
Sudah satu minggu berlalu, Gio mengajak Niken untuk menemui Bu Sri untuk menanyakan tentang ibu kandung Niken.
Saat di perjalanan menuju rumah Bu Sri, Niken mengalami keram di perutnya ia merasakan sakit yang sangat hebat. Hingga darah segar mengalir dari jalan lahir Niken.
"Mas ... aduh Pe-perut ku sakit" Niken mengaduh kesakitan.
"Sayang kamu kenapa? Dan kenapa ada darah banyak sekali?" Gio terkejut dan panik melihat istrinya kesakitan dan ada bercak darah di daster istri nya.
"Apa aku akan melahirkan, ya Mas?" Niken sempat bertanya dengan mengigit bibirnya sendiri menahan sakit.
"Tapi dokter bilang- " Belum selesai Gio berucap Niken malah tak sadarkan diri, Membuat Gio semakin panik lalu menyuruh pak Ujang memutar balikan mobilnya untuk mengantar Niken ke rumah sakit.
Pak Ujang lalu menancapkan gas mobil melaju dengan cepat, Rega yang duduk di sebelah bangku supir pun khawatir melihat istri tuannya yang wajahnya mulai memucat.
"Cepat, Pak Ujang. Kasihan Nyonya Niken, itu biasanya dinamakan pendarahan menurut yang saya tahu tentang orang hamil di google" Ucap Rega menyuruh mempercepat lagi laju mobil pada pak Ujang.
"Baik, Pak Rega." Ucap Ujang menambah kecepatan mobilnya dengan menginjak gas lebih dalam lagi.
Lima menit kemudian mereka sampai di rumah sakit tujuan mereka.
Setelah Gio melakukan prosedur rumah sakit Niken lalu dibawa ke meja operasi untuk melakukan persalinan mendadak. Tindakan itu di lakukan untuk menyelamatkannya dan juga bayi yang ada di kandungannya. Gio sudah pasrah dengan keputusan dokter untuk mengoperasi istrinya.
"Jika itu demi Niken dan bayiku baik-baik saja. Aku serahkan semua nya pada dokter." Ucap Gio
"Baik, Pak. Silahkan tanda tangan diatas kertas tanda persetujuan operasi ini." Suster memberikan hitam di atas putih untuk di tanda tangani oleh Gio.
Tak henti-hentinya ia berdoa untuk keselamatan istrinya dan juga bayi di dalam kandungan Niken.
Gio duduk di bangku tunggu bersama dengan Rega juga pak Ujang.
Pak Handoko dan Bu Meli juga datang untuk memastikan keadaan Niken begitupun kedatangan pak Joko setelah sebelumnya dikabari oleh Rega.
Bu Meli melihat Gio menangis dengan tangan telungkup pada wajahnya lalu menjatuhkan bokongnya di samping Gio.
"Gio ... Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah persalinan Niken masih sebulan lebih lagi, kenapa bisa sampai di operasi?" Meli bertanya pada Gio
__ADS_1
Anaknya itu tak bisa berkata apa-apa untuk menjawab pertanyaan ibunya Ia hanya menggelengkan kepalanya.
Yang ada di pikiran Gio hanya keselamatan Niken dan bayinya, ia takut jika operasinya gagal tentu saja ia akan sangat terpuruk.
Bu Meli yang tak mendapat jawaban dari anaknya lalu ia menatap Rega yang berada di samping Gio.
Seakan tau maksud ibu Meli, Rega menjelaskan kondisi Niken sebelum masuk rumah sakit dan di operasi.
"Nyonya Niken tiba-tiba mengalami pendarahan saat kami akan menuju rumah Bu Sri, Nyonya Meli." Ucap Rega menjelaskan.
"Bu Sri? Siapa Dia?" Tanya Bu Meli yang belum mengetahui tentang Bu Sri.
"Dia adalah saksi saat ibunya Niken meninggalkannya, Nyonya." Ucap Rega.
"Dimana kau menemukan wanita itu?" Pak Joko ikut bertanya
"Di gang yang pak Joko maksud saat anda menemukan Niken." jawab Rega.
Pak Handoko hanya menyimak.
Lampu merah di atas pintu operasi kini berubah hijau pertanda Niken selesai di operasi persalinan nya, terdengar suara bayi dari dalam ruang operasi tanda jika bayinya sehat. Membuat Gio dan yang lainnya lega mendengar nya.
Seseorang keluar dari ruangan itu.
