Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Terusik


__ADS_3

Gio menceritakan kejadian yang menimpa Niken pada Handoko. Ayah Gio sontak kaget mendengar cerita anaknya, bagaimana mungkin keluarga terpandang seperti keluarga Pak Handoko bisa di ancam dan di permainkan oleh orang lain.


"Berani-beraninya mengancam keselamatan keluarga ku, apa mereka sudah bosan hidup,belum tau siapa keluarga Handoko rupanya." Ucap Pak Handoko bangkit dari duduknya lalu berkacak pinggang


"Yah... Tidak ada gunanya marah sekarang. Kita harus menemukan pelakunya secepat mungkin. Menurut kalian siapa pelakunya?" Gio menarik pelan ayah nya untuk duduk kembali


"Ayah juga tak tau, CCTV-nya juga sudah di rusak. Sulit untuk melacak keberadaan mereka." Ucap Pak Handoko resah


"Ibu merasa seperti kelakuan orang yang sangat dendam pada mu Gio." Bu Meli ikut menerka itu semua perbuatan orang yang sangat membenci Gio.


"Benar sekali Bu, tapi siapa. Jika mengikuti perkembangan polisi akan lama proses nya. Ayah kau kan memiliki banyak koneksi, kita pergunakan untuk menekan supaya pelaku bisa cepat keluar." Ucap Gio


"Kau masih ingat ucapan ayah dan ibu sewaktu kau menyiksa Adelia setelah mencampakkan mu? Aku rasa ini adalah perbuatan ibunya." Ucap Pak Handoko dengan yakin Gio berpikir dengan dugaan yang di lontarkan ayahnya.


Tapi bagaimana mungkin jika itu Adelia yang melakukan, jelas-jelas dia sudah dimakamkan beberapa bulan yang lalu, jika itu benar Ibu Mia juga tapi mengapa bisa setega itu menyakiti Niken yang juga tak luput dari ancamannya.


"Tapi Niken adalah anaknya, kenapa dia mempergunakan Niken juga, Yah. Itu tak mungkin ada ibu yang setega itu pada anaknya." Gio masih ragu dengan dugaan ayahnya.


"Sudah malam besok kita bicarakan lagi. Gio juga butuh istirahat kan." Ucap Bu Meli melihat Gio terlihat lelah.


"Iya, bu. Tahu saja apa yang di butuhkan anaknya." Gio memang lelah, sepulang dari luar kota ia belum istirahat. Perbincangan itu di akhiri begitu saja tanpa ada hasil.


Malam ini Gio dan Niken bermalam di rumah ayahnya. Sudah larut malam namun Gio belum bisa memejamkan matanya Ia malah duduk di tepi ranjang tidur nya Gio melihat Niken menggeliat dan membuka mata pelan.


"Mas... Ini dimana, seperti bukan kamar kita?" Tanya Niken melihat sekeliling seperti asing baginya.


"Ini kamar ku dulu waktu masih tinggal bersama orang tua ku." Ucap nya mengelus puncak rambut Niken. Niken terperanjat lalu segera mengganti posisi menjadi duduk.


Ia menatap Gio, bagaimana bisa ia sampai di kamar ini, sedangkan tadi masih tertidur di mobil. Pasti suaminya sudah menggendong hingga kemari dan dilihat oleh mertuanya, betapa malu nya Niken


"Ah... Lalu kau menggendong ku kemari dan dilihat ayah juga ibu mu?" Tanya Niken matanya terbelalak, dengan dijawab anggukan oleh Gio.


"Ehm... Betapa malu nya aku...." Niken melungkup wajahnya yang merah karena malu.


"Kenapa harus malu, kau kan istri ku sudah sewajarnya aku memperlakukan mu dengan baik." Gio menarik lembut tangan Niken dan menempatkan di dada nya.

__ADS_1


"Tapi mas, kenapa kita tak pulang saja ke rumah?"


"Di rumah sedang tak aman. Rega juga sedang di rumah sakit. Jadi aku membawa mu kemari untuk sementara tinggal disini dulu, sampai menangkap pelaku teror itu Niken."


"Lalu apakah disini juga aman mas?"


Gio mengajak Niken ke atas balkon rumah orang tuanya. Ia memperlihatkan beberapa orang penjaga yang berada di rumah orang tuanya. Setiap sudut rumah orang tua Gio juga ada CCTV lebih canggih dan aman dari rumah Gio sendiri.


