
"Iya!!! Aku mentalak mu, Niken!" Bentaknya Gio lalu berdiri dari duduknya dengan senyuman yang tersungging dari salah sudut bibirnya penuh dendam.
"Tapi kenapa, Mas? Hiks... Hiks....
Baru saja kita kehilangan anak kita, tapi kenapa sekarang kau malah ingin berpisah dengan ku! Apa kau tak tau bagaimana perasaanku sekarang ini, Mas?" Tanyanya dengan nada tersedu-sedu.
"Heh... Aku tak peduli dengan perasaan mu, Niken! Yang ku mau kita berpisah sekarang juga!" Tegasnya.
'Oh... Betapa hancurnya hatiku menjadi berkeping-keping. Inikah sifat pria yang aku cintai, hanya karena tak kesengajaan yang ku lakukan menjadikan alasannya untuk berpisah dengan ku.' Batin Niken tercabik-cabik.
"Bagus, Gio. Ibu setuju dengan keputusan mu, Kau mengambil keputusan yang benar. Niken memang bukan istri dan ibu yang baik, dan sebaiknya kalian berpisah saja." Timpalnya Bu Meli mempengaruhi Gio.
"Tapi ini bukan keputusan yang bisa di ambil saat emosi. Kau pikirkan dulu apa yang menjadi keputusanmu itu, jangan sampai kau menyesal nanti." Nasihat pak Handoko.
"Tidak, Ayah! Aku sangat tak akan menyesal jika berpisah dengan Niken. Hal Ini sudah ku pikirkan sangat lama, sebelum kejadian ini terjadi." Gio.
Pak Joko hanya bisa terdiam, ia sama sekali tak bisa berucap, Sebab ia melihat kekecewaan yang terpancar dari sorot mata Gio terhadap Niken.
"Tapi aku sangat mencintaimu, Mas. Apa kau lupa dengan hari-hari yang selama ini sudah kita lewati bersama?" Niken mengingatkan Gio kebersamaan yang pernah ia lalui bersamanya
Gio mendengus sebal mendengarkan ucapan Niken.
"Huh! Cinta kau bilang? Kebersamaan apa yang membuat kehilangan anakku yang tercinta! Iya, Ha?" Gio kembali menunjukan kemarahannya.
"Sebaiknya sekarang kau pergi dari rumah ku ini! Aku sudah muak dengan segala hal yang menyangkut dirimu!" Timpalnya dengan mengusir Niken keluar dari rumahnya.
Pak Joko merasa Gio sudah sangat keterlaluan terhadap anaknya lalu mengatakan kekecewaannya di depan besannya
"Gio! Kamu benar-benar sangat keterlaluan! Beraninya kau mengusir keluar anakku selagi di depan matamu ada mertua yang menjadi bagian hidupnya." Pak Joko menjadi emosi.
"Kau bukan orang tua kandung nya. Jadi jangan sok berlagak menjadi orang tuanya!" Gio
"Kurang ajar kamu, Ya!" Pak Joko hampir melayangkan bogem mentahnya pada Gio, namun di tahan oleh Niken.
__ADS_1
"Jangan, Ayah! Sebaiknya kita pergi sekarang, Jangan mengotori tangan ayah dengan memukul seseorang yang sudah buta mata hatinya." Ucap Niken pada Ayah-nya dengan menyindir sikap Gio terhadap nya.
"Tapi, Niken. Gio hanya sedang emosi, tolong kalian jangan pergi dulu. Kita selesaikan masalah ini dengan baik-baik." Ucap Pak Handoko menengahi,
Sebenarnya pak Handoko tak ingin jika Gio dan Niken berpisah, sebab Gio yang dulu egois yang juga suka seenaknya sendiri mengambil keputusan pernah berubah baik saat bertemu Niken. Meskipun saat sekarang sifat aslinya muncul kembali.
"Ayah! Kenapa ayah menahan mereka pergi? Aku sama sekali sudah tak ingin hidup bersama Niken, Jadi biarkan mereka pergi!" Ucap Gio.
"Benar, Ayah! Biarkan mereka pergi! Gio bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada, Niken!" Tambahnya Bu Meli menambah sakit hati yang di rasakan Niken.
