Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Prank


__ADS_3

"Ada apa ini...! Kenapa tegang sekali didalam ruangan yang sempit ini?" Pak Handoko yang tiba-tiba datang memecah ketegangan yang terjadi.


Gio melepaskan dekapannya pada Niken.


Ibu Meli terkejut dengan kedatangan suaminya.


"Ayah..." Ucap Niken lirih.


"Tanyakan saja pada Ibu, aku malas berdebat lagi dengan nya." Ucap Gio lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa yang berada di ruangan itu.


Pak Handoko menoleh pada istrinya yang masih terduduk di ranjang pasien.


"Ayah sudah pulang, kapan ayah sampai bandara kenapa tak bilang ingin di jemput, dan ayah tau dari mana ibu di rumah sakit?" Bu Meli mengalihkan ucapan dengan menghujani pertanyaan pada suaminya.


Gio semakin kesal dibuat nya. Ia lalu menarik lengan Niken untuk duduk di samping nya agar ayah nya bisa duduk di samping bangsal ibunya, Niken hanya menurut, ia masih bingung harus mengatakan apa semua ini memang sudah menjadi nasibnya bila ia harus berpisah dengan Gio.


" Gio yang mengabari lewat chat pribadi di WA Ayah. dan Ayah khawatir dengan keadaan kamu, Bu. Jadi ayah meninggalkan pekerjaan ayah untuk sementara di reschedule dulu. Dan ayah bisa kembali ke Indonesia sementara waktu ini. Oh ya, Ayah dengar dari Rega semua bukti sudah terkumpul dan polisi sudah menangkap pelakunya, Apakah itu benar, Gio?" Tanya pak Handoko pada Gio.


"Itu benar, Yah. Dan hal itu juga yang sedang kami perdebatan. Ibu tak ingin Niken bersama dengan ku dan ibu juga membandingkan perasaan ku pada Adelia dan Niken sekarang, Ibu sangat keterlaluan!" Ucap Gio lalu menghampiri kedua orang tuanya.


Bu Meli memberi kode dengan mengedikkan kedua bahunya.


"Ibu tak mengatakan hal itu pada mu, kau saja yang terlalu takut kehilangan Niken. Jadi mengada-ada ucapan seperti itu." Ucap Bu Meli tak merasa bersalah sedikit pun dengan ucapan nya tadi yang nyelekit.


"Haha... sudah sudah capek aku akting nya. Kamu Gio seperti tak mengerti watak ibu mu seperti apa. Bahkan tak bisa membedakan mana yang serius dan bercanda." Ibu Meli tertawa terpingkal-pingkal, Gio menautkan kedua alisnya, Niken melongo dengan ucapan mertuanya itu dan Pak Handoko semakin bingung dengan tingkah istrinya itu.


"Jadi ibu hanya akting?" Tanya Gio dengan sorot mata terheran-heran.


"Iya... Ibu hanya akting. Kamu percaya jika ibu ini sejahat itu. Sungguh bukan anak kandung Ibu." Ibu Meli menunjukkan muka sedihnya. Niken tersenyum getir mendengar ucapan mertuanya yang hanya bermain-main tentang menyebutkan Niken anak pembunuh. Sebenarnya dalam hati Niken ingin menenggelamkan diri agar lupa akan hal itu, Namun tak di pungkiri ucapan nya sudah merasuk ke hati Niken. Sedangkan itu adalah kenyataan bahwa ibunya memang seorang pembunuh.


Gio melihat sorot mata Niken yang kecewa, ia menengadahkan wajahnya Niken yang tertunduk dihadapannya.


"Apa yang ibu katakan hanya bercanda sayang. Kenapa kamu masih sedih, dengan begitu orang tua ku tak ada masalah dengan status orang tuamu sekarang." Ucap Gio berniat menenangkan hati Niken.

__ADS_1


"Maafkan Ibu ya Niken. Ibu gak bermaksud untuk membuat mu sedih. Ibu hanya ingin seperti istilah anak muda jaman sekarang itu lo... Namanya nge-prank, iya itu maksudnya ibu." Ucap Bu Meli dengan tersenyum berharap Niken mengerti maksudnya.


"Iya. Gak apa-apa, Bu. Niken maafkan" Ucap Niken namun dalam hatinya masih ada kejanggalan.


"Lain kali jika ingin melakukan itu, rencanakan juga dengan ayah dong bu. Biar sama-sama kita bisa tertawa." Ucap pak Handoko yang ingin ikut andil mengerjai menantu dan anaknya.


Setelah itu Gio dan Niken pamit untuk pulang, karena kondisi ibu Meli membaik dan juga sudah pak Handoko yang menjaganya.


"Ayah ibu. Kami akan pulang, sekarang 'kan ibu sudah baikan dan ada ayah juga menjaga."


"Oh... baiklah... Hati-hati dijalan. Dan Niken jaga kandungan mu ya jangan sampai kelelahan. Oh ya. Tadi belanjaan kita sudah sampai rumah belum, Nak?" Tanya ibu Meli pada Niken.