"Suami ibu Niken." Panggil suster mencari suami pasiennya.
"Iya saya suster" Gio menyambut.
"Saya akan memberi kabar baik dan buruk Pak. kabar baiknya bayi Bu Niken lahir dengan kondisi normal dan sekarang berada di ruangan inkubator sebab kelahirannya yang prematur untuk mencegahnya bayi kedinginan." Ucap Suster
"Dan kabar buruknya apa, Sus?" Tanya Gio dengan wajahnya yang khawatir.
"Kabar buruknya, Bu Niken saat ini sedang koma karena pendarahan hebat menurunkan kesadarannya, Sebenarnya kami sudah berusaha sebaik mungkin untuk sangat berhati-hati dalam menjalankan operasi ini, tapi Kondisi Bu Niken memang sangat lemah." Ucap Suster yang menjelaskan keadaan Niken saat ini.
Gio hanya terduduk lemas mendengar kabar istrinya yang koma.
__ADS_1
"Lalu sampai kapan ia akan sadar dari komanya, Sus?" Tanya Gio yang mulai pasrah akan keadaan Niken.
"Kami tak bisa memastikannya, Pak. Hanya keajaiban yang bisa membuatnya cepat sadar kembali dari komanya. Kalau begitu saya permisi saya harus melanjutkan pekerjaan saya." Ucap Suster itu berlalu dari pandangan Gio.
Gio tak bisa lagi menyembunyikan perasaan kalutnya. Ia menyalahkan diri sendiri karena tak bisa menjaga Niken dengan baik.
"Pria bodoh! Aku memang pria bodoh, menjaga istrinya saja tak bisa." Gio meratapi kebodohannya tak bisa menjaga Niken dengan baik.
"Gio ... Jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini adalah takdir Niken yang harus dilewati nya. Kau harus nya semangat untuk membuat Niken cepat sadar." Ucap Bu Meli menasehati Gio.
"Bagaimana caranya, Bu agar aku bisa bersemangat? Niken sedang koma dan anakku belum pulih dan harus di inkubator, aku sama sekali tak bisa hidup tanpa Niken, Bu! Dan Dia-" Gio tak bisa menahan air mata nya yang tak berhenti mengalir deras
"Aku ingin sendiri! jangan ganggu aku!" Gio lalu beranjak meninggalkan kedua orang tuanya dan mertuanya, Ia pergi dengan perasaan putus asa, Rega hanya bisa mengikuti tuannya itu diam-diam karena takut Gio akan berbuat nekat.
"Gio!" Panggil ibunya yang di abaikan Gio.
"Sudah, Bu. Biarkan Gio sendiri, biarkan ia berlalu pergi mungkin dengan begitu ia akan merasa lebih baik, Lagian ada Rega yang mengawasi Gio. Ibu tenang saja." Ucap Pak Handoko menasehati istrinya agar tak mengganggu Gio yang sedang bersedih.
"Baiklah, Ayah." Ucap Bu Meli menurut nasehat suaminya.
"Sebaiknya kita melihat kondisi Niken sekarang yang berada diruang ICU. Ayo Bu. Mari pak Joko." Ajak Pak Handoko
Mereka menuju ruang ICU bergiliran, Dokter menyarankan penjenguk harus menggunakan pakaian berwarna biru, tudung kepala dan masker yang sudah di siapkan oleh Suster di sana untuk melindungi sterilisasi pasiennya.
Setelah pak Handoko dan Bu Meli keluar, kini tiba giliran pak Joko yang masuk.
Ia tak tega melihat kondisi Niken yang di pasangi berbagai alat ditubuhnya. Air mata menetesi pipi di tulang keriput pak Joko.
"Anakku yang malang, Begitu banyak peristiwa pedih yang kau alami, Nak. Ayahmu ini hanya bisa mendoakanmu agar kau cepat sadar dan berlalu dari nasibmu yang malang" Ucap Pak Joko mengasihani dan mendoakan Niken yang matanya masih terpejam.
Apa yang dipikirkan Gio, Mengapa ia tak menemui istrinya yang sedang koma, ia malah berlalu dengan kekecewaan di hatinya. Sudah seperti putus harapan, Rega terus mengikuti langkah Gio, ia penasaran kemana langkah Bosnya itu akan berhenti.
Ternyata Gio berhenti di depan ruangan yang bertuliskan ...
...----------------...
__ADS_1
*Seseorang tolonglah dia, kuatkan perasaannya agar mampu melewati masa dimana ia sedang putus harapan.*