"Bu. Aku tau mas Gio bisa mendapatkan wanita yang lebih dari pada aku! Tapi apa anda tau, jika menjanda adalah gelar yang sangat mengandung aib. Seharusnya Ibu tau itu, karena kita sama-sama wanita." Niken pada Bu Meli
"Hey, Niken! Aku takkan melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan! Jadi kita itu tak sama! Ingat itu,ya" Bu Meli dengan ucapan nyelekit.
Perseturuan itu semakin sengit, Gio tetap ingin berpisah dengan Niken dan Bu Meli mendukungnya,
Sedangkan Pak Handoko ingin Gio memikirkan kembali keputusannya, karena takut anaknya itu akan menyesal nanti, Jika mengambil keputusan yang salah.
Niken akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah itu.
"Pergilah! Dan tunggu surat perceraian itu aku kirim padamu" Ucap Gio mengusirnya dan memberikan ultimatum.
"Ayo, Ayah. Kita pergi." Ajak Niken pada pak Joko dan mengikuti langkah Niken.
Niken dan Ayahnya melangkah pergi ke luar rumah itu dengan langkah malas.
Baru beberapa langkah mereka berada di pelataran rumah Gio,
"Tunggu!" Panggil nya
Niken merasa sedikit senang, suaminya memanggilnya kembali.
Namun yang di kira Niken, Gio akan menahan kepergian nya,
__ADS_1
Nyatanya malah melemparkan pakaian dan koper milik Niken, hingga berhamburan di pelataran rumah Gio.
Sungguh sikap yang tak terpuji.
"Benar-benar keterlaluan kau Gio. Pria kasar tak punya perasaan!" Pak Joko menghardik Gio, dan tak menghiraukan ucapan nya.
Malah menyuruh Niken memungut pakaian yang di lempar olehnya.
"Bawa baju-baju mu itu! Aku tak sudi pakaian mu mengotori rumah ku lagi!" Titah Gio pada Niken
Niken memungut pakaian itu dan memasukkan nya kedalam koper miliknya. Tak terasa air mata terus menetesi pipinya.
Tiada kata yang terucap dari bibir Niken, dalam benaknya itu semua adalah memang kesalahannya sendiri karena tak bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga kecilnya.
Tapi apakah kesalahan nya tak bisa di maafkan?
Setelah itu Niken dan ayah nya pergi meninggalkan kediaman Gio. Anak buah Gio yang melihat kejadian itu hanya menunduk dan tak mampu bertanya saat Niken dan ayahnya melintasi di depan mereka.
Niken dengan perasaan yang sangat sulit di utarakan,'Mengapa- mengapa semua ini terjadi padaku, Tuhan! Aku bukan menyalahkan takdir! Namun mengambil takdir ku penuh dengan kesedihan.' Batin Niken bergejolak
Kekecewaan yang mendalam pada perasaan pak Joko, orang tua mana yang tega melihat anak perempuannya di perlakukan tak baik oleh Menantunya di depan matanya sendiri.'Kasihan Niken sedari kecil belum pernah merasakan kebahagiaan yang hakiki, kini malah kesakitan yang ia alami sekarang hingga bertubi-tubi' Batin Pak Joko
Di dalam mobil pak Joko yang ia tumpangi sepanjang perjalanan Niken hanya terdiam seribu bahasa.
Hanya bisa merenungi nasib yang menimpa dirinya sekarang.
Pak Joko melirik sekilas anaknya itu, dan memberikan semangat untuk nya. Agar kesedihan yang tersirat di raut wajahnya bisa berkurang sedikit.
"Ayah senang, kita bisa berkumpul lagi seperti dulu, nak. Kau akan tinggal bersama ayah sekarang." Ucap Pak Joko lalu tersenyum.
"Iya, Ayah. Aku juga." Senyuman getir terukir dari sudut bibir Niken.
"Ambil sisi positif nya. Kamu tak perlu mengurusi pria jahat seperti Gio lagi." Tambahnya pak Joko.
__ADS_1
Niken hanya menganggukkan kepala nya dan menyenderkan pada jendela kaca mobil yang melaju pelan.
Masihkah Niken bisa bertahan dengan cobaan yang ia lalui saat ini. Mungkinkah keadaan ini akan mengembalikan luka lama yang pernah terukir sebelum nya.