak sengaja melakukan itu semua. Dan mereka berdua sama-sama emosi karena kehilangan anak semata wayangnya. Sila, Rega dan Sisi mulai mengerti duduk permasalahannya.


Sedangkan Rendra masih tak percaya dengan semua itu. Rendra merasa kalah telak akan perebutan hati Niken dengan Gio.

__ADS_1


Dia akhirnya pulang dengan perasaan kesalnya.


...***...


__ADS_2