"Kau sudah paham kan?" Niken mengangguk pelan.


Mereka berpelukan di tepi balkon rumah untuk menghilangkan penat yang menumpuk di otak nya. Kejadian itu benar-benar menguras tenaga dan pikiran.


...----------------...


Pagi menjelang siang datang.


Pak Joko sudah beberapa hari tak pulang ke rumah nya. Semenjak kematian Adelia Ia sering minum alkohol untuk menenangkan pikiran. Sementara Anton masih terpuruk dengan kematian Adelia, Sedangkan Bu Mia Ia setiap hari kerjaannya marah-marah pada Maid nya.


"Dasar bodoh! Masak begini saja tak bisa. Cuih... rasanya tak enak! " Mengatakan dengan suara yang keras.


"Ma... maafkan saya Nyonya." Maid itu ketakutan mendengar majikannya yang berkata kasar dengan menghina masakannya.


"Ugh... Dasar nenek tua, aku tak tahan jika begini terus, lebih baik aku pergi dari sini." Gumam Maid di dalam kamar lalu membereskan baju diam-diam lalu kabur dari rumah majikannya.


Setelah sampai dijalan komplek Maid itu bertemu seseorang yang sedang mencari keberadaan Niken. Pria itu tampan dan modis.


Rendra memberhentikan MoGe nya dan bertanya pada seseorang wanita yang tengah menunggu angkot lewat.


"Permisi, Bu. Apakah anda mengenal wanita yang ada di foto ini? Katanya rumah nya di komplek sini, apa ibu pernah melihat nya." Menunjukkan foto Niken


"Loh... bukannya ini Non Niken ya." Melihat sekilas lalu menerka foto itu adalah Niken


"Oh... Ibu mengenal nya juga." Rendra memilih orang yang tepat untuk bertanya.


" Tentu saja, dia adalah anak majikan ku bekerja tadinya tapi sekarang saya sudah tak bekerja disana,lebih tepatnya mantan majikan." Ucap Maid yang antusias

__ADS_1


"Kenapa menjadi mantan majikan, Bu?" Rendra bertanya dengan muka penasaran


"Saya barusan kabur diam-diam, tak kuat dengan sikap Bu Mia itu ibu nya Non Niken. Semenjak kematian Anak pertama nya keluarga itu jadi hancur, Den(Sebutan untuk anak majikan) Kalau boleh tau nama Aden ini siapa ya, dan kenapa mencari Non Niken? " Tanya Maid itu.


"Saya temannya, dan nama saya Rendra, Bu. Saya mencarinya hanya ingin memberikan tugas yang di titipkan pada saya oleh dosen Niken, Bu." Memperlihatkan beberapa kertas di map.


"Oh... Ternyata temannya, Kalo Aden mau mencari Non Niken sebaiknya kerumah suaminya saja Den." Maid itu memberi saran


"Saya sudah kesana Bu, tapi orang nya tak ada di rumah. Ponsel nya juga tak bisa di hubungi." Menatap layar ponsel nya


"Em... Saya juga gak tau kalo selain di sana mungkin sedang pergi dengan suaminya Den, oh ya Saya permisi dulu ada urusan." Rendra mengangguk lalu Maid itu pergi dengan menggunakan angkot yang sudah di berhentikan nya.


Rendra menyala kan motor nya dan ragu menuju rumah orang tua Niken yang sudah di berikan alamat nya oleh Maid tadi.


Terlihat rumah yang sepi penghuni, Rendra mencoba mengetuk pintu rumah itu.


Tok tok tok.


"Permisi!!! "


Tak lama kemudian pintu itu terbuka, Seorang wanita tengah usia dengan wajah kusam melihat Rendra dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Cari siapa ya, Dek?" Tanya Bu Mia


"Saya mencari Niken, Bu. Niken nya ada?"


"Heh... Anak sial itu. Dia tak ada disini! Sebaiknya kamu pergi saja." Bu Mia mengusir Rendra pergi mendorong nya lalu menutup kasar pintu.


Brakkk.


Rendra mengelus dada melihat perlakuan kasar orang tua Niken.


Dengan langkah malas Rendra berjalan. Dia melanjutkannya perjalanan nya mencari Niken.


Di persimpangan tak sengaja Rendra menabrak mobil seseorang.

__ADS_1


Graakkkk.


...----------------...


__ADS_2