"Sudah, Bu. Mungkin truknya juga sudah pulang dari mengantarkan barang kita." Jawab Niken


"Sampai truk yang membawa belanjaan kalian ini membeli apa saja?" Tanya Pak Handoko terheran dengan apa yang di belanjakan kedua wanita beda generasi itu hingga mengirim nya menggunakan truk.


"Ayah tak perlu tau. Okey!" Ucap Bu Meli Lalu menyuruh menantu dan anaknya pulang.


Setelah menempuh jarak 15 menit mereka sampai di rumah Gio. Niken masih terdiam sedari tadi sejak masuk mobil hingga di rumah ia tak mengatakan sepatah kata pun, membuat Gio gundah.


"Itu untuk bayi kita nanti, Sayang?" Gio menunjuk salah satu baju yang berada di bag paper tepat di hadapan Niken.


"Iya" Menjawab sekilas dan menuju salah satu kamar tempat untuk meletakkan perlengkapan bayi. dengan luas kamar sekitar 10 meter persegi ia bagi dua. Sebelah kiri ia susun dengan warna pink. Kusus untuk bayi perempuan, dan sebelah kanan warna biru untuk bayi laki-laki.


Gio mengikuti Niken melangkah ke kamar itu.


"Kamar disini 'kan banyak, kenapa harus membagi dua kamar ini?" Tanya Gio, Niken memutar bola matanya malas menjawab nya.


"Apa Kau marah pada ku, Niken?" Gio menarik lengan istrinya yang masih asyik dengan mainan bayi.


"Apa sih mas? Aku gak marah kok. Gak usah tarik-tarik." Niken menggerutu.


"Lalu jika kamu tak marah, kenapa kamu mengabaikan aku sekarang, Hem?" Gio menangkup kedua pipi Niken mengarahkan ke wajahnya membuat Niken jadi menatap mata Gio. Mereka saling bertatapan, namun Niken teringat ucapan mertuanya tentang Gio pada Adelia dulu membuatnya kesal.

__ADS_1


"Huh... Jangan suka menatap ku mas, Nanti jatuh cinta beneran lagi sama aku." Ucap nya ketus.


Gio mengernyitkan dahinya bagaimana bisa istri yang jelas ia cintai bisa berkata seperti itu padanya.


"Kamu mau mas jitak apa gimana, bisa-bisanya kamu bilang begitu pada ku. Memang kurang jelas kalau aku memang sudah beneran jatuh cinta pada mu. Apa itu tak bisa kamu rasakan, ha?" Ucap Gio lalu ******* bibir Niken yang mecucu ke arah nya dan meraba dada Niken yang mulai montok berisi karena sedang hamil.


Niken melotot mendapatkan ciuman suaminya karena terkejut.


Gio melepaskan aktivitas nya karena melihat istrinya terkejut.


"Kenapa sekaget itu, bukankah kita sudah sering melakukannya?" Ucapnya tak sadar bahwa perbuatan nya sudah di lihat oleh bibi pelayan. Dan itu di sadari oleh Niken sebelum Gio menyadarinya.


"Ma_maaf tuan dan nyonya saya tak sengaja, dan saya gak lihat apa-apa kok. Saya permisi ke dapur dulu." Ucapnya lalu dijawab anggukan oleh Gio.


"Hei... Tunggu! " Teriak Gio pada pelayan itu lalu menghentikan langkah kakinya.


Pelayan itu ketakutan seperti akan mendapatkan teguran dari tuannya.


"I_iya tuan ada apa?" Jawanya ketakutan.


"Lain kali jika ingin masuk ke kamar manapun kau harus ketuk pintu dulu. Ingat itu!" Gio memberi peringatan pada Pelayannya.


"Baik, tuan. Saya permisi." Ucapnya pelayan lalu menundukkan kepalanya.


Pelayan itu melenggang pergi meninggalkan Gio dan Niken yang masih berdiri disana.


"Yang... Itu kamu gedean deh... Mas suka." Gio membisikkan kata-kata itu langsung ke telinga Niken membuat si pemilik telinga menjadi kegelian dan kembali menyentuh gunung kembar milik Niken.


"Apaan sih, mas... Jangan aneh-aneh ngomong nya." Ucapnya menikmati sentuhan Gio yang lembut. Gairah Gio semakin membara melihat Niken juga merespon sentuhan nya. Mereka bercumbu menikmati indahnya surga dunia.


Sementara di kantor polisi Bu Mia minta pak Joko untuk membantunya keluar dari sel tahanan. Ia tak tahan dengan perlakuan kasar yang di Terima nya saat di sel tahanan sementara.


"Ayah akan bantu sebisa nya. Tapi aku tak menjamin kebebasan mu, karena kesalahan mu ini sangat fatal. Bu" Ucap Pak Joko memberi pengertian pada Istrinya.

__ADS_1


*Penyebab utama aku mengenalmu adalah karena takdir*


...****************...


__ADS_2