
.
.
Gio mendekati Niken yang sedang duduk di tepi ranjang,
"Kau sudah meras tenang, mas? " Tanya Niken namun tak memandang Gio.
Gio duduk di samping Niken.
"Belum.
aku masih kesal pada mu. " Ucap Gio dingin.
"Lalu kenapa kemari jika belum tenang. Aku mau mandi. " Bergegas meninggalkan Gio.
Tangan Niken di raih oleh Gio mendudukkan Niken di pangkuan nya.
"Lepaskan Mas. " Niken meronta
"Tidak.! Coba kau rasakan . " Gio menggesek ****** Niken ke pangkuan nya.
"It_itu!... " Niken menelan saliva susah, ia merasakan keras di celana suaminya.
Sepertinya Gio sudah tak sanggup lagi menahan n*fsu birahinya.
"Aku pria normal, kamu setiap hari tidur dengan ku, tak pernah sekalipun kau mau ku sentuh, bagaimana aku harus mengatasi ini." Gio menjelaskan isi hatinya
Niken gugup sekaligus takut, ia belum pernah melakukan nya.
"Lalu, aku harus bagaimana mas, Aku takut melakukan nya. Aku takut setelah kau dapatkan aku, kau meninggalkan aku. " Ucap Niken lirih dan menundukkan kepala.
Gio menangkup wajah Niken, di hadapkan ke wajah nya
"Lihat aku.! " Titah Gio
Niken memandang wajah Gio.
"Aku tak akan meninggalkan mu, jika kamu tak melakukan apa yang kakak mu lakukan pada ku. Aku menyukai mu Niken." Ucap Gio tegas dan lembut, Niken mengangguk.
'Mungkin mas Gio memang tulus pada ku, mungkin ini juga kewajiban ku pada suami ku. aku yang bodoh ini tak tau merawat suami.' Gumam hati Niken.
Gio ******* bibir Niken
'Rasanya manis' Batin Gio
Niken menikmati kecupan Gio.
Tangan Gio mulai kemana-mana, meraba ke seluruh tubuh Niken. Gio membukakan baju Niken pelan,
Mereka melakukan hubungan biologis itu. Mereka terlelap dalam mimpi,
__ADS_1
Pagi menjelang.
Gio akan bangun melihat istri nya masih terlelap kelelahan.
Mengusap lembut wajah Niken yang masih tertidur.
"Sepertinya aku terlalu bersemangat. Hingga membuat nya kelelahan. " Gumam Gio.
Niken menggeliat.
"Uh.. sakit. " Niken mengigau.
"Sesakit itu kah.. " Gio membangun kan Niken.
"Ah.. mas Gio. " Niken merasa malu dengan tingkah nya semalam menutup diri dengan selimut. Ia mengigit leher Gio hingga merah.
"Kenapa harus malu. Maafkan aku ya terlalu bersemangat membuatmu sakit. " Ucap Gio tersenyum melihat tingkah istri nya yang menurut nya lucu.
"Jangan bahas itu lagi, mas. Aku malu. Lihat leher mu merah. " Menunjuk leher Gio.
"Benarkah? Leher mu juga merah sayang. " Ucap Gio berganti menunjuk leher Niken.
"Ha.. Kok bisa. kapan kamu melakukan nya?".
Niken berjalan tertatih menggunakan selimut yang masih terlilit, merasa tak nyaman lalu ke cermin memastikan perkataan suaminya.
"Mas Gio bagaimana jika bibi pelayan melihat nya kan malu. " Niken memegangi leher nya yang merah ulah suaminya semalam
Lalu berteriak
"Mas Aneh..! " Ucap nya lalu Niken ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Gio mengikuti Niken.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama? " Tanya Gio
"Gak. aku malu mas. " Ucap nya malu-malu
"Gak usah malu, ayo. " Akhirnya mereka mandi bersama,
Di ruang makan.
Gio terlihat bahagia wajah nya tersenyum ceria, Niken malu-malu.
Pelayan bingung. ' Kemarin katanya bertengkar, sekarang bos terlihat bahagia, apa sebenarnya yang terjadi. ' Gumam hati pelayan.
"Bi. Masakan mu enak sekali. " Gio memuji masakan pelayan.
"Iya, benarkah tuan. Bagus jika tuan suka. " Ucap pelayan sambil tersenyum penuh arti
'Di lihat dari leher tuan, sepertinya nyonya sudah mau di sentuh. Pantas saja tuan terlihat bahagia, belum pernah ia memuji masakan ku. ternyata tuan sedang bahagia, nyonya juga malu-malu , hihihi bakal ada junior sebentar lagi. ' Gumam hati Pelayan sambil tersenyum sendiri.
__ADS_1
"Bibi kenapa senyum-senyum sendiri? " Tanya Niken heran dengan tingkah pelayan nya yang cengengesan.
"Ah.. tidak ada apa-apa nyonya, saya sedang bahagia karena masakan saya di bilang enak oleh tuan. " Ucap pelayan berkelit
"Oh, begitu. " Ucap Niken polos.
"Niken, ku antar kamu ke kampus ya. " Ajak Gio.
"Eh.. iya mas. Makasih udah mau ngantar." Ucap Niken canggung.
"Kan aku suami mu, sudah sepantasnya memang melakukan ini. " Ucap Gio sambil tersenyum.
Mereka menuju ke kampus tempat Niken kuliah.
Setelah itu Gio menuju kantor SB tempat nya bekerja.
Sepanjang jalan ia memikirkan kejadian semalam, tersenyum sendiri. Membayangkan wajah Niken.
Rega yang masih menyetir melihat dari kaca spion tuannya yang sedang bahagia.
Rega berkata" Tuan sudah sampai. "
Namun Gio tak menjawab.
"Bos." Rega memanggil tuannya lagi.
"Hah.. kamu mengganggu saja aku
berkhayal! " Dengus nya kesal.
"Maaf bos. tapi sudah sampai perusahaan bos. " Rega membukakan pintu mobil untuk bos nya.
"Bilang dong kalau sudah sampai! " Gio turun dari mobil.
"Tadi saya sudah mengatakan nya, tapi tuan tak menjawab panggilan saya. " Ucap Rega menjelaskan
"Ya sudah. Ayo kita masuk. "
Mereka memasuki Perusahaan SB yang bergerak di bidang persawitan. Buah sawit yang di kelola oleh perusahaan SB milik Gionino adalah cabang dari perusahaan SBH milik Pak Handoko.
Gio merintis dari nol perusahaan itu hingga sekarang hampir setara nilai nya dengan perusahaan milik ayah Gio.
Pak Handoko orang berprinsip, meskipun Gio anak tunggal tapi ia selalu mengajarkan anak nya itu untuk mandiri.
...----------------...
...****************...
*Akhirnya Niken dan Gio merasakan malam pertama, meskipun harus bertengkar dulu, tapi hubungan tak akan indah jika tanpa pertengkaran di dalam nya,. *☺
Next.
__ADS_1